Archive for category Dosa Besar

Berbuat Dusta Terhadap Allah atau Rasulullah

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman:

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِينَ

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam” (Az-Zumar: 60)

Menafsirkan ayat di atas, Al-Hasan berkata:

هم الذين يقولون إن شئنا فعلنا وإن شئنا لم نفعل

“Mereka adalah orang-orang yang mengatakan, ‘Jika kami mau kami pasti melakukan dan jika kami tidak mau kami pun tidak melakukannya’” (Al-Kaba’ir)

Ibnul Jauzi berkata,

وقد ذهب طائفة من العلماء إلى أن الكذب على الله وعلى رسوله كفر ينقل عن الملة ولا ريب أن الكذب على الله وعلى رسوله في تحليل حرام وتحريم حلال كفر محض وإنما الشأن في الكذب عليه فيما سوى ذلك

“Sekelompok ulama berpendapat bahwa berbuat dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya merupakan perbuatan kufur, mengeluarkan pelakunya dari Agama. Tidak disangsikan lagi bahwa berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam masalah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah benar-benar kufur. Namun yang masih diperbincangkan adalah berdusta dalam masalah-masalah selainnya” (Al-Kaba’ir)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ كِذْبَةً مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَضْجَعًا مِنْ النَّارِ أَوْ بَيْتًا فِي جَهَنَّمَ

 “Barangsiapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, hendaklah bersiap-siap menempati tempat berbaring dari api atau sebuah rumah di Jahannam” (HR. Ahmad)

Sabdanya lagi:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa secara sengaja berbuat dusta terhadapku hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (Lih. Shohihul Jami’ no. 6519)

Sabdanya lagi:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Barangsiapa meriwayatkan suatu hadits dariku namun dia berpendapat bahwa isinya adalah dusta, maka ia termasuk salah satu pendusta” (HR. Ibnu Majah no. 39)

Sabdanya:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berbuat dusta terhadapku itu tidak sama dengan berbuat dusta terhadap selain dariku. Barangsiapa secara sengaja berbuat dusta terhadapku hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (HR. Bukhari no. 1291)

Sabdanya:

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan sesuatu dariku padahal aku tidak mengatakannya hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (HR. Bukhari no. 109)

Semoga Allah member taufik dan perlindungan. Sesungguhnya Dia Maka Pemurah lagi Maha Mulia

Wallahu A’lam

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Akibat Memakan Harta Anak Yatim dan Tidak Berbuat Baik Kepadanya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (Q.S Annisa: 10)

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ
“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa” (Q.S Al-An’am : 152, dan Q.S Al-Israa’: 34)

As-Suddiy berkata, ”Orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan keluar nyala api dari mulut, telinga, hidung, dan matanya. Siapa pun yang meiihatnya pasti mengetahui bahwa ia adalah pemakan harta anak yatim” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (8722))

Para ulama berkata, “Setiap wali anak yatim, jika ia seorang yang miskin lalu ia memakan harta anak yatim itu dengan cara yang baik sesuai dengan tanggungjawabnya, mengurusnya dan mengembangkan hartanya, itu tidak mengapa. Namun jika melebihi dari yang sewajarnya, maka itu adalah harta haram”. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ
“Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu. maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah is makan harta itu dengan cara yang baik” (Q.S. An-Nisa’: 6)

Yang dimaksud dengan ‘memakan dengan cara yang baik’ adalah;
Pertama, mengambilnya sebagai hutang.
Kedua, memakannya sekedar kebutuhan, tidak berlebih-lebihan.
Ketiga, mengambilnya senilai dengan upah (yang umum berlaku) seumpama ia bekerja pada anak yatim itu.
Keempat, mengambilnya dalam kondisi darurat. Artinya jika suatu saat ia berkecukupan ia membayarnya, tetapi jika tidak harta yang telah diambilnya itu halal baginya.
Keempat pendapat ini disebutkan oleh Ibnul Jauziy dalam tafsirnya. (Lihat Zadul Masir (2/16))

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
وَأَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
“Aku dan pengasuh anak yatim kelak di surga seperti ini.” Lalu Rasulullah memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari, no. 5304, 6005)

Imam Muslim meriwavatkan bahwa beliau Sholallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:
كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ» وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
“Pengasuh anak yatim, baik masih kerabatnya atau bukan, akan bersamaku kelak di surga seperti ini.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Muslim, no. 2983)

Mengasuh anak yatim artinya mengurus segala kebutuhan dan kemaslahatannya; mulai dari urusan makan, pakaian, dan mengem-bangkan hartanya jika anak yatim itu memiliki harta. Sedangkan jika anak yatim itu tidak memiliki harta maka pengasuh anak yatim memberikan nafkah dan pakaian untuknya demi mengharapkan wajah Allah. Adapun maksud lafazh ‘baik masih kerabatnya atau bukan’ dalam hadits di atas adalah bahwa si pengasuh itu bisa jadi kakeknya, saudaranya, ibunya, pamannya, ayah tirinya, bibinya, atau pun kerabat-kerabat yang lain. Dan bisa juga orang lain yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya sama sekali.

Seseorang berkata kepada Abu Darda’ Radhiallahu’anhu, “Berilah saya wasiat!” Abu Darda’ berkata, “Kasihilah anak yatim, dekatkanlah ia kepadamu dan berilah makan dengan makananmu. Sesungguhnya saya mendengar ketika seseorang menghadap Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam mengadukan kekerasan hatinya, beliau bersabda, “Jika kamu ingin supaya hatimu menjadi lembut, maka dekatkanlah anak yatim kepadamu, usaplah kepalanya dan berilah makan dari makananmu, maka itu akan melembutkan hatimu dan akan memudahkanmu dalam memenuhi kebutuhanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (11035) dan Abu Nu’aim, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 854)

Dikisahkan, seorang salaf berkata, “Dahulu aku adalah seorang yang tenggelam dalam berbagai macam perbuatan maksiat dan mabuk-mabukan. Pada suatu hari aku menemukan seorang anak yatim yang miskin. Lalu aku ambil anak yatim itu dan aku berbuat baik kepadanya. Aku beri ia makan, pakaian, dan aku mandikan ia sampai bersih semua kotoran yang menempel di tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menyayanginya seperti seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Malamnya aku tidur dan bermimpi bahwa kiamat sudah tiba. Aku dipanggil menuju hisab. Kemudian aku diperintahkan untuk masuk neraka karena banyaknya dosa dan maksiat yang aku kerjakan. Malaikat Zabaniyah menyeretku untuk memasukkanku ke dalam neraka. Saat itu aku merasa kecil dan hina di hadapan mereka. Tiba-tiba anak yatim itu menghadang di tengah jalan sambil berkata, ‘Tinggalkan ia, wahai malaikat Rabb-ku! Biarlah aku memintakan syafaat untuknya kepada Rabb-ku. Dialah yang dulu telah berbuat baik kepadaku. Telah memuliakanku!’ Malaikat berkata, ‘Tetapi aku tidak diperintahkan untuk itu.’ Sekonyong-konyong terdengar seruan dari Allah, firman-Nya, Biarkan, dia, sungguh aku telah mengampuninya dengan syafaat anak yatim itu dan kebaikannya kepadanya!’ Lalu aku terbangun dan aku pun bertaubat kepada Allah azza wa jalla, dan saya terus berusaha semaksimal mungkin untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak yatim.” (Dikisahkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kaba’ir)

Diriwayatkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Dawud: ‘Wahai Dawud. jadilah untuk anak yatim sebagai ayah yang penya-yang, dan jadilah untuk janda sebagai suami yang pengasih! Ketahuilah, sebagaimana engkau telah menanam engkau pun akan menuai.” Maksud dari kalimat terakhir adalah sebagaimana engkau berbuat, maka orang lain pun akan berbuat yang sama terhadapmu. Karena engkau akan mati dan meninggalkan anak serta istri. (Diriwayatkan oleh AI-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (11039))

Dalam salah satu munajatnya, Dawud ‘Alayhissalam bertanya, “Duhai Ilah-ku, apakah pahala bagi orang yang menyayangi anak yatim dan janda untuk mengharap wajah-Mu semata?” Allah menjawab, “Pahalanya, aku naungi ia di bawah naungan-Ku pada hari tidak ada naungan selain naunganku.” Maksudnva adalah naungan ‘arsy-Ku pada hari kiamat. (Dikisahkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kaba’ir)

Ada sebuah kisah berkenaan dengan berbuat baik kepada janda dan anak yatim. Adalah satu keluarga yang masih merupakan keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib. Mereka tinggal di luar tanah Arab, di kota Balkh dengan kecukupan. Seorang suami, istri dan anak-anak perempuan. Suatu hari meninggallah sang suami, dan kehidupan pun berbalik 180 derajat. Janda dan anak-anak perempuannya jatuh miskin. Akhirnya mereka pun meninggalkan negeri mereka khawatir akan kejahatan orang-orang yang tidak suka dengan keberadaan mereka. Kebetulan ketika itu musim dingin sedang hebat-hebatnva. Ketika memasuki sebuah negeri wanita itu menempatkan anak-anak-nva di sebuah masjid tua yang sudah lama tidak dipakai. la sendiri pergi mencarikan sesuap makanan untuk mereka. Malam itu ia melewati dua komplek; pertama dipimpin oleh seorang lelaki muslim yang adalah syaikhul balad, petinggi negeri itu. Satu komplek lagi dipimpin oleh seorang lelaki majusi yang adalah dlaminul balad, kepala keamanan negeri. Wanita itu menemui lelaki muslim terlebih dahulu dan menceritakan keadaannya kepadanya. Katanya, “Saya adalah seorang wanita ‘alawiyyah, keturunan All bin Abi Thalib “Saya membawa anak-anak perempuan yang yatim, yang saya tempatkan di sebuah masjid tua. Saya minta bantuan makanan buat mereka malam ini.” Lelaki itu menjawab, “Datangkan bukti bahwa kamu ini benar-benar seorang wanita ‘alawiyyah yang mulia.” Wanita itu berkata lagi, “Saya adalah seorang asing di negeri ini. Siapa yang mengenali saya?”. Lelaki itu berpaling dan tidak mau menolongnva. Wanita itu pergi dengan hati yang berkeping-keping. Maka ia pun menemui lelaki majusi, menjelaskan keadaannva. la ceritakan bahwa bersamanya ada anak-anak perempuan yang yatim dan ia sendiri adalah seorang perempuan keturunan baik-baik yang asing. la juga menceritakan kejadian antara dia dan syaikhul balad. Orang Majusi itu bangkit dan menyuruh istrinya untuk menjemput anak-anak perempuan wanita itu. Mereka diberi makanan yang lezat dan pakaian yang indah. Mereka menginap di rumah itu dengan penuh kenikmatan dan kemuliaan. Pada malam itu juga orang muslim yang telah menolak wanita janda itu bermimpi sepertinya kiamat sudah terjadi. Panji pun telah dikibarkan di atas kepala Nabi. Tiba-tiba tampak sebuah istana yang terbuat dari zamrud hijau, serambinya terbuat dari mutiara dan merah delima, dan kubahnya terbuat dari mutiara dan permata marjan. Lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah istana ini?”. “Untuk seorang Lelaki muslim ahli tauhid.”, jawab beliau. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku seorang muslim ahli tauhid.” Rasulullah bersabda. “Datangkan bukti bahwa kamu adalah seorang muslim ahli tauhid!” Maka orang itu kebingungan. Lalu Rasulullah menjelaskan, “Ketika kamu dimintai tolong oleh seorang wanita ‘alawiyyah itu, kamu mengatakan ‘datangkan bukti bahwa kamu benar-benar seorang ‘alawiyyah’. Begitu juga denganmu sekarang. Coba datangkan bukti bahwa kamu benar-benar seorang muslim.” Lelaki itu terbangun dan sangat bersedih telah menolak wanita itu. Maka ia berkeliling ke seluruh penjuru kota mencari wanita itu sampai ada yang menunjukkan kepadanya bahwa wanita itu ada di rumah seorang majusi. la mendatanginya dan berkata, “Aku ingin menjemput wanita yang mulia, wanita ’alawiyyah beserta anak-anaknya.” Orang itu berkata, “Tidak bisa ! Aku telah mendapatkan barakah yang tidak terhingga atas kedatangan mereka.”. “Aku beri kamu seribu dinar dan serahkan mereka kepadaku.”, rayu si muslim. “Tidak bisa?”. jawab orang itu. “Harus.”, kata si muslim lagi. Orang itu berkata lagi, “Apa yang kamu inginkan sungguh aku lebih berhak memilikinya. Istana yang kamu lihat dalam mimpimu itu diciptakan bagiku. Apakah kamu akan menunjukkan kepadaku tentang Islam? Demi Allah. aku dan keluargaku tidak tidur tadi malam kecuali bahwa kami semua sudah masuk Islam berkat wanita itu. Dan aku pun bermimpi seperti yang kau impikan.” Rasulullah berkata kepadaku, “Apakah wanita ‘alawiyyah dan anak-anaknya bersamamu?” Aku jawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Istana itu untukmu dan keluargamu. Kamu dan keluargamu menjadi penghuni surga. Kamu diciptakan sebagai mukmin oleh Allah sejak zaman azali.”Si muslim pun pulang dengan penuh rasa sedih dan kecewa. Tidak ada yang tahu sedalam apa kesedihan dan kekecewaannya selain Allah. (Dikisahkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kaba’ir)

Lihatlah, betapa benar barokah berbuat baik kepada janda dan anak yatim. Betapa ia dapat mendatangkan kemuliaan di dunia bagi orang yang melakukannya.

Karena itulah dalam hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang berusaha untuk janda dan orang-orang miskin itu bagaikan pejuang di jalan Allah”.
Perawi hadits ini mengatakan, “Saya kira beliau Sholallahu’alaihi wa sallam juga bersabda”:
كَالقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ، وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ
“Dan seperti orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tiada henti, dan laksana orang yang berpuasa tanpa berbuka”. (Diriwayatkan oleh AI-Bukhari (6007) dan Muslim (2982))

Berusaha untuk janda dan orang-orang miskin itu maksudnya mengurus berbagai keperluan dan kemaslahatan bagi mereka karena mengharapkan wajah Allah semata.

Semoga Allah menunjukkan jalan untuk itu dengan anugerah dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.

*** Wallahu A’lam***

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Waspada Bahaya Riba

Pemakan Riba

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Q.S Ali ‘Imron: 130)

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba…” (Q.S Al-Baqoroh: 275)

Mereka menghalalkan riba, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Pada hari kiamat ketika Allah membangkitkan manusia seluruhnya, mereka akan bergegas keluar, kecuali orang-orang yang memakan harta riba. Mereka akan berdiri lalu jatuh tersungkur, dan begitu seterusnya. Hal itu dikarenakan kala mereka makan harta riba Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembangbiakkannya dalam perut mereka sehingga memberatkan mereka pada hari kiamat. Setiap kali mereka bangun setiap kali itu pula mereka jatuh tersungkur. Mereka ingin bergegas seperti orang-orang, namun tidak mampu melakukannya.

Qatadah berkata,
إن آكل الربا يبعث يوم القيامة مجنونا وذلك علم لأكلة الربا يعرفهم به أهل الموقف
“Sesungguhnya orang yang makan riba itu akan dibangkitkan dalam keadaan gila pada hari kiamat. Itu merupakan tanda bagi mereka yang dapat disaksikan oleh seluruh manusia yang ada di sana” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya (2/102)

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdullah bin Masud dari ayahnya, “Apabila zina dan riba telah merebak di suara desa maka sesungguhnya Allah telah mengizinkan kebinasaan baginya.” (Ahmad (1/393,394,402), Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Ya’la, dan Ibnu Hibban (4410) dari Ibnu Masud secara marfu’)

Secara marfu’, sahabat Umar Radhiallauhu’anhu meriwayatkan, “Apabila manusia telah menjadi bakhil terhadap dinar dan dirharn, berjual bell’ dengan ‘inah (riba), mengikuti ekor-ekor sapi (sibuk dengan urusan peternakan), dan meninggalkan jihad fi sabilillah, niscaya Allah akan menimpakan bala’ yang tidak akan diangkat sarnpai mereka kembali kepada ajaran dien mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (2/42.84). Ath-Thabrani dalam AI-Kabir(13583.13585), Abu Ya’la (5633), Abu Dawud, Abu Nu’aim (1/313) dan Al-Baihaqi Syu’ab (3920) dari Ibnu Umar)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah riba itu tampak terang-terangan di suatu kaum kecuali tampak terang-terangan pula penyakit gila. Tidaklah zina itu merebak di suatu kaum kecuali merebak pula kematian. Dan tidaklah suatu kaum itu mengurangi takaran serta timbangan kecuali Allah akan menahan turunnya hujan bagi mereka.” (Al-Kaba’ir Imam Adz-Dzahabi)
Sebuah hadits yang panjang disebutkan bahwa, “Sesungguhnya orang yang makan hasil riba itu akan diadzab dengan berenang di sungai merah bagai darah sejak dia mati sampai hari kiamat kelak. Mereka dicekoki dengan bebatuan yaitu harta haram yang telah mereka kumpulkan di dunia dulu dengan susah payah. Mereka juga akan dicekoki dengan bebatuan dari api sebagaimana mereka telah menelan barang haram yang telah mereka kumpulkan di dunia dulu. itulah adzab bagi mereka di alam barzakh sebelum datangnya hari kiamat, dan masih ditambah dengan laknat dan Allah.” (Al-Kaba’ir Imam Adz-Dzahabi)

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Empat golongan, Allah berhak untuk tidak memasukkan mereka ke dalam surga dan tidak pula menjadikan mereka mampu merasakan kenikmatannya. Mereka adalah; orang yang terus-menerus minum khamr (arak), orang yang memakan riba, orang yang memakan harta anak yatim, dan orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Kecuali jika mereka bertaubat.” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan pula bahwa orang-orang yang memakan riba akan dikumpulkan di padang Mahsyar dalam rupa anjing dan babi, disebabkan tipu daya mereka untuk memakan hasil riba, sebagaimana dirubahnva rupa ashhabus sabti (orang-orang Yahudi). Ketika mereka membuat tipu daya untuk dapat menangkap ikan yang telah dilarang oleh Allah pada hari Sabtu. Mereka membuat bendungan-bendungan kecil agar ikan masuk ke dalamnya pada hari Sabtu dan mereka dapat mengambilnya pada hari Ahad. Ketika itulah Allah merubah rupa mereka menjadi rupa kera dan babi. Nah, begitu pula dengan orang-orang yang mencoba-coba membuat tipu daya untuk dapat menikmati hasil riba. Sesungguhnya tidak ada satu tipu daya pun yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukannya yang tersembunyi bagi Allah. (Al-Kaba’ir Imam Adz-Dzahabi)

Ayyub as-Sukhtiyaniy Rahmatullahu ‘alayhi bertutur, “Mereka itu hendak menipu Allah seperti menipu anak kecil. Padahal seandainya mereka melakukannya secara terang-terangan justru hal itu lebih ringan atas mereka.”

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu terdiri dari tujuhpuluh pintu, yang paling ringan adalah seperti jika seseorang menikahi ibunya, dan yang paling berat adalah jika seorang muslim mencemarkan kehormatan saudaranya sesama muslim”. (Ibnu Majah (2275), AI-Hakim (2/3), Abu Nu’aim daiam Akhbar Ashbahan (2/61), dan AI-Baihaqi Asy-Syu’ab (5131))

Dan benarlah bahwa itu merupakan salah satu pintu dari sebesar-besar pintu riba.
Sahabat Anas Radhiallhu’anhu berkata, “Adalah Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Beliau menyebut tentang riba dan menjelaskan betapa besar urusan riba itu. Beliau bersabda, ‘Satu dirham yang didapat oieh seseorang itu lebih dahsvat dari pada berzina tiga puluh enam kali dalam pandangan Islam”. (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (5130) dan Abu Nu aim dalam Akhbar Ashbahan (1/234))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Riba itu tujuhpuluh (tingkatan) dosa. Yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menggauli ibunya.”
Dalam riwayat yang lain, “…yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki yang menikahi ibunya.” (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (5130) dan Abu Nu aim dalam Akhbar Ashbahan (1/234))

Abu Bakar as-Shiddiq Radhiallahu’anhu berkata:
الزائد والمستزيد في النار يعني الآخذ والمعطي فيه سواء
“Orang yang memberi tambahan dan yang meminta tambahan, keduanya akan masuk neraka.” (Al-Kaba’ir Imam Adz-Dzahabi)

Mari memohon ‘ariyah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pemberian Orang yang Berhutang Kepada Orang yang Dihutangi

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata:
إذا كان لك على رجل دين فأهدى لك شيئا فلا تأخذه فإنه ربا
”Apabila kamu mempunyai piutang atas seseorang lalu ia memberimu sesuatu, janganlah kamu ambil. Sebab, itu termasuk riba.” (Abdur Razzaq dalam AI-Mushannaf (14654, 14655) dari Ibnu Umar dan sanadnya shahih)

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata:
إذا كان لك على رجل دين فما أكلت من بيته فهو سحت
“Apabila seseorang berhutang kepadamu, maka apa yang kamu makan dari rumahnya merupakan barang haram” (Al-Kaba’ir)

Ini semua berdasarkan pada sabda Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam, “Tiap-tiap pinjaman yang ditujukan untuk menghasilkan manfaat, maka itu termasuk riba. ” (Al-Baihaqi (5/350) dari Ibnu Abbas)

Ibnu Masud berkata, ‘Barangsiapa memberi syafaat (rekomendasi) kepada seseorang lalu orang itu mernberinya hadiah, maka itu adalah haram.” (Abdur Razzaq (14664) dan AI-Baihaqi (10/139))

Pernyataan ini sesuai dengan sabda Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam:
مَنْ شَفَعَ لِأَخِيهِ بِشَفَاعَةٍ، فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا، فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوابِ الرِّبَا
“Barangsiapa memberi syafaat kepada seseorang lalu orang itu memberinya hadiah dan diterimanya, maka ia telah memasuki pintu yang besar dari antara pintu-pintu riba.” (Abu Dawud (3541). Ath-Thabrani Al-Kabir(7853))

Marilah memohon ampunan dan ‘afiyah dalam urusan dien, dunia, dan akhirat kepada Allah.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Homoseksual (Liwath)

LIWATH (HOMOSEKS)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kepada kita tentang kaum Nabi Luth di beberapa tempat dari kitab-Nya. Di antaranya adalah:

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami huiani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. yang diberi tanda (bahwa bebatuanitu bukan bebatuan dunia) di sisi Rabbmu (tidak ada yang dapat merubahnya tanpa seizin dari-Nya), dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim (dari ummat ini jika rnereka melakukan perbuatan kaum Luth itu)” (QS. Huud: 82-83)

Oleh karenanya Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

“Sesuatu yang bating aku takutkan atas kalian adalah perbuatan yang dilakukan oleh kaum Luth” (HR. Ibnu Majah; no. 2563)

Lalu beliau melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan mereka tiga kali. Beliau berkata, ‘Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan yang dilakukan oleh kaum Luth. Allah melaknat perbuatan orang yang melakukan perbuatan oleh kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan yang dilakukan oleh kaum Luth” (Riwayat Ahmad (1/317.309)

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah keduanya.” (Riwayat Ahmad (1/300),

Ibnu Abbas berkata, “Dicari dulu bangunan yang paling tinggi di tempat tinggalnya, lalu ia dilempar dari sana, terus dihujani dengan bebatuan. lni seperti yang ditimpakan kepada kaum Luth.”

Kaum muslimin telah berijma’ bahwa perbuatan Liwath (Homo, gay, lesbi) termasuk dosa besar yang diharamkan oleh Allah ta’ala:

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kalian mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Rabbmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas” (Asy-Syu’ara’: 165-166)

وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ

“Dan telah Kami selamatkan dia dari (adzab yang telah menimpa penduduk) negeri yang mengerjakan perbuatan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik (Al-Anbiya’: 74)
Nama negeri mereka adalah SODOM. Penduduk negeri ini melakukan berbagai perbuatan keji seperti yang disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya. Mereka menggauli kaum lelaki pada duburnya, dan juga perbuatan-perbuatan munkar lainnya.

Diriwavatkan Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, berkata, ”Ada sepuluh macam perbuatan yang dilakukan oleh kaum Luth; mengatur ambut dengan model-model tertentu, menampakkan aurat antara sesama jenis dengan cara membukakan kain penutupnya, bermain ketapel dengan batu kecil atau tanah liat yang buiatkan, melempar dengan kerikil, main burung merpati, bersuit, menghentakkan tumit sepatu ketika berialan, memanjangkan kain melebihi mata kaki, membuka kancing baju supaya tampak bulu-bulu dada, selalu minum minuman keras, dan melakukan hubungan seks antar sesama laki-laki. Kemudian umat ini akan menambahkan satu lagi yaitu melakukan hubungan seks antara sesama wanita/ lesbian)”

Abu Hurairah Radhiallahu’anhu menyampaikan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat golongan yang di pagi hari mereka dalam kemara-han Allah, dan di sore hari mereka dalam kemurkaan Allah.” Seseorang bertanya, Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang melakukan hubungan seks dengan binatang, dan laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan sesama laki-iaki.”

Diriwavatkan bahwa ada segolongan kaum yang dikumpulkan di padang Mahsyar pada hari kiamat dalam keadaan tangan yang membengkak karena satu bentuk perbuatan zina. Mereka dulu di dunia suka melakukan masturbasi.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di antara perbuatan kaum Luth adalah; bermain dadu, mengadu merpati, mengadu anjing, mengadu biri-biri, mengadu jago, masuk pemandian umum tanpa busana, serta mengurangi takaran dan timbangan. Barangsiapa rnelakukannya, sungguh celakalah dia.”

Dalam sebuah atsar disebutkan, “Barangsiapa bermain-main dengan merpati niscaya sebelum mati akan merasakan pahit-getirnya kemelaratan.’

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak akan memandang kepada laki-laki yang mendatangi laki-laki lain (kaum homo) atau (melakukan hubungan seks dengan) wanita pada duburnya. ” (Ahmad (1/297), At-Tirmdzi, Ath-Thabrani (12317), AI-Baihaqi (7/198) dan Al-Kharaithi (464) dari Ibnu Abbas dan di-hasan-kan oieh Asy-Syaikhl Al-Albani)

Memandang dengan pandangan birahi kepada wanita (selain istri dan budak wanita yang dimiliki) atau pemuda amrad (yang belum tumbuh kumis, jambang dan jenggotnya) termasuk zina. Nabi bersabda:

زِنَاالْعَيْنِ النَّظَرُ وَ زِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَزِنَا الْيَدِ الْبَطْشُ وَزِنَا الرِّجْلِ الخُطَى وَزِنَا اْلأُذُنِ اْلاِسْتِمَاعَ وَلنَّفْسُ تَمَنَّى وَ تَشْتَهِى وَلْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يَكْذِبُهُ

“Zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah meiangkah, zina telinga adalah mendengarkan, jiwa membayangkan dan menginginkan, sedangkan kemaluan membenarkan atau mendustakannya.” (Lafazh Adz-Dzahabi Dalam Al-Kaba’ir; Ahmad (2/411) Ath-Thahawy, AI-Musykil (3/298). Ibnu Hibban (4419) dan AI-Baghawi (716) dari Abu Hurairah dengan lafadz ( AI-‘Ainan Tazniyani) dan sanadnya shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Anmad (2/379). AI-Bukhari dan Muslim (2657). Abu Dawud (2153). Ath-Thahawi (3/298) dari Abu Hurairah dengan lafal “Innalloha kataba ‘ala ibni adam” “H.R Bukhari (6243,6612), Muslim (5657) dan Ahmad (2/276) dari ibnu Abbas)

Oleh karena itu orang-orang shalih bersungguh-sungguh dalam usaha menghindari pertemuan dengan Para pernuda amrad. juga dari mernandang mereka, bergaul dengan mereka, atau bermajlis dengan mereka.
Sebagian tabi’in berkata, Tidalk ada yang lebih aku khawatirkan mengenai seorang pemuda ahli ibadah, termasuk binatang buas sekali pun, selain pemuda amrad yang mendatanginya.”

Dikatakan, “Janganlah seorang laki-laki bermalam di suatu tempat bersama seorang pernuda amrad.” (Riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (5015)

Sebagian ulama mengharamkan khalwah (mojok) bersama pemuda amrad. di daiam rumah. di kedai, atau di tempat pemandian diqiyaskan kepada larangan berkhalwah dengan wanita. Nabi bersabda, “Tidaklah seorang iaki-iaki berduaan dengan seorang perempuan di tempat yang sunyi, kecuali setan menjadi yang ketiganya”. (Riwayat Abdur Razzaq (11/341; Shohih)

Di antara para pemuda amrad itu ada yang ketampanannya melebihi kecantikan seorang wanita. Maka fitnahnya pun lebih besar. Sebab ada satu kejahatan yang bisa dilakukan berhubungan dengannya yang tidak bisa dilakukan berhubungan dengan wanita. juga ada kejahatan yang lebih mudah dilakukan berhubungan dengannya dibandingkan jika dilakukan berhubungan dengan wanita. Jadi pantas saja jika ini lebih diharamkan.

Banyak sekali anjuran dan pesan dari para ulama salaf supaya menghindar dari memandangi mereka. Para salaf menyebut para pemuda amrad itu dengan ‘antan’ (sesuatu yang berbau busuk). Sebab mereka benar-benar harus dijauhi menurut syara’. Pandangan di sini sifatnya umum; pandangan terhadap ketampanan atau pun yang lainnya.

Suatu ketika Sufyan ats-Tsauriy masuk ke pemandian umum. Tiba-tiba masuk seorang anak yang berwajah tampan. Sufyan pun berkata, “Keluarkan ia dari sini. Sesungguhnya aku melihat bersama setiap wanita itu satu setan, namun aku malihat bersama setiap pemuda yang tampan itu ada belasan setan.” (AI-Baihaqi Asy-Syu’ab (5021))

Seorang laki-laki mengunjungi Imam Ahmad bin Hambal bersama seorang pemuda tampan. Melihat hal itu Imam Ahmad bertanya, “Apa hubunganrnu dengannva?” “Ia kemenakan saya.”, jawab orang itu. Lalu Imam Ahmad bin Hambal bertutur, “Lain kali jangan ke sini bersamanya. Juga jangan berjalan di muka umum bersamanya supaya orang yang tidak mengenalmu atau mengenalnya berprasangka buruk kepadamu!” (Ibnul Jauzi mencantumkannya dalam Dzammul Hawa)

Ada sebuah syair:
Segala celaka bermula dari pandangan
Hampir segala api bermula dari meremehkan kejahatan
Seseorang … selama matanya berkelana
Segala bahaya terhampar di depannya
Banyak sudah pandangan melukai hati
Bak anak panah terlempar walau tanpa busur
Ianya suka kepada yang membawa mudhorat
Padahal … tiadak kata selamat datang bagi kelezatan membawa sengsara
Dikatakan, “Pandangan itu adalah kurirnya zina.”

Hukuman Bagi Orang yang Secara Suka Rela Menempatkan Diri Sebagai Pasangan Seorang Homoseks

وقال علي رضي الله عنه من أمكن من نفسه طائعا حتى ينكح ألقى الله عليه شهوة النساء وجعله شيطانا رجيما في قبره إلى يوم القيامة
Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu berkata, “Barangsiapa menempatkan diri secara sukarela sehingga disodomi, niscaya Allah akan menanamkan ke dalam dirinya nafsu perempuan (menjadi seperti perempuan) dan menjadikannya sebagai setan yang terkutuk di kuburnya sampai hari kiamat” (Adz-Dzahabi dalam Al-Kaba’ir)
Seluruh umat telah berijma’ bahwa barangsiapa melakukan sodomi terhadap budaknya maka ia adalah seorang pendosa yang telah berbuat liwath.

Diriwayatkan bahwa dalam satu perjalanannya, Isa bin Maryam menjumpai api yang membakar seorang laki-laki. Beliau mengambil air untuk memadamkannya. Api padam dan berubah menjadi seorang anak muda. Namun sebaliknva orang laki-laki tadi justru berubah menjadi api. Beliau pun ta’jub menvaksikan hal itu, lalu bertanya, “Wahai Rabb-ku, kembalikanlah keduanva kepada keadaan mereka semula di dunia agar aku dapat menanyai keduanya oleh karena apa mereka mendapatkan perlakuan seperti itu.” Maka Allah menghidupkan keduanya. Ternyata mereka adalah seorang laki-laki dan seorang anak muda. Isa bin Maryam bertanya kepada keduanya, “Ada apa gerangan dengan kaiian?” Orang itu menjawab, “Wahai Ruh Allah, sesungguhnya di dunia aku dulu terfitnah dengan rasa cinta kepada anak muda ini sehingga timbul nafsuku untuk melakukan sodorni dengannva. Maka tatkaia aku mati dan anak muda ini juga mati, ia pun dijadikan sebagai api yang membakarku dan sekali waktu aku dijadikan sebagai api yang membakarnya. Demikianlah adzab yang dititimpakan kepada kami sampai hari kiamat.”

Mari kita berlindung kepada Allah dari siksa-Nya, dan memohon ampun, ‘afiyah, serta petunjuk kepada perkara-perkara yang dicintai dan diridlai oleh-Nya.

Liwath Kecil

Termasuk kategori liwath, menggauli istri pada dubur (anus)nya yang termasuk perkara yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

Allah berfirman, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah
tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. ” (Al-Baqarah: 223)

Maksudnya bagaimana saja yang kamu kehendaki, dari arah depan atau pun belakang, tetapi pada satu tempat saja.

Sebab turunnya avat ini bahwa orang-orang Yahudi pada zaman Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam mengatakan, “Apabila seorang laki-laki menggauli istrinya pada kemaluannya dari arah belakang, niscaya akan lahir anak yang juling matanya.” Para sahabat menanyakan hal itu kepada Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam lalu Allah menurunkan avat tersebut sebagai sanggahan atas ucapan mereka.

Allah berfirman, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. ” (Al-Baqarah: 223). dari arah depan atau pun belakang, tetapi pada satu tempat saja. Yang penting tempatnya satu. (AI-Bukhari (4528) Muslim (1435))
Dalam satu riwavat dinyatakan, “Hindarilah dubur dan haid! (menggauli wanita pada dubur atau di saat datang bulan)” (Riwayat Ahmad (1/297), Ath-Thabari (2/235), Abu Ya’la (2736), An-Nasa`i At-Tafsir (60), sanadnya hasan)

Tempat yang satu yang dimaksud pada hadits di atas adalah kemaluan. Sebab ia adalah tempat menanam anak. Sedangkan dubur adalah tempat kotoran, menjiiikkan.

Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda,
”Terlaknatlah orang yang menggauli istrinya ketika haid atau pada anusnya.” Ahmad (4/444, 479) dan Abu Dawud (2162) kata yang kedua saja dan riwayatnya dari Abu Hurairah yaitu dalam Shahih Al-Jami’ (5889))
la juga meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa menggauli istri yang sedang haid atau pada duburnya, atau mendatangi seorang dukun, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Lafazh Adz-Dzahabi Dalam Al-Kaba’ir; Ahmad (2/408.486), Abu Dawud (3904), An-Nasa’I (1/78). At-Trmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Majah (639))
Demikianlah, barangsiapa menggauli istri yang sedang haid atau menggaulinva pada duburnya maka ia terlaknat dan termasuk golongan yang mendapat ancaman besar. Begitu pula dengan seseorang yang mendatangi seorang dukun atau sejenisnva -yang mengaku tahu tentang barang yang tercuri dan mengetahui perkara-perkara ghaib- lalu ia bertanva kepadanva dan membenarkan, mempercayainya.
Kebanyakan orang-orang jahil terperosok ke dalam perbuatan maksiat ini. Itu semua disebabkan oleh sedikitnya pengetahuan dan ilmu mereka. Berkait dengan ini Abu Darda’ berpesan, “Jadilah alim (orang yang berilmu), muta’allim (orang yang menuntut ilmu), mustami’ (orang yang mendengar iimu), atau muhibb (orang yang mencintai ilmu). dan jangan menjadi orang kelima sehingga kamu celaka. Dia adalah orang yang tidak berilmu, tidak belajar, tidak mendengar, dan tidak pula mencintai orang yang berilmu.”

Diwajibkan atas setiap orang bertaubat kepada Allah dari semua dosa dan kesalahan serta memohon ampunan kepada-Nya atas segala kejahilannya yang telah lalu juga’afiyah dalam sisa umurnya. Ya Allah, kami memohon ampunan dan ‘afiyah dalam urusan dien, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyayang.

****Wallahu A’lam****

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Kesesatan Sihir

SIHIR

Tukang sihir itu kafir.

Allah berfirman:
وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Akan tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah: 102)
Dalam mengajarkan sihir kepada manusia setan tidak mempunyai maksud kecuali agar ia menjadi musyrik.
Berkenaan dengan Harut dan Marut Allah berfirman, “Dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaiu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan, ”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dart’ keduanya apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan ijin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah tahu bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.” (Al-Baqarah: 102)

Anda dapat menyaksikan betapa banyak orang yang tersesat, memasuki wilayah sihir dan menyangka bahwa hukum sihir itu haram saja. Mereka tidak menyangka bahwa hukum sebenarnya adalah kufur.

Mereka mengajarkan ilmu Santet dan mengamalkannya, padahal ia sihir. Ada juga yang mengikat seseorang (mengguna-gunai, memelet) dari istrinya, dan yang sejenisnya dengan kalimat-kalimat tak bermakna yang kebanyakannya syirik dan kesesatan.

Hukuman bagi penyihir adalah dibunuh. Sebab sihir itu kufur kepada Allah atau mendekatinya. Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!” Lalu beliau menyebutkan diantaranya sihir.” (HR. Bukhari (2766))

Bajalah bin ‘Abdah berkata, “Telah sampai kepada kami surat dari Umar setahun sebelum wafat yang isinya,
اقْتُلُوا كُلَّ سَاحِرٍ
‘hendaknya kalian membunuh semua penyihir; laki-laki dan perempuan!” (HR. AI-Bukhari, Abu Dawud (3043), dan Ahmad)

Wahb bin Munabbih berkata, “Diantara buku-buku yang saya baca ada yang menyebut bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Aku. Bukanlah termasuk wali-Ku orang yang menyihir dan minta disihirkan. Juga orang yang praktek dukun dan yang minta jasanya. Juga orang yang bertathayyur (meramal nasib dengan burung) dan yang memintanya. ” (Abdurrazaq (20350); Thabrani; Al-Albani dalam Ash-Shahihah (2195)

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga orang tidak masuk surga; penenggak minuman keras, pemutus tali silaturrahim, dan pembenar sihir.” (HR. Ahmad (4/399), lbnu Hibban (5346), dan AI-Hakim (4/146))

Secara marfu’ Abdullah bin Masud meriwayatkan,
“Sesungguhnya Ruqa, Tamaim, dan Tiwalah itu termasuk syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud (3883), Ibnu Majah (3530))

Tamaim/ tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan oleh orang-orang jahil pada leher mereka, leher anak-anak mereka, dan binatang peliharaan mereka. Mereka menyangka benda itu dapat menangkal ‘ain. Ini termasuk amalan jahiliyah. Siapapun yang meyakininya telah syirik.

Tiwalah adalah salah satu jenis sihir. Yaitu mengguna-gunai perempuan agar mencintai suaminya. Hal ini dikategorikan sihir karena orang-orang yang jahil akan menyangka bahwa hal itu dapat memberikan pengaruh yang berbeda dengan taqdir Allah Subhanahu wa ta’ala.

Khaththabiy berkata, “Apabila ruqyah dilakukan dengan al-Qur’an atau dengan asmaul husna, hukumnya mubah. Sebab Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam pernah merugyah Hasan dan Husain. Beliau berucap:
” kalian berdua aku nuntakan perlindangan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, hamah, dan ‘ain lamah.” (HR. Bukhari (3371). Abu Dawud (4737),At-Tirmidzi (2060))

Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan, dan kepadaNya sajalah kita berserah diri.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Syirik

SYIRIK (Mempersekutukan Allah)

Kaba’ir terbesar adalah syirik, mempersekutukan Allah. Syirik ada dua; pertama menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah dan atau beribadah kepada selainNya, baik itu berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, guru, bintang, raja, atau pun yang lain. Inilah syirik besar yang tentangnya, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisa’: 48 dan 116)

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman:13)

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.”(Al-Maidah: 72)

Dan masih banyak lagi ayat yang berhubungan dengan masalah ini. Barangsiapa mempersekutukan Allah lalu mati dalam keadaan seperti itu sungguh ia termasuk penghuni neraka. Seperti halnya seseorang yang beriman kepada Allah lalu rnati dalam keadaan seperti itu maka is termasuk penghuni surga, walaupun mungkin diadzab di neraka terlebih dulu. Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

«أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟» ثَلاَثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ – وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ – أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ» ، قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ
“Maukah kalian aku beritaliukan apa kabair yang paling besar.” Beliau mengulang tiga kali. Para sahabat menjalvab, Tentu, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah bersabda, Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau bersandar lalu duduk dan melanjutkan,” Juga, kesaksian palsu, kesaksian palsu.” Begitu Rasulullah mengulang-ulang sampai-sampai kami mengatakan, “Andai beliau menghentikannya” (HR. Bukhari (2654, 5976, 6273), dan Muslim (87))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang memusnahkan” (HR. Bukhari (2766)). Beliau menyebutkannya dan diantaranya adalah syirik. Beliau juga bersabda:
مَنْ بَدَّلَ دَيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) bunuhlah ia.” (HR. Ahmad (2552) dan AI-Bukhari (3017.6922))
Kedua, menyertai amal dengan riya’. Allah berfirman, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.”(Al-Kahfi:110)

Maksud dari janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya’ hendaknya tidak menyertakan riya’ bersama amalnya. Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ان أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا وما الشرك الأصغر يا رسول الله قال الرياء يقول الله عز وجل لهم يوم القيامة إذا جزى الناس بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء
“Sesunggungnya yang aku takutkan untuk kalian adalah syirik kecil!” Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab, ‘Yaitu riya’. Pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan oleh manusia Allah berkata, Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah! Adakah pahala yang disediakannya?” (HR. Ahmad (23680); Ash-Shahihah (951))

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، فَمَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي، فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ
“Barangsiapa mengerjakan suatu amal, dalam hal itu ia mempersekutu seseorang denganku, maka amal yang dikerjakan itu untuk sekutu yang ia angkat. Dan aku berlepas diri darinya” (HR. Ibnu Majah (4202); Ahmad ; Muslim (2985))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
من سمع سمع الله به ومن رأيا رأيا الله به
“Barangsiapa berlaku sum’ah Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barangsiapa berlaku riya ‘ Allah akan memperlihatkan keburukannya”.(HR. Ahmad; AI-Bukhari (6499.7152). Muslim (2987).

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع وكم من قائم ليس له من قيامه الا السهر
“Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak rnendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan betapa ban yak orang yang bangun shalat rnalam tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain berjaga.” (HR. Ahmad; Shahih Al-Jami'(3490))

Maksudnva jika puasa dan shalat dikerjakan bukan untuk Allah ‘Azza wa Jalla maka tidak ada pahalanya.
Allah berfirman, “Dan Kami hadapi segala amalyang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)

Maksudnya amal-amal yang dikerjakan untuk selain mengharapkan wajah Allah, Allah membatalkan pahalanya serta menjadikannya bagai debu yang berterbangan, yaitu debu yang dapat dilihat dari sebuah celah di mana cahaya matahari masuk melaluinya.

Para ahli hikmah ditanya tentang orang yang ikhlas, mereka menjawab, “Yaitu yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya seperti halnya menyimpan keburukan-keburukannya.”

Ada pula yang ditanya tentang puncak ikhlas, mereka menjawab, “Hendaknya kamu tidak menyukai pujian dari manusia.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedangkan
mengerjakannya karena mereka itu syirik. Ikhlas adalah apabila Allah menjagamu dari keduanya.”

Ya Allah, jagalah kami dari keduanya dan ampunilah kami.

***Wallahu A’lam ***

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Durhaka Pada Orang Tua

MENDURHAKAI ORANG TUA

Allah berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al-Isra’: 23)

Yang dimaksud dengan ‘berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya’ adalah berbakti, mengasihi dan lemah lembut kepada keduanya. Yang dimaksud dengan ‘membentak mereka’ adalah berbicara secara kasar di kala keduanya memasuki usia senja.

Seyogyanyalah kita berkhidmah kepada keduanya sebagaimana mereka telah mengurus kita. Apapun, mereka tetap lebih baik. Bagaimana mungkin bisa sama. keduanya telah menanggung derita karena kita demi mengharapkan kehidupan kita, sedangkan kita jika pun menanggung derita karena keduanya kita mengharapkan kematian-nya.

Mana mungkin bisa sama? Adapun yang dimaksud dengan ‘perkataan yang mulia’ adalah perkataan yang lembut lagi santun.

Allah berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagai-mana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’: 24)

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Luqman: 14)

Mari kita renungkan, betapa Allah telah menyertakan syukur kepada keduanya dengan syukur kepadaNya.

Ibnu Abbas berkata, “Ada tiga ayat yang diturunkan oleh Allah bersama tiga penyertanya. Allah tidak akan menerima salah satunya jika tidak disertakan ikutannya. Yaitu firman Allah ‘Taatilah,Allah dan taatilah Rasul” (An-Nur: 54, Muhammad: 33 dan At-Taghabun:12)

Barangsiapa mentaati Allah tanpa mentaati Rasul, ketaatannya tidak diterima. Lalu firman Allah ‘Dan dirikanlah shalat serta bayarlah zakat!’ (Al-Baqarah: 43, 83, 110, An-Nisa’: 77, Al-Hajj: 78, An-Nur: 56, Al-Mujadalah: 13 dan Al-Muzzammil: 20) Barangsiapa shalat namun tidak berzakat, shalatnya tidak diterima. Serta firman Allah ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu!’ Barangsiapa bersyukur kepada Allah tetapi tidak bersyukur kepada kedua orang tua, Allah tidak menerimanya. Karenanya Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Keridhaan Allah ada pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah ada pula pada kemurkaan keduanya”. (HR. At-Tirmidzi (3424), AI-Bukhari dalam Al -Adab Al-Mufrad (2), Ibnu Hibban (429), dll)

Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bercerita, “Seseorang datang memohon izin kepada Nabi ; untuk ikut berjihad bersamanva. Nabi bertanya, “Adakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Ya.”, jawab orang itu. Beliau pun bersabda, “Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.”(HR. Bukhari (3004), Muslim (2549), An-Nasa’I (6’10). dan Ahmad (2/165))

Demikianlah, betapa Allah telah mengutamakan birrul walidain dan berkhidmah kepada keduanya dibandingkan jihad (ketika hukumnya fardlu kifayah, pent)!

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ
“Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa-dosa besar yang paling besar ? Yaitu mempersekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.”(HR. Bukhari (2654.5976, 6273), dan Muslim (87)

Di sini Allah menyertakan tindakan buruk serta ketiadaan bakti dan kebajikan terhadap keduanva dengan perbuatan syirik.

Keduanya juga meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan masuk surga seorang pendurhaka (kepada orang tua), mannan (orang yang berbuat baik kepada seseorang namun menyebut-nyebutnya di hadapan banyak orang). dan pecandu arak.”(HR. Ahmad (1/201). Ad-Darimi (2094))

Beliau Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, Andaikata Allah mendapatkan suatu hal yang lebih remeh dari kata ‘ah’ (yang dapat menyakiti hati orang tua) pastilah Dia melarangnya. Silakan saja seorang pendurhaka (kepada orang tua) itu mengerjakan apa saja yang dikehendakinya, namun sekali-kali ia tidak akan masuk surga. Sebaliknva silakan pula seorang yang berbakti kepada (kedua orang tua) itu mengerjakan apa saja yang dikehendakinya, niscaya sekali-kali ia tidak akan masuk neraka.”( Asy-Syuyuthi berkata dalam Ad-Durr)

Juga, “Allah melaknat orang yang mencela/ mencaci ayahnya, Allah melaknat orang yang mencela/ mencaci ibunva.”(HR. Ahmad (1/309), Ath-Thabrani (11546), Ibnu Hibban (4417))

Juga, “Segala dosa itu siksanya akan diakhirkan oleh Allah –sekehendak-Nya- sampai hari kiamat kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua. Sungguh Allah akan menyegerakan siksanya bagi siapa yang telah melakukannya.” Yaitu siksa di dunia sebelum datangnya siksa akhirat yang pasti adanya”. (HR. Ath-Thayalisi (880). Ahmad (536). Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (29.67), dll)

Ka’ab al-Ahbar bertutur, “Sesungguhnya Allah menyegerakan kematian seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya untuk menyegerakan siksa baginya. Dan Allah memperpanjang umur seseorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya untuk menambahkan kebaikan baginya. Termasuk berbakti kepada keduanya adalah menafkahi keduanya jika keduanva membutuhkannya.”

Seseorang menghadap Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam dan mengadu, “Wahai Rasulullah, bapakku ingin mengambil seluruh hartaku!” Maka beliau Sholallahu’alaihi wa sallam pun bersabda, “Kamu dan seluruh hartamu itu milik ayahmu.”(HR. Ibnu Majah (2291). Ath-Thahawi dalam Musykil(2/230))

Ka’ab al-Ahbar pernah ditanya tentang maksud durhaka kepada kedua orang tua. Dia menjawab, “jika ayah atau ibunya bersumpah, ia tidak memenuhinya. Jika ia diperintah olehnya, ia tidak mentaatinva.
Jika keduanya meminta sesuatu darinya, ia tidak memberinya. Dan jika keduanya mempercayainya, ia mengkhianati keduanya.”(HR. Wahb dalam Jami’-nya (89), Abdur Razzaq (11/137))

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu ditanya tentang ashhaabul a’raaf (para penghuni A’raf); siapakah mereka, apakah A’raf itu. la menjawab, “A’raf adalah sebuah bukit yang terletak di antara surga dan neraka. Disebut A’raf (yang tinggi) karena ia menjulang di atas surga dan neraka. Di sana ada pepohonan, buah-buahan, sungai-sungai dan mata air. Orang-orang yang menjadi penghuninya adalah orang-orang yang berangkat berjihad tanpa keridhaan ayah ibu mereka, lalu mereka terbunuh di medan jihad itu. Kematiannya di jalan Allah menghalanginya dari masuk neraka, tetapi kedurhakaannya kepada kedua orang tua menghalanginya dari masuk surga. Nah, mereka berada di A’raf itu sampai nanti Allah memutuskan perkara mereka” (HR. Ibnu Manshur dari Abu Masyar dari Yahya bin Syibl dari Yahya bin Abdurrahman Al-Madani dari Ayahnya secara marfu’)

Dalam Shahihain (Shahih Bukhari-Muslim) tersebutkan bahwa seseorang menghadap Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?” “Ibumu.”, jawab Rasul. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.”, jawab beliau kembali. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.”, jawab Rasul. “Lalu siapa lagi”, tanya orang itu. Rasul pun menjawab, “Ayahmu, lalu kerabatmu yang terdekat, begitu seterusnya. “(HR. Muslim (2548), Ibnu Majah (3658), dan Ahmad (2/391)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam memerintahkan berbakti kepada ibu sebanyak tiga kali dan kepada ayah sekali saja. Semua ini karena perhatian dan kasih sayang seorang ibu jauh lebih besar dari pada seorang ayah. Itupun masih ditambah dengan penderitaan selama hamil, kontraksi, kelahiran, menyusui, dan berjaga sepanjang malam.

Suatu ketika Ibnu Umar Rodhiallahu’anhu menyaksikan seorang laki-laki tengah menggendong ibunya, membawanya berthawaf mengelilingi Ka’bah. Orang itu bertanya, Wahai Ibnu Umar, adakah menurut Anda aku ini sudah dapat membalas kebaikan ibu?” “Bahkan tidak mesti untuk satu derita kontraksi kala melahirkanmu. Tapi kamu sudah berbuat baik. Semoga Allah membalas sesuatu yang sedikit itu dengan pahala yang banyak. “. jawabnya. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (11) akan tetapi dengan lafal la wa la bizafratin wahidatin)

Abu Hurairah Rodhiallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
Beliau bersabda, “Surga itu terletak di hawah telapak kaki para ibu.”( Ash-Shahihah (1248,1249))
Seseorang menemui Abu Darda’ Rodhiallahu’anhu mengadu, “Wahai Abu Darda’, aku telah menikahi seorang wanita, tetapi ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Mendengar hal itu Abu Darda’ menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang tua itu pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mau kamu bisa menghilangkan pintu itu atau menjaganya”. (HR. AI-Humaidi (395), Ibnu Abi Syaibah (8/540), Ahmad)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga do’a yang pasti terkabul; do’a orang yang terzhalimi, do’a seorang musafir, dan do’a orang tua untuk anaknya.”‘(HR. Bukhari dalam AI-Adab AI-Mufrad (32, 481), Abu Dawud (1536), At-Tirmidzi (1905, 3448), dll)

“Khalah (saudara perempuan ibu) itu sejajar dengan ibu” (HR. Bukhari (1844))

Yaitu harus berbakti kepadanya, memuliakannya, menyambung hubungan dengannya, dan berbuat baik kepadanya.”

Wahb bin Munabbih berkisah, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Musa “Hai Musa, hormatilah ayah ibumu. Barangsiapa menghormati kedua orang tuanya niscaya Aku panjangkan umurnya dan Aku karuniakan seorang anak yang menghormatinya. Sebaliknya, barang-siapa durhaka kepada kedua orang tuanya niscava Aku pendekkan umurnya dan Aku berikan seorang anak yang durhaka kepadanya.”

Abu Bakar bin Abi Maryam berkata, “Aku pernah membaca di dalam Taurat, barangsiapa memukul avahnya hukumannva dibunuh.”

Wahb berkata, “Aku telah membaca di dalam Taurat, barangsiapa menampar orang tuanya hukumannya dirajam.”

Umar bin Murrah al-Juhanniy meriwayatkan, seseorang menghadap Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku telah mengerjakan shalat lima waktu, shiyam di bulan Ramadlan, membayar zakat, dan berhaji ke baitullah? Apa yang dijanjikan untukku?” Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa menunai kan semuanya itu niscaya ia akan bersama dengan para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin. kecuali jika ia durhaka kepada orang tua” (Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Juga, “Pada malam aku di-isra ‘ -kan aku melthat kaum-kaum yang digantung di atas pepohonan dari api. Maka aku bertanya. ‘Wahai Jibril, siapa gerangan mereka itu? Jibril menjawab, Mereka adalah orang-orang yang mencela bapak-bapak dan ibu-ibu merekn kala di dunia.’

Diriwayatkan bahwa orang yang mencela kedua orang tuanya di aiam kubur nanti akan dihujani bebatuan sejumlah tetes air yang turun dari langit ke bumi.

Diriwayatkan Pula, apabila seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dikuburkan, kuburannya itu akan menghimpitnya sampai tulang-belulangnya bercerai-berai.
Juga bahwa manusia yang paling berat adzabnya pada hari kiamat ada tiga; orang musyrik, pezina, dan orang yang durhaka kepada orang tua.

Bisyr berkata, “Tidak ada seorangpun yang mendekat kepada ibunya demi mendengar pembicaraannya kecuali lebih utama dan pada orang yang menyabetkan pedangnva di jalan Allah. Memandangnya lebih utama dari pada memandang apapun.”

Sepasang suami istri yang bercerai mengadukan masalah siapa yang berhak untuk membawa anak mereka kepada Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam. suami berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah anakku yang keluar dari tulang sumsumku.” Si istri berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah membawanya dalam keadaan ringan dan mengeluarkannya dengan kesenangan. Sedangkan aku, membawanya dalam keadaan berat dan mengeluarkannya dengan susah payah. Pun aku menyusuinya genap dua tahun.” Maka Rasulullah memutuskan bahwa anak kecil itu untuk dibawa ibunya”.(HR. Ahmad (2/182), Abu Dawud (2276), Ad-Daruquthni (3/305), dll)

Wahai orang yang menyia-nyiakan hak yang paling besar, yang menjauhkan diri dari berbakti kepada kedua orang tua, yang durhaka, yang melupakan salah satu kewajiban, yang lalai dari sesuatu yang ada di hadapan, sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua itu adalah hutang bagimu. Sayang sekali kamu membayarnya dengan, cara yang tidak baik, penuh noda aib. Kamu sendiri sibuk mencari surga, padahal isaada di bawah telapak kaki ibumu. Ibumu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan yang bagaikan sembilan kali berhaji. la yang di kala melahirkanmu menderita mempertaruhkan nyawa. la yang telah menyusuimu, menahan kantuk untukmu, memandikanmu dengan tangannya yang lembut, dan selalu mendahulukanmu untuk urusan makanan. la yang pangkuannya telah menjadi tempat yang nyaman bagimu. la yang telah mencurahkan sepenuh kasih sayangnya kepadamu, jika kamu sakit atau tampak menderita niscaya ia berduka, bersedih dan menangis tiada batasnya. la pasti mengeluarkan semua yang dimilikinya demi mencarikan dokter buatmu. la yang seandainya diminta untuk memilih kehidupanmu atau kematiannya, pastilah ia teriakkan kehidupanmu dengan suara yang paling lantang .

Betapa sering kamu mempergaulinya dengan akhlak yang tercela, namun ia tetap memohonkan taufiq bagimu dalam setiap doanya. Ketika kerentaan menghampirinya, dan ia membutuhkanmu, kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang paling tidak berharga. Ketika kamu kenyang oleh makanan dan minuman, ia dalam lapar dan dahaga. Kamu selalu mengedepankan keluarga dan anak-anakmu dari pada berbuat baik kepadanya. Kamu telah melupakan semua upayanya. Urusannya kamu anggap sangat berat, padahal sebaliknya ia sangatlah ringan. Umurnya kamu anggap teramat panjang, padahal sebenarnya pendek. Kamu mengisolir dan meng-asingkannya, padahal ia tidak mendapati penolong selain dirimu. Demikian ini, pun Penolongmu telah melarangmu dari mengucapkan kata yang menyakitkannya dan menegurmu dengan teguran yang halus, di dunia kamu akan mendapati sikap durhaka dari anak-anakmu, dan di akhirat akan mendapati keadaan jauh dari Rabb semesta alam. Dia menyerumu, mengingatkanmu:

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ
“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan karnu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya harnba-hamba-Nya”. (Al-Hajj: 10)

Kita memohon kepada Allah semoga membimbing kita untuk menggapai keridhaannya dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pengasih.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Membunuh Jiwa

MEMBUNUH JIWA

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahannam, is kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, dan mengutukinya Berta menyediakan azab yang besar baginya”. (An-Nisa’: 93)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Maka barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh”. (Al-Furqan: 68-70)

“Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (mem-bunuh) orang lain, atau bukan karena mernbuat kerusakan di muka burni, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya.” (Al-Maidah: 32)

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (At-Takwir:8-9)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan!” (HR. Bukhari (2766))

Lalu beliau menyebut salah satunya membunuh seorang manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkanNya. Seseorang bertanya kepada Nabi “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ta’ala?” Beliau menjawab, “Apabila kamu mengangkat tandingan bagi Allah, padahal Dia yang menciptakanmu.” Orang itu bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kamu bunuh anakmu karena khawatir akan makan bersamamu.” Orang itu bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kamu berbuat zina dengan istri tetanggamu.” Lalu Allah menurunkan pembenaran atas sabda Nabi tersebut;

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (Al-Furqan: 68)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ» ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المَقْتُولِ قَالَ: «إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ»
” Apabila dua orang muslim bertemu dengan pedang terhunus, orang yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, tentang yang membunuh bisa dimengerti, bagaimana dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia sebenarnya sangat ingin untuk membunuh temannya. ” (HR. Bukhari (31); Muslim; Ahmad, dll)

Abu Sulaiman memberi penjelasan, “Hadits ini berlaku jika dua orang itu saling berbunuhan karena selain ta’wil. Artinya jika keduanya berbunuhan karena kebencian yang ada diantara keduanya, ‘ashabiyyah, mencari dunia, kekuasaan, atau derajat duniawi. Sedangkan orang yang memerangi ahlul-baghy (kaum pemberontak terhadap amirul mukminin) sesuai dengan adab yang berlaku dalam kasus itu, atau membela diri dan atau keluarganya, maka tidak termasuk ke dalam pengertian hadits ini. Sebab berperang dalam rangka membela diri dengan tanpa maksud membunuh itu diperintahkan, kecuali jika orang itu sangat ingin membunuh orang yang membela diri, maka ia mesti melawannya; membunuhnya. Barangsiapa membunuh pemberontak atau perampok sebenarnya ia tidak menginginkan untuk membunuhnya. Sebenarnya ia hanya membela diri. Oleh karena itu jika pemberontak menghentikan tindakannya, tidak boleh diteruskan dan tidak boleh pula dikejar. Hadits ini tidak membicarakan orang-orang itu. Adapun selain orang-orang itu, artinya orang yang masuk ke dalam konteks hadits di atas, wallahu a’lam. Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
“Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku nanti, yaitu kalian saling berbunuhan!” (HR. Muslim (66); Bukhari; Ahmad, dll)

Beliau juga bersabda:
لَنْ يَزَالَ المُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ، مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا
“Seorang hamba tetap berada di atas kelapangan diennya sesama belum menumpahkan darah haram (membunuh sesama muslim)”. (HR. Bukhari (6862); Ahmad)

Nabi juga bersabda:
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ
“Perkara yang pertama kali disidangkan di antara manusia pada hari kiamat nanti adalah perkara darah.” (HR. Bukhari (6864); Muslim; Ahmad, dll)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
” Luluh lantaknya dunia lebih rendah di sisi Allah dari pada pembunuhan atas seorang mukmin ” (HR. Tirmidzi (1395); An-Nasa’i)

الكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَاليَمِينُ الغَمُوسُ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، أَوْ قَالَ: وَقَتْلُ النَّفْسِ
Rasul Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Yang termasuk dosa besar itu adalah; menye-kutukan Allah, sumpah palsu, durhaka pada orangtua, beliau bersabda: membunuh orang.” (HR. Bukhari (6870); Tirmidzi; Nasa’i)

Beliau bersabda:
«لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ القَتْلَ»
“Tidak ada jiwa yang terbunuh secara zhalim kecuali anak Adam yang pertama ikut menanggungnya. Sebab dialah yang pertama kali mengajarkan pembunuhan.” (HR. Bukhari (3335); Muslim)

Beliau bersabda:
«مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
“Barangsiapa membunuh orang kafir yang mengikat perjanjian dengan negara Islam ia tidak akan mencium bau harum surga. Dan sungguh harum mewanginya sudah dapat dihirup dari jarak empat puluh tahun perjalanan.” (HR. Bukhari (3166); Ahmad; Ibnu Majah; An-Nasa’i)

Jika untuk membunuh orang yang terikat perjanjian saja sedemikian halnya, lalu bagaimana dengan membunuh seorang muslim?

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلاَ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهِدًا لَهُ ذِمَّةُ اللهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَقَدْ أَخْفَرَ بِذِمَّةِ اللهِ، فَلاَ يُرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ خَرِيفًا.
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa barangsiapa membunuh jiwa yang terikat dengan dzimmah (perlindungan) dari Allah dan Rasul-Nya berarti ia telah membatalkan dzimmah Allah, dan tidak akan mencium wangi surga. Dan sungguh harum wangi surga itu telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Tirmidzi (1403), Ibnu Majah (2687), dan Al-Hakim (2/127))

Sahabat Mu’awiyah meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَغْفِرَهُ، إِلَّا مَنْ مَاتَ مُشْرِكًا، أَوْ مُؤْمِنٌ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا
“Setiap dosa itu bisa saja Allah mengampuninya kecuali seseorang yang mati dalam keadaan musyrik atau seseorang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. ” (HR. Abu Dawud (4270), Ibnu Hibban (5980), dan Al-Hakim (4/351))

Kepada Allah kita memohon ‘afiyah (kesejahteraan batin).

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Meninggalkan Sholat Fardhu

MENINGGALKAN SHALAT

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat (dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh”.(Maryam: 59-60)

Ibnu Abbas herkata, ”Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggaikannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari wakru yang seharusnya.” (Ibnu Jarir (16/75))

Imam para tabi’in, Said bin Musayyab berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shalat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shalat Ashar sehingga datang waktu Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang Isya’. Tidak shalat ‘Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shalat Shubuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukann hal ini dan tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya ‘Ghayy’, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”

Di tempat yang lain Allah berfirman:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan shalat.
Mereka disebut orang-orang yang shalat. Namun ketika mereka meremekan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan ‘wail’, adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘wail’ adalah sebuah lembah di neraka jahannam, jika gunung-gunung yang ada di dunia ini dimasukkan ke sana niscaya akan melelehlah semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah ta’ala dan menyesal atas kelalaiannya.

Di ayat yang lain Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakntu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Para mufassir menjelaskan, “Maksud ‘mengingat Allah’ dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Maka barangsiapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah-ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan shalat pada waktunya, maka is terrnasuk orang-orang yang merugi.” Demikian, dan Nabi pun telah bersabda:
أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح له سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله
“Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.” (Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3016); Ash-Shahihah (1358)

Berkenaan dengan penghuni neraka Allah berfirman, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”.Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (Al-Muddatstsir: 42-48)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
“Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.” (Ahmad (5/346), At-Tirmidzi (2621), An-Nasa’i (1/231), Ibnu Majah (1079), dll)
Beliau juga bersabda:

“Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad (3/370). Muslim (82), At-Tirmidzi (2618))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:
“Barangsiapa tidak mengerjakan shalat ‘Ashar, terhapuslah amalnya.” (Ahmad (5/349), Al-Bukhari (553). An-Nasa’i (1/236). Ibnu Majah (694))

Juga,
“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja. sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah.” (HR. Ahmad (5/238). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir)

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
Juga, “Aku diperintahkan untuk rnemerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan shalat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah.” (HR. Bukhari (25) dan Muslim (22))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, Hainan, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad (2/169). Abd bin Humaid (353). Ad-Darimi (697.698))

Umar bin Khathab berkata, “Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.” (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad (3/350), Muhammad bin Nashr dalam Ash-Shalah (925) Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (103), dan Ad-Daruquthni (2/52).

Sebagian ulama berkata, “Hanya saja orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/ jabatan, dan perniagaannya dari shalat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/ jabatannya ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu.”

Mu’adz bin Jabal meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah ‘Azza wa Jalla” ((HR. Ahmad (5/238). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir)

Kala Umar terluka karena tusukan seseorang mengatakan, “Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amirul Mukminin?” “Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.”, jawabnya. Lalu ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak. (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad (3/350), Muhammad bin Nashr dalam Ash-Shalah (925) Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (103), dan Ad-Daruquthni (2/52).

Abdullah bin Syaqiq -seorang tabi’in- menuturkan, “Tidak ada satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain shalat.” (HR. Ibnu Abi Syaibah; At-Tirmidzi (2622)
Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat, menjawab, “Barangsiapa tidak shalat telah kafirlah ia.” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’; Shahih At-Targhib (230))
Ibnu Masud berkata, “Barangsiapa tidak shalat maka ia tidak mempunyai dien.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (2/184); Ath-Thabrani dalam Al-Kabir)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya.” (Muhammad bin Nashr secara mauquf)

Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik selain mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya.”

Ibrahim an-Nakha’iy berujar,”Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir.” Hal senada diungkapkan oleh Ayyub as-Sikhtiyaniy.

‘Aun bin Abdullah berkata, “Apabila seorang hamba dimasukkan ke dalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya).”
Marilah kita memohon taufiq kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Pengasih diantara mereka yang mengasihi.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Tidak Berpuasa Ramadhan Tanpa Alasan Syar’i

BERBUKA DI SIANG HARI PADA BULAN RAMADHAN TANPA UDZUR

Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Hai orang-orang yang berirnan, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah: 183-184)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
” بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ”
“Islam itu dibangun di atas lima pondasi; kesaksian bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji he Baitullah, dan puasa Ramadlan” (HR. Bukhari (8) dan Muslim (16))

Ibnu Abbas berkata, “Tali ikatan Islam dan pokok-pokok dien itu ada tiga; kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, shalat, dan puasa Ramadhan. Barangsiapa meninggalkan salah satunya, niscaya telah kafirlah ia. ” Kami berlindung kepada Allah dari hal itu.” (HR. Abu Ya’la (2345), AI-Lalikai (1/202/1) secar marfu’)

*** Wallahu A’lam ***

, , , , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Agustus 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031