Archive for category Fiqih

Membangun Rumah di Surga

Dari  Ummu Habibah Radhiallahu’anha, beliau mengatakan; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa shalat dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga”

 

 Ummu Habibah berkata;

فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 “Maka aku tidak akan meninggalkan dua belas rakaat itu semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

 

Dan Anbasah juga berkata;

عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ

“Maka aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Ummu Habibah”.

 

Dan ‘Amru bin Aus juga berkata;

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ

 “Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Anbasah”.

 

Nu’man bin Salim juga berkata;

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ

“Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari ‘Amru bin Aus”

 (Lihat Shohih Muslim, hadits no. 728)

 

Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ، بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ، أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

 “Barangsiapa menjaga dua belas raka’at shalat sunnah maka akan dibangunkan baginya rumah di surga; empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelah zhuhur, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya dan dua raka’at sebelum fajar” (HR. Ibnu Majah no. 1140)

 

Wallahu A’lam

 

Iklan

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Hukum Ucapan Selamat Natal

Nabi kita yang Mulia Sholallahu’alaihi wa sallam melarang kita untuk mengucapkan salam kepada kaum Yahudi dan Nasrani berdasarkan sabdanya:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ

“Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani mengucapkan selamat” (HR. Muslim no. 2167)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya (QS. Al-Furqon: 72)

Tentang “Laa Yasyhaduuna Az-Zuur”, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata:

أبو العالية وطاوس وابن سيرين والضحاك والربيع بن أنس وغيرهم هو أعياد المشركين قال

Berkata Abul’ Aliyah, Thowus, Ibnu Sirin, Dhohak dan Ruba’I bin Anas dan selainnya ini maknanya adalah “Hari raya orang-orang musyrik” (Tafsir Ibnu Katsir)

Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah orang-orang kafir saat hari raya mereka” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi)

Dari Atho’ bin Yasar, Umar Radhiallahu’anhu berkata:

إياكم ورطانة الأعاجم، وأن تدخلوا على المشركين يوم عيدهم في كنائسهم

“Jauhilah oleh kalian hari-hari besar orang ‘ajam dan jangan kalian mendatangi hari besar kaum musyrik di gereja-gereja mereka.” (Riwayat Abdurrozaq; Iqtidho’ Shirothol Mustaqim)

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiallahu’anhuma berkata:

مَنْ بَنَى بِبِلاَدِ الْأَعَاجِمِ وَصَنَعَ نِيْرُوْزَهُمْ وَمَهْرَجَانِهِمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوْتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشْرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menetap di negeri kaum musyrik dan ia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru perilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih; Iqtidha’ Shiratohol Mustaqim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata:

فلا فرق بين مشاركتهم في العيد وبين مشاركتهم في سائر المناهج، فإن الموافقة في جميع العيد موافقة في الكفر، والموافقة في بعض فروعه موافقة في بعض شعب الكفر، بل إن الأعياد من أخص ما تتميز به الشرائع، ومن أظهر ما لها من الشعائر، فالموافقة فيها موافقة في أخص شرائع الكفر وأظهر شعائره، ولا ريب أن الموافقة في هذا قد تنتهي إلى الكفر في الجملة بشروطه

“Maka tidak ada bedanya antara bergabung dengan mereka dalam hari raya mereka dan antara bergabung dengan mereka dalam seluruh manhaj (jalan, system pemahaman), karena menyetujui seluruh hari raya itu adalah menyetujui kekafiran, dan menyetujui sebagian cabangnya itu adalah menyetujui sebagian cabang kekafiran. Bahkan hari-hari raya itu termasuk paling khas dari apa yang menandai syari’at, dan termasuk yang paling tampak di antara syiar-syiar, maka menyetujuinya adalah menyetujui syari’at kekafiran yang paling khusus dan syiar kekafiran yang paling nyata. Dan tidak diragukan lagi bahwa menyetujui hal ini sungguh telah sampai pada kekafiran dalam keseluruhan dengan syarat-syatanya” (Iqtidha’ Shiratohol Mustaqim)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahulloh berkata:

وَأَﻣﱠﺎ اﻟﺘﱠﻬْﻨِﺌَﺔ ﺑِﺸَﻌَﺎﺋِﺮ المختصة به فحرام بالاتفاق مثلْ أَن ﻳُﻬَﻨﱢﺌَﻬُﻢ ﺑِﺄَﻋْﻴَﺎدِﻫِﻢ وصومهم.

 “Adapaun tahni’ah (ucapan selamat) akan Syiar-syiar mereka yang khusus dengannya (yakni: dengan agamanya), maka haram dengan kesepakatan (antar ulama), seperti mengucapkan selamat atas ied-ied mereka dan puasa-puasa mereka.” (Ahkaam Ahl Dzimmah, 1/441)

Syubhat dan Bantahan

Sebagian orang berpendapat bolehnya mengucapkan selamat natal dengan dalil:

Syubhat Pertama:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S: Al-Mumtahanah ayat 8)

 Bantahan:

Berbuat baik kepada kaum kafir tidak harus menyetujui perayaan kekufuran mereka, karena ini termasuk tolong-menolong dalam hal kekafiran, bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

  وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

 “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (Q.S: Al-Ma`idah ayat 2)

 Ucapan selamat dan Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.

 Syubhat Kedua:

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (QS. An-Nisaa’ ayat 86)

 Bantahan:

Tentang ayat ini, Imam ahli tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata:

فأما أهل الذمة فلا يبدؤن بالسلام ولا يزادون بل يرد عليهم بما ثبت في الصحيحين عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا سلم عليكم اليهود فإنما يقول أحدهم السام عليكم فقل وعليك

Terhadap ahli zimmah (Kafir zimmi), mereka tidak boleh dimulai dengan salam; dan jawaban terhadap mereka tidak boleh dilebihkan, melainkan hanya dibalas dengan singkat, seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain melalui Ibnu Imar, bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka sebenarnya yang diucapkan mereka adalah Kebinasaan semoga menimpamu, maka katakanlah “Dan semoga kamu juga mendapat yang serupa” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Syubhat Ketiga:

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam ayat 15)

 Bantahan:

Maksud dari ayat ini ditujukan kepada Nabi Yahya ‘Alaihissalam, bukan Yesus (Tuhannya orang Nasrani).

 Sufyan bin Uyainah mengatakan:

أوحش ما يكون امرء في ثلاثة مواطن يوم يولد فيرى نفسه خارجا مما كان فيه ويوم يموت فيرى قوما لم يكن عاينهم ويوم يبعث فيرى نفسه في محشر عظيم قال فأكرم الله فيها يحيى بن زكريا فخصه بالسلام عليه فقال « وسلام عليه يوم ولد ويوم يموت ويوم يبعث حيا »

“Bahwa hal yang paling mengerikan bagi seseorang ialah di tiga keadaan, yaitu: Saat dia dilahirkan karena dia melihat dirinya keluar dari tempat pertamanya. Saat dia mat, maka ia melihat kaum yang belum pernah disaksikannya. Dan saat dia dibangkitkan hidup kembali, maka ia melihat dirinya berada di padang mahsyar yang luas. Allah memuliakan Yahya bin Zakaria ‘Alayhimassalam dengan memberinya kesejahteraan dalam tiga hal itu, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya ……….(Ayat di atas)” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Syubhat Keempat:

Mereka berdalil dengan hadits “Sayangilah orang yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu”.

 Bantahan:

Menyayangi kaum kafir adalah dengan mendakwahi mereka agar meninggalkan kekufuran mereka, bukan dengan mengatakan selamat atas kekufuran mereka. Bukankah ‘Isa ‘Alayhissalam yang mereka sembah juga mengingkari perbuatan mereka:

 وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ

 “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib” (QS. Al-Maidah ayat 116)

 

Syubhat Kelima:

Mereka juga berdalil dengan hadits “Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka aku akan menjadi lawannya di hari kiamat”

 Bantahan:

Tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita menyakiti kafir dzimmi, makna menyakiti dalam hadits di atas bisa berarti menzholimi atau memukul, sebagaimana di dalam Shohih Muslim Nabi menegur sahabat Anshor yang menampar seorang Yahudi, dan termasuk larangan adalah membunuh kafir dzimmi, ini jelas dilarang sebagaimana hadits Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam:

أَلَا مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهِدًا لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَقَدْ أَخْفَرَ بِذِمَّةِ اللَّهِ، فَلَا يُرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Ketahuilah bahwa barangsiapa membunuh jiwa yang terikat dengan dzimmah (perlindungan) dari Allah dan Rasul-Nya berarti ia telah membatalkan dzimmah Allah, dan tidak akan mencium wangi surga. Dan sungguh harum wangi surga itu telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Tirmidzi no. 1403)

 

Dengan demikian ucapan selamat natal tidak selayaknya diucapkan oleh seorang Muslim dan Muslimah

 

Wallahu A’lam

 

 

 

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Keutamaan Adzan dan Menjawab Adzan

Keutamaan Adzan

Dalam Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallohu’anhu, dia mengatakan, Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا
“Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali diundi, niscaya mereka melakukannya” (HR. Bukhari, no. 615, 644, 2689; HR. Muslim, no. 437, 439)

• Dosa Muadzin diampuni sepanjang suaranya, dan mendapat pahala sholat orang yang bersamanya
Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدََّ صَوْتِهِ وَأَجْرُهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ
“Muadzin diampuni dosanya sepanjang suaranya, dan pahalanya seperti pahala orang yang sholat bersamanya” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, no. 7942, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib)

مَدَّ صَوْتِهِ، وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ
“ Muadzin diampuni dosanya sepanjang suaranya, dan segala yang basah dan yang kering bersaksi untuknya” (HR. Ahmad, no. 9542; Ibnu Hibban, no. 1666; Abu Dawud; Nasa’I; Ibnu Majah; Dishahihkan Al-Albani dalam al-Misykah)

• Manusia yang paling panjang lehernya di hari kiamat

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Para muadzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada hari kiamat” (HR. Muslim, no. 387)

• Manusia dan Jin yang mendengarkan adzan akan memberi kesaksian untuk muadzin

أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ:إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ، أَوْ بَادِيَتِكَ، فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Bahwa Abu Said al-Khudri Radhiallohu’anhu berkata kepadanya, ‘Aku melihatmu menyukai domba dan kehidupan pedalaman, jika kamu bersama dombamu atau di daerahmu, lalu kamu (mengumandangkan) adzan untuk shalat maka keraskanlah suaramu dengan adzan tersebut karena gema suara muadzin tidaklah didengar oleh jin atau manusia atau sesuatu pun kecuali ia memberi kesaksian untuknya pada Hari Kiamat” (HR. Malik dalam Al-Muwatha, no. 5; Bukhari, an-Nasa”i dan Ibnu Majah)

• Muadzin akan masuk surga

كُنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيهِ وَ سَلَّم بِتَلَعَاتِ النَّخْلِ ، فَقَامَ بِلاَلٌ يُنَادِي، فَلَمَّ سَكَتَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيهِ وَ سَلَّم: مَنْ قَالَ مِثْلَ هَذَا يَقِينً دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Kami bersama Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam, lalu Bilal berdiri mengumandangkan adzan. Ketika selesai Rasulullah Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengucapkan seperti ini dengan yakin niscaya dia masuk surga”. (HR. Ibnu Hibban, no. 1667 dan Nasa’i; Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih wa Targhib)

مَنْ أَذَّنَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَكُتِبَ لَهُ بِتَأْذِينِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ سِتُّونَ حَسَنَةً، وَلِكُلِّ إِقَامَةٍ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً
“Barangsiapa beradzan selama 12 tahun, maka wajib baginya surga, dan dicatat untuknya pahala adzannya dalam setiap hari sebanyak 60 kebajikan, serta pahala iqomahnya sebanyak 30 kebajikan” (HR. Ibnu Majah, no. 728; Hakim dan Thabrani, Dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

فَقَامَ بِلاَلٌ يُنَادِي، فَلَمَّ سَكَتَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيهِ وَ سَلَّم: مَنْ قَالَ مِثْلَ هَذَا يَقِينً دَخَلَ الْجَنَّةَ

Keutamaan Menjawab Adzan

• Menjawab adzan adalah salah satu faktor masuk surga

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Apabila muadzin mengucapkan Allohu Akbar, Allohu Akbar maka salah seorang dari kalian menjawab Allohu Akbar, Allohu Akbar. Lalu apabila muadzin mengucapkan Asyhadu alla ilaaha illalloh maka salah seorang dari kalian menjawab Asyhadu allaa ilaaha illalloh. Apabila Muadzin mengucapkan Asyhadu anna muhammadar rosuululloh maka salah seorang dari kalian menjawab Asyhadu anna muhammadar rosuululloh. Apabila muadzin mengucapkan Hayya ala ash-shalah maka salah seorang dari kalian menjawab Laa haula walaa quwwata illaa bilaah. Apabila muadzin mengucapkan Hayya ‘ala al falaah, maka salah seorang dari kalian menjawab Laa haula walaa auwwata illaa billaah. Apabila muadzin mengucapkan Allohu Akbar, Allohu Akbar maka salah seorang dari kalian menjawab Allohu Akbar, Allohu Akbar. Apabila muadzin mengucapkan, Laa ilaahaa illalloh dia menjawab, Laa ilaaha illallohu dengan setulus hatinya, maka ia akan masuk surga.”(HR. Muslim, no. 385)

• Menjawab adzan adalah sebab diampuninya dosa-dosa

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

“Barang siapa ketika mendengar muadzin mengucapkan Asyhadu allaa ilaaha illallohu wahdahuu laa syarikalah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Radhitu billahi rabba, wa bimuhammadin rasuula, wabil islami diina (Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh, Dialah tuhan satu-satunya, tiada sekutu baginya. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Alloh dan utusan-Nya, saya rela Alloh sebagai tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama), maka dosanya akan diampuni” (HR. Muslim, no. 386; Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

• Menjawab adzan adalah kepatuhan kepada Rasululloh

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
“Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin” (HR. Bukhari, no. 611; HR. Muslim, no. 383)
Ini adalah perintah Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam supaya menjawab seruan adzan.

• Manjawab adzan adalah salah satu sebab diraihnya syafa’at

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kamu sekalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bacalah shalawat kepadaku. Karena barangsiapa membaca shatawat untukku satu kali, maka Alloh membalasnya dengan sepuluh shalawat. Lalu mintakanlah kepada Alloh Wasilah untukku. Wasilah adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi hamba Alloh dan aku berharap agar aku adalah hamba Alloh tersebut. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia mendapat syafaatku” (HR. Muslim, no. 384; ; Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad)

• Berdo’a setelah adzan

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

“Ya Alloh, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan” (HR. Bukhari, no. 614)

*** Wallohu A’lam***

Tinggalkan komentar

Puasa-Puasa Sunnah

PUASA SUNNAH

1. Puasa Hari Senen dan Kamis
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari senin? Maka beliau menjawab:
“Itu adalah hari yang aku dilahirkan padanya,dan aku diutus,atau diturunkan kepadaku (wahyu).”(HR.Muslim:1162)
Aisyah radhiallahu anha ditanya tentang puasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam, maka beliau menjawab:
“Adalah beliau (Rasulullah) senantiasa menjaga puasa pada hari senin dan kamis”.(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nassai, Ibnu Hibban. dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Ibnu Majah)

2. Puasa 6 hari dibulan syawwal
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa ramadhan, lalu menyambungnya dengan enam hari dibulan syawwal,maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR.Muslim: 1164 )

3. Puasa Dawud Alaihissalam
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Puasa yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah puasa Dawud,beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Dawud,beliau tidur dipertengahan malam,lalu bangun (shalat) pada sepertiga malam,dan tidur pada seperenamnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

4. Puasa tiga hari dalam sebulan (13, 14, 15 Bulan Hijriyah)
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bersabda kepada sahabatnya yang bernama Abu Dzar:
“wahai Abu Dzar,jika engkau hendak berpuasa tiga hari dalam sebulan,maka berpuasalah pada hari ketiga belas,empat belas dan lima belas.” (HR.Tirmidzi, An-Nasaa’i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’)

“Dan sesungguhnya cukup bagimu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan,karena sesungguhnya bagimu pada setiap kebaikan mendapat sepuluh kali semisalnya,maka itu sama dengan berpuasa setahun penuh.” (HR.Bukhari:1874,Muslim:1159)

5. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang puasa pada hari Arafah,Beliau menjawab:
“ (Puasa pada hari itu) menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR.Muslim)

6. Puasa dibulan muharram,khususnya pada hari ‘Asyura (10 muharram) juga pada 9 Muharram
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang puasa pada hari Asyura,maka beliau menjawab:
“menghapus dosa setahun yang telah lalu.”(HR.Muslim)
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya. Mereka (para shahabat) berkata:wahai Rasulullah,itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Kristen. Maka bersabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam : “jika tiba tahun yang berikutnya,insya Allah kita pun berpuasa pada hari kesembilan”. Namun belum tiba tahun berikutnya hingga Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam wafat.” (HR.Muslim).

7. Puasa dibulan sya’ban
Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali ramadhan,dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari bulan sya’ban,” (HR.Bukhari)

Hari-Hari yang Dilarang Berpuasa

1. Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha
“Sesungguhnya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari ini. Adapun hari raya Kurban, karena kalian memakan daging Kurban, sedangkan hari raya Idul Fitri merupakan hari berbuka dari puasa kalian” (HR. Abu Dawud, Muttafaq’alaih)

2. Hari Tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah)
Amru bin Ash menegur seseorang yang puasa pada hari tasyrik “Makanlah, sesungguhnya pada hari-hari ini Rasulullah memerintahkan kita untuk tidak berpuasa dan melarang kita berpuasa”(HR. Abu Dawud)

3. Menkhususkan Puasa pada hari Jum’at
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang di antara kamu sekalian berpuasa pada hari Jum ‘at, kecuali bila ia berpuasa (pada hari) sebelumnya atau sesudahnya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Muttafaq’alaih)

4. Mengkhususkan Puasa pada hari Sabtu
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu sekalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kamu. Apabila salah seorang di antara kamu tidak menemukan (sesuatu) kecuali kulit anggur atau dahan kayu, maka hendaklah ia mengunyahnya.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Demikianlah puasa-puasa yang disunnahkan dalam agama Islam, adapun puasa selain yang dicontohkan Rasulullah itu maka tidak memiliki keutamaan sama sekali bahkan ‘amalan puasanya akan ditolak dan tidak diterima sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka ‘amalannya tersebut ditolak” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa yang melakukan ‘amalan yang bukan termasuk ajaran kami, maka ‘amalannya itu tertolak” (HR. Muslim)

“Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

***Wallahu A’lam***

, , , , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Desember 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031