Posts Tagged sunnah

Membangun Rumah di Surga

Dari  Ummu Habibah Radhiallahu’anha, beliau mengatakan; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa shalat dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga”

 

 Ummu Habibah berkata;

فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 “Maka aku tidak akan meninggalkan dua belas rakaat itu semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

 

Dan Anbasah juga berkata;

عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ

“Maka aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Ummu Habibah”.

 

Dan ‘Amru bin Aus juga berkata;

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ

 “Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Anbasah”.

 

Nu’man bin Salim juga berkata;

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ

“Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari ‘Amru bin Aus”

 (Lihat Shohih Muslim, hadits no. 728)

 

Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ، بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ، أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

 “Barangsiapa menjaga dua belas raka’at shalat sunnah maka akan dibangunkan baginya rumah di surga; empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelah zhuhur, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya dan dua raka’at sebelum fajar” (HR. Ibnu Majah no. 1140)

 

Wallahu A’lam

 

Iklan

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

CIRI-CIRI GOLONGAN YANG BENAR DAN SELAMAT

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ» ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «الْجَمَاعَةُ»

Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka, Ditanyakan kepada beliau, Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Al-Jamaah.(HR. Ibnu Majah no. 3992)

Al-Jama’ah adalah satu-satunya golongan yang selamat dari ancaman neraka, berikut ciri-ciri dari golongan tersebut:

Pertama, senantiasa setia berpegang teguh dengan manhaj (jalan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam hidupnya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

Sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat (apabila berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku” (Mustadrak ‘ala Shohihain no. 319)

Kedua, mereka akan selalu kembali kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya, tatkala terjadi perselisihan di antara mereka, sebagai realisasi dari firman Allah:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

… Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S An-Nisa: 59)

Ketiga, golongan yang selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas firman Allah dan sabda Rasul-Nya, sebagai realisasi dari firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S Al-Hujurat: 1)

Keempat, mereka senantiasa menjaga kemurnian tauhid, sebagai realisasi dari firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…” (Q.S An-Nahl: 36)

Kelima, ciri golongan yang selamat adalah mereka senang menghidup-hidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya. Tapi jumlah mereka sedikit.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma, Rasul Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “، فَقِيلَ: مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” نَاسٌصَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “

Beruntunglah orang-orang yang asing, beruntunglah orang-orang yang asing, beruntunglah orang-orang yang asing”. Dikatakan: “Siapa orang asing itu wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang sholeh di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang mentaati mereka” (HR. Ahmad dalam Musnad Ibnu Umar)

Keenam, golongan yang selamat tidak fanatik kecuali kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya yang makshum (dijaga dari dosa), yang berbicara tidak berdasarkan nafsu. Adapun selain daripada itu, perkataannya bisa ditolak dan diterima.

Imam Malik Rahimahullah berkata:

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“’Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shollallohu alaihi wa sallam” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/91)

Ketujuh, golongan yang selamat adalah mereka yang selalu menyeru kepada kebaikan dan mencegah daripada kemunkaran.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

 “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim no. 49)

Kedelapan, golongan yang selamat mengingkari peraturan dan perundangan yang dibuat manusia jika bertentangan dengan ajaran Islam.

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طاَعَةَ لِمَخْلُوقٍِ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

 “Tidak boleh mentaati makhluk, dengan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla” (HR. Ahmad dalam Musnad Ali bin Abi Thalib)

 Kesembilan, golongan yang selamat adalah mereka yang mentaati pemerintah yang sah, selama pemerintah tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam

Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Hendaknya kalian mendengar dan taat, meskipun yang menggunakan (berkuasa) atas kalian seorang hamba sahaya dari Habasyah” (HR. Bukhari no. 7142)

Ciri yang Kesepuluh adalah mereka banyak dimusuhi, difitnah, dilecehkan dan digelari dengan sebutan yang merendahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Q.S Al-Muthaffifin: 29-36)

Semoga kita termasuk dalam golongan ini

***Wallahu A’lam***

, , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Jangan Mencela Penuntut Ilmu

Image

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat, apa yang ada di dalamnya pun terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah, melakukan perbuatan yang diridhai­Nya. orang yang pandai, dan orang yang belajar (terpelajar) ” (HR. Tirmidzi no. 2322; Ibnu Majah no. 4112)

عن معأوية بن قرة قال قال أبو الدرداء اطلبوا العلم فان عجزتم فاحبوا أهله فان لم تحبوهم فلا تبغضوهم

Dari Mu’awiyah bin Qurrah, Abu Darda Radhiallahu’anhu berkata: “Tuntutlah ‘ilmu. Jika kalian tidak mampu menuntut ‘ilmu, maka cintailah pemilik ‘ilmu, dan jika kalian tidak mencintai mereka maka janganlah kalian membencinya” (Shifatus Shohwah, Imam Ibnul Jauzi)

Abu Darda Radhiallahu’anhu berpesan:

كن عالما أو متعلما أو مستعلما أو محبا ولا تكن الخامس فتهلك وهو الذي لا يعلم ولا يتعلم ولا يستمع ولا يحب

“Jadilah alim  (orang yang berilmu), muta’allim  (orang yang menuntut ilmu), mustami’ (orang yang mendengar iimu), atau muhibb  (orang yang mencintai ilmu). dan jangan menjadi orang kelima sehingga kamu celaka. Dia adalah orang yang tidak berilmu, tidak belajar, tidak mendengar, dan tidak pula mencintai orang yang berilmu.” (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka terhadap orang yang menuntut ilmu.” (HR. Abu Dawud no. 3641; Tirmidzi no. 2682; Ibnu Majah no. 223)

Berkenaan dengan hadits di atas, ada sebuah kisah menarik:

Dari Abu Yahya Zakariya bin Yahya As-Saji Rohimahulloh, dia berkata:

كنا نمشي في أزقة البصرة إلى باب بعض المحدثين، فأسرعت المشي، وكان مع رجل ماجن منهم في دينه فقال: ارفعوا أرجلكم عن أجنحة الملائكة لا تكسروها، كالمستهزئ! فما زال في موضعه حتى جفت رجلاه وسقط!

“Kami pernah berjalan di sebuah jalan sempit Bashrah menuju tempat ahli hadits. Kami lantas mempercepat langkah kami. Ketika itu ada bersama kami seorang lelaki yang senang berkelakar tanpa malu yang diragukan keislamannya. Dia berkata: ‘Angkat kaki kalian dari sayap-sayap malaikat, jangan sampai kalian mematahkannya’ (Layaknya seorang yang sedang mengejek). Dia belum berpindah dari tempatnya hingga kakinya mengejang dan dia pun terjatuh” (Bustanul Arifin, Imam An-Nawawi)

-وقال الحافظ عبد القادر: إسناد هذه الحكاية كالأخذ باليدين، أو كرأي العين؛ لأن رواتها أعلام، ورواتها أئمة.

 

Al-Hafizh Abdul Qodir berkata: “Sanad dari kisah ini seperti memegang dengan kedua tangan, atau seperti dilihat dengan kedua mata; karena kemantapan perawinya, perawi kisah ini adalah para Imam”. (Bustanul Arifin, Imam An-Nawawi)

***Wallohu A’lam***

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Akibat Menyepelekan Sunnah Nabi

ImageA

Masih Berani Mencela Sunnah ???

Kisah Pertama

  قَالَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ: أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: «كُلْ بِيَمِينِكَ» ، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: «لَا اسْتَطَعْتَ» ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

Salamah bin Akwa’ berkata: “Pernah ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah dengan tangan kiri. Beliau lantas berkata: “Makanlah dengan tangan kananmu”. Lelaki itu menjawab: “Aku tidak bisa”. Rasulullah berkata, “Mudah-mudahan engkau benar-benar tidak bisa. Tidak ada yang menghalanginya untuk melakukannya kecuali kesombongan”. Salamah berkata: “Kemudian dia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyantap makanan” (Lihat HR. Muslim no. 2021)

Kisah Kedua

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ»

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam melarang seorang minum langsung dari lubang kendi. (HR. Bukhari 5628)

قَالَ أَيُّوبُ: ” فَأُنْبِئْتُ أَنَّ رَجُلًا شَرِبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَخَرَجَتْ حَيَّةٌ “

Ayyub berkata, “Sampai sebuah berita kepadaku bahwa seorang lelaki langsung minum dari lubang kendi, tiba-tiba seekor ular keluar dari lubangnya” (HR. Ahmad no. 7153)

Kisah Ketiga

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَرْمَلَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ يُوَدِّعُهُ بِحَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ فَقَالَ لَهُ: لَا تَبْرَحْ حَتَّى تُصَلِّيَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata: “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin Musayyib mengucapkan salam perpisahan untuk haji atau umroh. Sa’id berkata kepadanya: “Jangan pergi dulu sampai engkau Sholat. Sesungguhnya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

«لَا يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلَّا، مُنَافِقٌ، إِلَّا رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حاجةُ، وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ»

“Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali seorang munafiq. Kecuali seorang lelaki yang dipaksa keluar oleh suatu keperluan dan berniat untuk kembali ke masjid”

فَقَالَ: إِنَّ أَصْحَابِي بِالْحَرَّةِ قَالَ: فَخَرَجَ، قَالَ: فَلَمْ يَزَلْ سَعِيدٌ يَوْلَعُ بِذِكْرِهِ، حَتَّى أُخْبِرَ أَنَّهُ وَقَعَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَانْكَسَرَتْ فَخِذُهُ

Lelaki itu berkata: “Teman-teman saya berada di Hurrah”. Kemudian dia pergi. Sa’id masih saja menyebut lelaki tersebut hingga datang berita bahwa lelaki tersebut terjatuh dari kendaraannya dan pahanya patah” (Kisah ini terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, hadits no. 460; Mushonnif Abdurrozaq no. 1945)

Kisah Keempat

قال القاضي أبا الطيب: كنا في مجلس النظر بجامع المنصور فجاء شاب خراساني فسأل عن مسألة المصراة فطالب بالدليل حتى استدل بحديث أبي هريرة الوارد فيها

Al-Qadhi Abu Thoyyib berkata: “Suatu ketika kami berada di sebuah majlis di Jami;’ Al-Manshur. Datanglah seorang pemuda dari Khurasan. Kemudian dia bertanya tentang masalah ternak yang tidak diperah beberapa hari hingga ambing susunya penuh, dan dia meminta dalilnya. Kemudian disampaikan kepadanya hadits Abu Hurairah yang menyebutkan hal tersebut.

فقال وكان حنفيا أبو هريرة غير مقبول الحديث  فما استتم كلامه حتى سقط عليه حية عظيمة من سقف الجامع فوثب الناس من أجلها وهرب الشاب منها وهي تتبعه  فقيل له تب تب فقال تبت فغابت الحية فلم ير لها أثر  إسنادها أئمة 

Pemuda itu (kebetulan seorang penganut madzhab Hanafi) lantas berkata: “Abu Hurairah tidak diterima haditsnya”. Belum selesai dia berucap demikian hingga muncullah seekor ular besar dari atap masjid. Orang-orang berhamburan karenanya. Pemuda tersebut lari namun ular tersebut terus mengejarnya. Orang-orang berkata padanya: “Bertobatlah!! Bertobatlah!!”. Dia lantas berkata: “Saya bertobat!”. Lalu ular tersebut hilang tanpa bekas, Dalam sanadnya adalah para Imam. (Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi)

Kisah Kelima

قطب الدين اليونيني قال بلغنا أن رجلا يدعى أبا سلامة من ناحية بصرى كان فيه مجون واستهتار

Quthbuddin Al-Yunani berkata: “Telah sampai kepada kami berita seorang lelaki yang dipanggil Abu Salamah dari salah satu daerah Bashrah (Seorang yang suka melawak dan membual).

فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه

Ada seseorang menyebut tentang siwak dan keutamaannya di dekatnya. Lelaki tersebut berkata: “Demi Allah, aku hanya memakai siwak pada duburku”. Kemudian dia mengambil siwakdan meletakkannya pada duburnya lalu mengeluarkannya lagi.

فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه فمكث بعده تسعة أشهر وهو يشكو من الم البطن والمخرج فوضع ولدا على صفة الجرذان له أربعة قوائم ورأسه كراس السمكة وله أربعة انياب بارزة وذنب طويل مثل شبر وأربع اصابع وله دبر كدبر الارنب ولما وصعه صاح ذلك الحيوان ثلاث صيحات فقامت ابنة ذلك الرجل فرضخت رأ سه فمات

Setelah itu dia mengeluhkan rasa sakit pada perut dan anusnya selama Sembilan bulan. Kemudian dia melahirkan sejenis tikus dengan empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan dan pantatnya seperti pantat kelinci. Setelah keluar, hewan tersebut mengeluarkan suara keras sebanyak tiga kali. Anak perempuan lelaki tersebut bangun dan memukul kepala hewan tersebut hingga mati.

وعاش ذلك الرجل بعد وضعه له يومين ومات في الثالث وكان يقول هذا الحيوان قتلني وقطع امعائي

Dan lelaki itu tetap hidup setelah melahirkan hewan tersebut selama dua hari, dan pada hari ketiga dia meninggal dunia. Dia pernah berkata: “Hewan initelah membunuhku dan memotong-motong ususku”.

وقد شاهد ذلك جماعة من أهل تلك الناحية وخطباء ذلك المكان ومنهم من رأى ذلك الحيوان حيا ومنهم من رآه بعد موته وممن توفي فيها من الاعيان

Hewan tersebut sempat dilihat oleh banyak orang dari penduduk daerah tersebut dan para khatib tempat itu. Ada yang melihatnya ketika hewan itu masih hidup dan ada yang melihatnya setelah hewan itu mati. (Al-Bidayah Wa Nihayah; Al-Hafizh Ibnu Katsir)

***Wallahu A’lam***

 

, , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Ekspresi dan Penerapan Cinta Kepada Nabi

Penerapan Cinta Kepada Rasulullah Muhammad Sholallahu’alaihi wa sallam

1. Mencintai Sunnah Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku” (HR. Bukhari, no. 5063; Muslim, no. 1401)

2. Menerima Hadits-hadits Nabi yang Shohih
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya” (Q.S Al-Hasyr: 7)

3. Mengembalikan Setiap Permasalahan Agama Kepada Alloh dan Rasul-Nya
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S Al-Hujuraat: 1)

4. Menimbulkan Rasa Khidmat Ketika Nama Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam disebut
Dalam penafsiran 3 ayat pertama Surat Al-Hujuraat, Hammad bin Zaid berkata: “Aku berpendapat bahwa mengangkat suara atasnya (Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam) setelah wafatnya adalah sama halnya mengangkat suara di masa hidupnya. Jika hadits dibacakan maka wajib atasmu untuk mendengarkan dengan seksama sebagaimana kamu mendengarkan Al-Qur’an” (Siyar ‘Alamin Nubala’, 7/348)

5. Mencintai Orang-orang yang Menerapkan Sunnah Nabi
Orang-orang yang menerapkan sunnah Nabi adalah ahli sunnah atau ahli atsar, sedangkan orang-orang yang membencinya adalah ahli bid’ah. Imam Abu Hatim Ar-Rozi berkata: “Karakter utama ahli bid’ah adalah membenci dan memusuhi ahli atsar, dan karakter utama orang zindiq memberi nama ahli sunnah dengan hasyawi yaitu perusak makna atsar” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, 1/204)

6. Menghidari dan Menjauhi Bid’ah
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka” (HR. Muslim)

Ibnu Umar Rodhiallahu’anhuma berkata: “Tidaklah muncul kebid’ahan melainkan semakin bertambah sesat, dan tidaklah sunnah ditinggalkan melainkan bertambah lari dari kebenaran” (Al-bida’ Wan Nahyu ‘Anha)

Ibnu Abbas Rodhiallahu’anhuma berkata: “Sesungguhnya sesuatu yang paling dibenci Alloh adalah perkara bid’ah” (Syarah Sunnah, Al-Mawardzi)

7. Tidak Berlebihan dalam Menyanjung Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam, akan tetapi katakanlah aku hanya seorang hamba dan utusan-Nya” (HR. Bukhari, no. 3445)

8. Memperbanyak Sholawat atas Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Q.S Al-Ahzab: 56)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Siapa membaca sholawat atasku sekali, maka Alloh bersholawat atsnya sepuluh kali” (HR. Muslim, no. 284)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh celaka bagi seseorang yang disebutkan namaku di sisinya maka dia tidak bersholawat kepadaku” (HR. Tirmidzi, no. 3545; Ahmad, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwa’)

9. Menjaga Kehormatan Para Sahabat Nabi yang Setia
Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“ Janganlah mencaci sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai (pahala) satu mud salah seorang di antara mereka [Sahabat nabi], dan tidak pula (menyamai pahala/ setengahnya” (Mutafaqq ‘alaih; HR. Tirmidzi, no. 3861)

Dalam riwayat lain:
“Bertaqwalah kalian kepada Alloh (saat berbicara) tentang sahabatku, janganlah kalian jadikan mereka sebagai sasaran (hujatan). Siapa yang mencintai mereka (sahabat), maka dengan kecintaanku, aku akan mencintai mereka, siapa yang membenci meeka (sahabat), maka dengan kebencianku aku akan membenci mereka, dan siapa menyakiti mereka (sahabat) maka berarti mereka telah menyakitiku, dan siapa menyakitiku maka telah menyakiti Alloh, dan siapa yang menyakiti Alloh maka hampir-hampir Alloh mengadzabnya” (HR. Tirmidzi, no. 3862, dia berkata hadits ini hasan gharib dan tidak ditemukan jalur kecuali jalur ini, Syaikh Al-Albani melemahkannya)

*** Wallohu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Selamat Datang Asy-Syuro

Tahun telah berganti, Muharrampun telah tiba dan saatnya kita sebagai umat Muslim memasuki tahun ini dengan cara yang baik dan memulainya dengan awal yang baik dengan meningkatkan ‘amal sholeh kita di tahun ini di bulan Muharram ini serta menepis semua pemikiran jahiliah yang mengatakan bahwa “bulan Muharram adalah bulan sial” dan ini adalah pernyataan dusta orang-orang jahiliah terdahulu yang tidak perlu kita ikuti walaupun itu budaya, karena budaya yang bisa dibenarkan adalah budaya yang tidak bertentangan dengan “Syari’at Allah dan Rasul-Nya”. Bahkan Bulan Muharram dan hari di dalamnya memiliki beberapa keutamaan antara lain:

1. Termasuk Salah Satu dari 4 Bulan yang harus dihormati.
Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram” (Q.S At-Taubah: 36)

Ibnu ‘Abbas menyebutkan mengenai ayat 4 Bulan Haram itu adalah bulan Rojab, Dzulqa’idah, Muharram dan Dzulhijjah. (Tafsir Ibnu Katsir)

2. Sebaik-baik Puasa Sunnah Setelah Puasa Bulan Ramadhan
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ، صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ
“… Dan Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa di bulan Muharram” (HR. Muslim, no. 1163)

3. Hari ke-10 (Asy-Syuro) pada Bulan ini Kaum Muslimin diperintahkan Berpuasa Sebelum Puasa Ramadhan Diwajibkan.

Ai’syah Radhiallahu’anha berkata:
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ،، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ هُوَ الْفَرِيضَةُ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Dulu pada hari As-Syuro orang-orang Quraisy zaman jahiliah berpuasa satu hari. Rasulullah juga berpuasa pada hari tersebut pada zaman jahiliyah. Ketika Rasulullah datang ke Madinah, beliau tetap berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa juga. Namun tatkala pada Ramadhan diwajibkan berpuasa, lalu puasa Asy-Syuro ditinggalkan . Orang yang ingin puasa Asy-Syuro dibolehkan, dan yang hendak tidak berpuasa juga tidak apa-apa” (HR. Abu Dawud, no. 2442; Shohih)

4. Hari Asy-Syuro termasuk Hari-hari yang diberkahi Allah
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
هَذَا يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Hari ini (Asy-Syuro) adalah termasuk hari-hari Allah, maka barangsiapa hendak berpuasa diperbolehkan, namun batang siapa tidak ingin berpuasa juga tidak apa-apa” (HR. Abu Dawud, no. 2443; Shohih)

5. Puasa pada Hari As-Syuro Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Abu Qatadah radliyallaahu ‘anhu berkata: “:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura’, maka beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim,no. 1162)

6. Puasa Hari Asy-Syuro Adalah Sunnahnya Nabi Musa ‘alaihissalam

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam datang ke Madinah, lalu beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asy-Syuro, kemudian Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada mereka:
مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟ فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Hari apa yang kalian berpuasa ini?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur, dan kami pun berpuasa pada hari ini.” Kemudian Rasulullah berkata, “Kamilah yang lebih berhak dan lebih utama daripada kalian terhadap Musa”. Maka Rasulullah berpuasa pada hari itu, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa” (HR. Muslim, no. 1130)

7. Anjuran Puasa Hari Asy-Syuro adalah tanggal 9 dan 10 Muharram untuk menyelisihi Umat Yahudi La’natullah
Ketika Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asy-Syuro, beliau juga memerintahkan kami untuk berpuasa pada hari itu, maka para sahabat berkata: “Ya Rasul, itu adalah hari yang dimuliakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani ?. Beliau Sholallahu’alaihi wa sallam menjawab:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ
“Kalau tahun depan kita masih menjumpainya, maka kita akan berpuasa tanggal sembilan” Belum sempat tahun kemudian datang, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam sudah meninggal dunia. (HR. Abu Dawud, no. 2445; Shohih)

Dengan demikian, Bulan Muharram termasuk juga salah satu bulan yang dimuliakan Allah, jika kita mengisi bulan ini dengan ‘amal sholeh. Insya Allah kita akan dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Mulailah tahun baru ini dengan kebaikan, karena kebaikan tahun ini masih bisa menghapus kesalahan tahun yang lalu, asalkan kita mau ber’amal ikhlas dan sesuai tuntunan syari’at.

***Wallahu A’lam***

, , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Oktober 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031