Memadamkan Kobaran Api Syetan

Diriwayatkan dari Abu Tayyah, dia berkata:
“Aku bertanya kepada Abdur Rahman bin Khanbasy At Tamimi yang pada waktu itu sudah tua usia, apakah anda bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam? dia berkata; Ya. (Abut At Tayyah Rahimahullah) berkata; apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam ketika datang setan kepadanya?.

Beliau berkata; ” Setan datang secara bergemuruh kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada malam itu dari lembah-lembah dan bukit-bukit dan di antara mereka ada yang membawa obor di tangannya, hendak membakar wajah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu Jibril Alaihissalam turun kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan berkata; wahai Muhammad ucapkanlah! Beliau bertanya, “Apa yang saya harus ucapkan?” (Jibril alaihissalam) berkata; bacalah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan yang Dia ciptakan, yang Dia buat dan yang Dia adakan dan dari kejelekan apa saja yang turun dari langit dan dari kejelekan apa saja yang naik padaNya, dan dari kejelekan fitnah malam dan siang, dan dari kejelekan yang datang pada malam hari kecuali yang datang dengan kebaikan wahai Dzat yang Maha Pengasih”.

Abdurrahman Radhiallahu’anhu melanjutkan:
“Api mereka padam dan Allah Tabaaroka wa ta’ala menghancurkan mereka” (HR. Ahmad, no. 15460; Lih. Shohih Al-Jami’, no. 74)

Wallahu A’lam

, , ,

Tinggalkan komentar

Penawar Hati dengan Al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Q.S Yunus: 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian” (Q.S Al-Isra’: 82)

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”” (QS. Al-Fushshilat: 44)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
“Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari, no. 52)

Berkata Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:
اَلْقَلْبُ مَلِكٌُ وَالْأَعْضَاءُ جُنُوْدُهُ، فَإِذَا طَابَ الْمَلِكُ طَابَتْ جُنُوْدُهُ، وَإِذَا خَبُثَ الْمَلِكُ خَبُثَتْ جُنُوْدُهُ
“Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentaranya, apabila baik rajanya maka baik juga tentaranya, apabila buruk rajanya maka buruk juga tentaranya” (Riwayat Abdurrazaq dalam Al-Mushonnif XI/221, no. 20375)

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri Rahimahulloh berkata:
فداو قلبك فإن حاجة الله إلى عباده صلاح قلوبهم
“Obatilah hatimu, sebab kebutuhan Allah terhadap hamba-Nya terletak pada baiknya hati” (Hilyatul Auliyaa’ (II/176, no. 1832)

Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahulloh berkata:
فَمَنْ لَمْ يَشْفِهِ الْقُرْآنُ فَلَا شَفَاهُ الله، وَمَنْ لَم يَكْفِهِ فَلَا كَفَاهُ الله
“Barangsiapa yang tidak bisa disembuhkan dengan Al-Qur’an berarti Allah tidak memberikan kesembuhan padanya, dan barangsiapa tidak dicukupkan oleh Al-Qur’an maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya” (Zaadul Ma’ad (IV/352))

Beliau juga berkata:
اُطْلُبْ قَلْبَكَ فِيْ ثَلاَثِ مَوَاطِنَ: عِنْدَ سَماعِ الْقُرْآنِ، وَفِيْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ، وَفِيْ أَوْقَاتِ الْخُلْوَةِ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِيْ هَذِهِ الْمَوَاطِنِ، فَسَلِ اللهَ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍِ، فَإِنَّهُ لَا قَلْبَ لَكَ
“Carilah hatimu pada 3 tempat: 1- Saat mendengarkan Al-Qur’an, 2- Ketika dalam majelis dzikir, dan 3- Di saat sedang menyendiri. Jika kamu tidak mendapatinya pada ketiga tempat tadi, maka memohonlah kepada Allah agar kamu diberi hati, karena kamu tidak memiliki hati lagi” (Al-Fawa’id, Hal: 219; Cet. Dar: Al-Hadits)

Ibrahim Al-Khowwash Rahimahullah berkata:
دَواء القلب خَمْسَةُ أَشْيَاءَ
١ – قراءةُ القرآن بالتدبّر
٢ – وخلاَءُ البطنِ
٣ – وقيامُ الليلِ
٤ – والتضرعُ عِندَ السَّحَرِ
٥ – وَمُجَالَسَة الصَّالِحِينَ
Obat hati ada 5 perkara:
1. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur
2. Perut yang kosong (berpuasa)
3. Sholat malam
4. Berdo’a dengan penuh tawadhuk di penghujung malam
5. Bermajelis bersama orang-orang sholeh
(Lih. At-Tibyan fiy Adab Hamalat Al-Qur’an, Hal. 84-85; Cet. Dar Ibnu Hazm)

Wallahu A’lam

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

*** Bertasbihlah ***

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Barangsiapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan aku memujiNya” dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih air laut.” (HR. Muslim, no. 2691)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI
WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya)
sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang
akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau
lebih dari itu”
(HR. Muslim no. 2692)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَـانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Dua kalimat yang ringan di lidah, pahalanya berat di timbangan (hari Kiamat) dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, adalah: Subhaanallaah wabi-hamdih, subhaanallaahil ‘azhiim” (HR. Muslim, no. 2694)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
لأَنْ أَقُوْلَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh, apabila aku membaca: ‘Subhaanallah walhamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar’. Adalah lebih senang bagiku dari apa yang disinari oleh matahari terbit”
(HR. Muslim, no. 2695)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh Radhiallahu’anhu, beliau berkata:
“Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu beliau bertanya:
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ
“Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan tiap hari?”. Salah seorang di antara yang duduk bertanya: “Bagaimana di antara kita bisa memperoleh seribu kebaikan (dalam sehari)?” Rasul bersabda: “Hendaklah dia membaca seratus tasbih, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau seribu kejelekannya dihapus” (HR. Muslim, no. 2698)

Dari Jabir Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda
مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membaca: Subhaanallaahi ‘azhiim wabihamdih, maka ditanam untuknya sebatang pohon kurma di Surga” (HR. At-Tirmidzi, no. 3464)

Wallahu A’lam

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Keutamaan Sang Hawariy Rasulullah “Zubair bin Awwam”

• Sang Hawariy Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wa sallam
Dari Jabir, ia berkata, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda pada saat perang Ahzab:
« مَنْ يَأْتِينِى بِخَبَرِ الْقَوْمِ يَوْمَ الأَحْزَابِ » . قَالَ الزُّبَيْرُ أَنَا . ثُمَّ قَالَ « مَنْ يَأْتِينِى بِخَبَرِ الْقَوْمِ » . قَالَ الزُّبَيْرُ أَنَا . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ لِكُلِّ نَبِىٍّ حَوَارِيًّا ، وَحَوَارِىَّ الزُّبَيْرُ »
“Siapa yang akan mencari berita tentang musuh? ” Az-Zubair menjawab, “Aku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Siapa yang akan mencari berita tentang musuh?” Az-Zubair menjawab, “Aku.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Siapa yang akan mencari berita tentang musuh?” Az-Zubair menjawab, “Aku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Setiap nabi mempunyai penolong, dan sesungguhnya penolongku adalah Az-Zubair [Ibnul ‘Awwam] (HR. Bukhari, no. 2846)

• Salah Seorang yang Dikabarkan Surga Untuknya
Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam sedang berada di atas gunung Hira’. Tiba-tiba gunung tersebut bergerak, maka Rasulullah berkata:
اسْكُنْ حِرَاءُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ
“Hai Hira’, tenanglah! Tidak ada orang yang berada di atasmu melainkan seorang nabi, atau seorang shiddig, ataupun seorang syahid”
Pada saat itu, di atas gunung Hira’ tersebut, ada Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Said bin Abu Waqqash, semoga Alloh meridhai mereka (HR. Muslim, no. 2417)

• Jaminan Surga dari Rasulullah Untuknya
Dari Abdurrahman bin Auf, ia berkata: Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ
“Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga. Abdurrahman bin Auf di surga, Sa ad di surga, Sa ‘id di surga, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah di surga. ” (HR Tirmidzi no.3747)

• Kesungguhannya Membela Rasulullah dalam Jihad
Dari Urwah bin Zubair, dia berkata, “Aisyah pernah berkata kepadaku:
كَانَ أَبَوَاكَ مِنَ { الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمْ الْقَرْحُ
“Dua orang ayahmu itu termasuk orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya setelah mereka terluka oleh senjata” (Shohih Muslim, no. 2418)
Menurut suatu riwayat yang dimaksud Aisyah dengan dua orang ayah adalah Abu Bakar dan Zubair Radhiallahu’anhuma.

• Pernah Terluka Bersama Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam
Dari Hisyam bin Urwah, ia berkata:
أَوْصَى الزُّبَيْرُ إِلَى ابْنِهِ عَبْدِ اللَّهِ صَبِيحَةَ الْجَمَلِ فَقَالَ مَا مِنِّي عُضْوٌ إِلَّا وَقَدْ جُرِحَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى انْتَهَى ذَاكَ إِلَى فَرْجِهِ
“Zubair mewasiatkan kepada puteranya, Abdullah, pada pagi hari perang Jamal. Ia berkata:
‘Tidak ada anggota tubuhku kecuali pernah terluka bersama Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam. ‘ Luka itu sampai (mengenai) kemaluannya” (Jami’ Tirmidzi no. 3746)

Semoga Allah Meridhoi beliau…

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Membangun Rumah di Surga

Dari  Ummu Habibah Radhiallahu’anha, beliau mengatakan; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa shalat dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga”

 

 Ummu Habibah berkata;

فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 “Maka aku tidak akan meninggalkan dua belas rakaat itu semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

 

Dan Anbasah juga berkata;

عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ

“Maka aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Ummu Habibah”.

 

Dan ‘Amru bin Aus juga berkata;

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ

 “Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Anbasah”.

 

Nu’man bin Salim juga berkata;

مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ

“Aku tidak akan meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari ‘Amru bin Aus”

 (Lihat Shohih Muslim, hadits no. 728)

 

Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ، بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ، أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

 “Barangsiapa menjaga dua belas raka’at shalat sunnah maka akan dibangunkan baginya rumah di surga; empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelah zhuhur, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya dan dua raka’at sebelum fajar” (HR. Ibnu Majah no. 1140)

 

Wallahu A’lam

 

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Berbuat Dusta Terhadap Allah atau Rasulullah

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman:

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِينَ

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam” (Az-Zumar: 60)

Menafsirkan ayat di atas, Al-Hasan berkata:

هم الذين يقولون إن شئنا فعلنا وإن شئنا لم نفعل

“Mereka adalah orang-orang yang mengatakan, ‘Jika kami mau kami pasti melakukan dan jika kami tidak mau kami pun tidak melakukannya’” (Al-Kaba’ir)

Ibnul Jauzi berkata,

وقد ذهب طائفة من العلماء إلى أن الكذب على الله وعلى رسوله كفر ينقل عن الملة ولا ريب أن الكذب على الله وعلى رسوله في تحليل حرام وتحريم حلال كفر محض وإنما الشأن في الكذب عليه فيما سوى ذلك

“Sekelompok ulama berpendapat bahwa berbuat dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya merupakan perbuatan kufur, mengeluarkan pelakunya dari Agama. Tidak disangsikan lagi bahwa berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam masalah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah benar-benar kufur. Namun yang masih diperbincangkan adalah berdusta dalam masalah-masalah selainnya” (Al-Kaba’ir)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ كِذْبَةً مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَضْجَعًا مِنْ النَّارِ أَوْ بَيْتًا فِي جَهَنَّمَ

 “Barangsiapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, hendaklah bersiap-siap menempati tempat berbaring dari api atau sebuah rumah di Jahannam” (HR. Ahmad)

Sabdanya lagi:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa secara sengaja berbuat dusta terhadapku hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (Lih. Shohihul Jami’ no. 6519)

Sabdanya lagi:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Barangsiapa meriwayatkan suatu hadits dariku namun dia berpendapat bahwa isinya adalah dusta, maka ia termasuk salah satu pendusta” (HR. Ibnu Majah no. 39)

Sabdanya:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berbuat dusta terhadapku itu tidak sama dengan berbuat dusta terhadap selain dariku. Barangsiapa secara sengaja berbuat dusta terhadapku hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (HR. Bukhari no. 1291)

Sabdanya:

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan sesuatu dariku padahal aku tidak mengatakannya hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (HR. Bukhari no. 109)

Semoga Allah member taufik dan perlindungan. Sesungguhnya Dia Maka Pemurah lagi Maha Mulia

Wallahu A’lam

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Hukum Ucapan Selamat Natal

Nabi kita yang Mulia Sholallahu’alaihi wa sallam melarang kita untuk mengucapkan salam kepada kaum Yahudi dan Nasrani berdasarkan sabdanya:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ

“Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani mengucapkan selamat” (HR. Muslim no. 2167)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya (QS. Al-Furqon: 72)

Tentang “Laa Yasyhaduuna Az-Zuur”, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata:

أبو العالية وطاوس وابن سيرين والضحاك والربيع بن أنس وغيرهم هو أعياد المشركين قال

Berkata Abul’ Aliyah, Thowus, Ibnu Sirin, Dhohak dan Ruba’I bin Anas dan selainnya ini maknanya adalah “Hari raya orang-orang musyrik” (Tafsir Ibnu Katsir)

Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah orang-orang kafir saat hari raya mereka” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi)

Dari Atho’ bin Yasar, Umar Radhiallahu’anhu berkata:

إياكم ورطانة الأعاجم، وأن تدخلوا على المشركين يوم عيدهم في كنائسهم

“Jauhilah oleh kalian hari-hari besar orang ‘ajam dan jangan kalian mendatangi hari besar kaum musyrik di gereja-gereja mereka.” (Riwayat Abdurrozaq; Iqtidho’ Shirothol Mustaqim)

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiallahu’anhuma berkata:

مَنْ بَنَى بِبِلاَدِ الْأَعَاجِمِ وَصَنَعَ نِيْرُوْزَهُمْ وَمَهْرَجَانِهِمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوْتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشْرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menetap di negeri kaum musyrik dan ia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru perilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih; Iqtidha’ Shiratohol Mustaqim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata:

فلا فرق بين مشاركتهم في العيد وبين مشاركتهم في سائر المناهج، فإن الموافقة في جميع العيد موافقة في الكفر، والموافقة في بعض فروعه موافقة في بعض شعب الكفر، بل إن الأعياد من أخص ما تتميز به الشرائع، ومن أظهر ما لها من الشعائر، فالموافقة فيها موافقة في أخص شرائع الكفر وأظهر شعائره، ولا ريب أن الموافقة في هذا قد تنتهي إلى الكفر في الجملة بشروطه

“Maka tidak ada bedanya antara bergabung dengan mereka dalam hari raya mereka dan antara bergabung dengan mereka dalam seluruh manhaj (jalan, system pemahaman), karena menyetujui seluruh hari raya itu adalah menyetujui kekafiran, dan menyetujui sebagian cabangnya itu adalah menyetujui sebagian cabang kekafiran. Bahkan hari-hari raya itu termasuk paling khas dari apa yang menandai syari’at, dan termasuk yang paling tampak di antara syiar-syiar, maka menyetujuinya adalah menyetujui syari’at kekafiran yang paling khusus dan syiar kekafiran yang paling nyata. Dan tidak diragukan lagi bahwa menyetujui hal ini sungguh telah sampai pada kekafiran dalam keseluruhan dengan syarat-syatanya” (Iqtidha’ Shiratohol Mustaqim)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahulloh berkata:

وَأَﻣﱠﺎ اﻟﺘﱠﻬْﻨِﺌَﺔ ﺑِﺸَﻌَﺎﺋِﺮ المختصة به فحرام بالاتفاق مثلْ أَن ﻳُﻬَﻨﱢﺌَﻬُﻢ ﺑِﺄَﻋْﻴَﺎدِﻫِﻢ وصومهم.

 “Adapaun tahni’ah (ucapan selamat) akan Syiar-syiar mereka yang khusus dengannya (yakni: dengan agamanya), maka haram dengan kesepakatan (antar ulama), seperti mengucapkan selamat atas ied-ied mereka dan puasa-puasa mereka.” (Ahkaam Ahl Dzimmah, 1/441)

Syubhat dan Bantahan

Sebagian orang berpendapat bolehnya mengucapkan selamat natal dengan dalil:

Syubhat Pertama:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S: Al-Mumtahanah ayat 8)

 Bantahan:

Berbuat baik kepada kaum kafir tidak harus menyetujui perayaan kekufuran mereka, karena ini termasuk tolong-menolong dalam hal kekafiran, bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

  وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

 “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (Q.S: Al-Ma`idah ayat 2)

 Ucapan selamat dan Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.

 Syubhat Kedua:

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (QS. An-Nisaa’ ayat 86)

 Bantahan:

Tentang ayat ini, Imam ahli tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata:

فأما أهل الذمة فلا يبدؤن بالسلام ولا يزادون بل يرد عليهم بما ثبت في الصحيحين عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا سلم عليكم اليهود فإنما يقول أحدهم السام عليكم فقل وعليك

Terhadap ahli zimmah (Kafir zimmi), mereka tidak boleh dimulai dengan salam; dan jawaban terhadap mereka tidak boleh dilebihkan, melainkan hanya dibalas dengan singkat, seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain melalui Ibnu Imar, bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka sebenarnya yang diucapkan mereka adalah Kebinasaan semoga menimpamu, maka katakanlah “Dan semoga kamu juga mendapat yang serupa” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Syubhat Ketiga:

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam ayat 15)

 Bantahan:

Maksud dari ayat ini ditujukan kepada Nabi Yahya ‘Alaihissalam, bukan Yesus (Tuhannya orang Nasrani).

 Sufyan bin Uyainah mengatakan:

أوحش ما يكون امرء في ثلاثة مواطن يوم يولد فيرى نفسه خارجا مما كان فيه ويوم يموت فيرى قوما لم يكن عاينهم ويوم يبعث فيرى نفسه في محشر عظيم قال فأكرم الله فيها يحيى بن زكريا فخصه بالسلام عليه فقال « وسلام عليه يوم ولد ويوم يموت ويوم يبعث حيا »

“Bahwa hal yang paling mengerikan bagi seseorang ialah di tiga keadaan, yaitu: Saat dia dilahirkan karena dia melihat dirinya keluar dari tempat pertamanya. Saat dia mat, maka ia melihat kaum yang belum pernah disaksikannya. Dan saat dia dibangkitkan hidup kembali, maka ia melihat dirinya berada di padang mahsyar yang luas. Allah memuliakan Yahya bin Zakaria ‘Alayhimassalam dengan memberinya kesejahteraan dalam tiga hal itu, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya ……….(Ayat di atas)” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Syubhat Keempat:

Mereka berdalil dengan hadits “Sayangilah orang yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu”.

 Bantahan:

Menyayangi kaum kafir adalah dengan mendakwahi mereka agar meninggalkan kekufuran mereka, bukan dengan mengatakan selamat atas kekufuran mereka. Bukankah ‘Isa ‘Alayhissalam yang mereka sembah juga mengingkari perbuatan mereka:

 وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ

 “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib” (QS. Al-Maidah ayat 116)

 

Syubhat Kelima:

Mereka juga berdalil dengan hadits “Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka aku akan menjadi lawannya di hari kiamat”

 Bantahan:

Tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita menyakiti kafir dzimmi, makna menyakiti dalam hadits di atas bisa berarti menzholimi atau memukul, sebagaimana di dalam Shohih Muslim Nabi menegur sahabat Anshor yang menampar seorang Yahudi, dan termasuk larangan adalah membunuh kafir dzimmi, ini jelas dilarang sebagaimana hadits Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam:

أَلَا مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهِدًا لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَقَدْ أَخْفَرَ بِذِمَّةِ اللَّهِ، فَلَا يُرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Ketahuilah bahwa barangsiapa membunuh jiwa yang terikat dengan dzimmah (perlindungan) dari Allah dan Rasul-Nya berarti ia telah membatalkan dzimmah Allah, dan tidak akan mencium wangi surga. Dan sungguh harum wangi surga itu telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Tirmidzi no. 1403)

 

Dengan demikian ucapan selamat natal tidak selayaknya diucapkan oleh seorang Muslim dan Muslimah

 

Wallahu A’lam

 

 

 

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Jangan Sia-siakan Sholat Bung

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh”.(Maryam: 59-60)

Ibnu Abbas Rodhiallahu’anhuma herkata,
ليس معنى أضاعوها تركوها بالكلية ولكن أخروها عن أوقاتها
”Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggakannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.” (Ibnu Jarir (16/75))

Imam para tabi’in, Said bin Musayyab Rohimahulloh berkata,
هو أن لا يصلي الظهر حتى يأتي العصر ولا يصلي العصر إلى المغرب ولا يصلي المغرب الى العشاء ولا يصلي العشاء الى الفجر ولا يصلي الفجر إلى طلوع الشمس فمن مات وهو مصر على هذه الحالة ولم يتب وعده الله بغي وهو واد في جهنم بعيد قعره خبيث طعمه
“Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shalat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shalat Ashar sehingga datang waktu Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang Isya’. Tidak shalat ‘Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shalat Shubuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukann hal ini dan tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya ‘Ghayy’, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.” (Al-Kaba’ir)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia” (Ahmad (5/346), At-Tirmidzi (2621), An-Nasa’i (1/231), Ibnu Majah (1079), dll)

Beliau juga bersabda:
Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad (3/370). Muslim (82), At-Tirmidzi (2618))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:
Barangsiapa tidak mengerjakan shalat ‘Ashar, terhapuslah amalnya.” (Ahmad (5/349), Al-Bukhari (553). An-Nasa’i (1/236). Ibnu Majah (694))

Juga,
Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja. sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah.” (HR. Ahmad (5/238). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir)

Kala Umar bin Khattab terluka karena tusukan seseorang mengatakan,
الصلاة يا أمير المؤمنين قال نعم أما إنه لا حظ لأحد في الإسلام أضاع الصلاة وصلى رضي الله عنه وجرحه يثعب دما
“Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amirul Mukminin?”. Beliau Radhiallahu’anhu berkata: “Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.”, jawabnya. Lalu ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak. (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad (3/350), Muhammad bin Nashr dalam Ash-Shalah (925) Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (103), dan Ad-Daruquthni (2/52).

Abdullah bin Syaqiq -seorang tabi’in- menuturkan,
كان أصحاب رسول الله لا يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة
“Tidak ada satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain shalat.” (HR. Ibnu Abi Syaibah; At-Tirmidzi (2622)

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat, menjawab,
من لم يصل فهو كافر
“Barangsiapa tidak shalat telah kafirlah ia.” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’; Shahih At-Targhib (230))

Ibnu Masud berkata,
من لم يصل فلا دين له
“Barangsiapa tidak shalat maka ia tidak mempunyai dien.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (2/184); Ath-Thabrani dalam Al-Kabir)

Ibnu ‘Abbas berkata,
من ترك صلاة واحدة متعمدا لقي الله تعالى وهو عليه غضبان
“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya.” (Muhammad bin Nashr secara mauquf; Al-Kaba’ir)

‘Aun bin Abdullah berkata,
إن العبد إذا أدخل قبره سئل عن الصلاة أول شيء يسأل عنه فإن جازت له نظر فيما دون ذلك من عمله وإن لم تجز له لم ينظر في شيء من عمله بعد
“Apabila seorang hamba dimasukkan ke dalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya).” (Al-Kaba’ir)

Marilah kita memohon taufiq kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Pengasih diantara mereka yang mengasihi.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Derita Sang Ayam

Ayam adalah hewan yang paling menderita:

ketika ada mahasiswi-mahasiswi nakal yang berbuat tak senonoh maka mereka akan digelari “Ayam kampus”, padahal yang membuat masalah adalah manusia tapi ayam yang kena getahnya.

Ketika ada orang yang berjalan tidak memakai sandal atau sepatu maka dikatakan “kaki ayam”. Ini lebih miris lagi, yang nggak pake sandal orang ayam juga jadi kena getahnya

Ketika ada isu flu burung, malah ayam-ayam yang banyak dibunuh. Ini lebih tragis lagi padahal nama virusnya adalah “flu burung” bukan “flu ayam” kok malah ayam yang banyak dibasmi. Ketika ada isu flu babi, malah babi-babi masih dibiarkan begitu aja.

Tapi ketika telur ayam yang dimasak dan dinikmati orang, bukan ayam yang dapat nama tapi sapi, jadinya dinamai “telur mata sapi” bukan “telur mata ayam”.

Di beberapa tempat, dikenal makanan “Kentucky” atau adaptasi Indonesianya “Kentaki”. Ini aneh, padahal Kentucky itu nama daerah bukan nama makanan, malahan makanannya itu adalah ayam goreng dari tepung Kentucky.

Namun demikian, tidak pernah kita jumpai ketika ayam betina lewat di hadapan ayam jantan memamerkan pahanya, sungguh berbeda dengan wanita-wanita manusia zaman ini.

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Pokok-Pokok Sunnah (Ringkasan Ushulus Sunnah)

قال الإمام أحمد بن حنبل – رضي الله عنه –:

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal – Semoga Allah meridhoi beliau-:

أصول السنة عندنا :

Pokok-pokok Sunnah di sisi kami:

التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، والإقتداء بهم، وترك البدع، وكل بدعة فهي ضلالة، وترك الخصومات، والجلوس مع أصحاب الأهواء، وترك المراء والجدال والخصومات في الدين.

Berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh para shahabat serta bertauladan kepada mereka, meninggalkan perbuatan bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat, serta meninggalkan perdebatan dalam masalah agama

والسنة عندنا آثار رسول الله صلى الله عليه وسلم، والسنة تفسر القرآن، وهي دلائل القرآن، وليس في السنة قياس، ولا تضرب لها الأمثال، ولا تدرك بالعقول ولا الأهواء، إنما هو الاتباع وترك الهوى.

Dan sunnah di sisi kami adalah peninggalan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam, dan sunnah menafsirkan Al Qur’an dan Sunnah menjadi dalil-dalil (sebagai petunjuk dalam memahami) Al Qur’an, tidak ada qiyas dalam masalah agama, tidak boleh dibuat pemisalan – pemisalan bagi Sunnah, dan tidak boleh pula dipahami dengan akal dan hawa nafsu, kewajiban kita hanyalah mengikuti Sunnah serta meninggalkan akal dan hawa nafsu.

ومن السنة اللازمة التي من ترك منها خصلة – لم يقبلها ويؤمن بها – لم يكن من أهلها: الإيمان بالقدر خيره وشره، والتصديق بالأحاديث فيه، والإيمان بها، لا يُقال لِـمَ ولا كيف، إنما هو التصديق والإيمان بها، ومن لم يعرف تفسير الحديث ويبلغه عقله فقد كُـفِيَ ذلك وأُحكِمَ له، فعليه الإيمان به والتسليم له ، مثل حديث ” الصادق المصدوق ” ومثل ما كان مثله في القدر، ومثل أحاديث الرؤية كلها، وإن نأت عن الأسماع واستوحش منها المستمع، وإنما عليه الإيمان بها، وأن لا يرد منها حرفاً واحدا ً، وغيرها من الأحاديث المأثورات عن الثقات .

Dan termasuk Sunnah yang harus diyakini Barangsiapa meninggalkan salah satu dari nya – tidak menerima dan tidak beriman padanya – maka dia tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah, adalah:

Iman kepada takdir yang baik dan buruk, membenarkan hadits-hadits tentang masalah ini, beriman kepadanya, tidak mengatakan “mengapa?”, dan tidak pula mengatakan: ”Bagaimana?”, akan tetapi kita hanya membenarkan dan beriman dengannya. Barangsiapa yang tidak mengetahui penafsiran satu hadits, dan tidak dapat dicapai oleh akalnya sesungguhnya hal tersebut telah cukup dan sempurna atasnya (tidak perlu berdalam-dalam lagi). Maka wajib baginya beriman, tunduk dan patuh dalam menerimanya, seperti hadits; ’As shadiqul masduq“ dan hadits-hadits yang seperti ini dalam masalah taqdir, demikian juga semisal hadits – hadits ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah di sorga), walaupun terasa asing pada pendengaran dan berat bagi yang mendengar, akan tetapi wajib mengimaninya dan tidak boleh menolak satu huruf pun, dan juga hadits-hadits lainnya yang ma’tsur (diriwayatkan) dari orang-orang terpercaya.

وأن لا يخاصم أحداً ولا يناظره، ولا يتعلم الجدال، فإن الكلام في القدر والرؤية والقرآن وغيرها من السنن مكروه ومنهي عنه، لا يكون صاحبه وإن أصاب بكلامه السنة من أهل السنة حتى يدع الجدال ويسلم ويؤمن بالآثار .

Dan jangan berdebat dengan seorangpun, tidak boleh pula mempelajari ilmu jidal, karena berbicara tanpa ilmu dalam masalah takdir, ru’yah dan Qur’an dan masalah lainnya yang terdapat dalam Sunnah adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang, pelakunya tidak termasuk ahlus Sunnah walaupun perkataannya mencocoki Sunnah sampai dia meninggalkan perdebatan dan mengimani atsar.

والقرآن كلام الله وليس بمخلوق، ولا يضعف أن يقول: ليس بمخلوق، فإن كلام الله ليس ببائن منه، وليس منه شيء مخلوق، وإياك ومناظرة من أحدث فيه، ومن قال باللفظ وغيره ، ومن وقف فيه، فقال: لا أدري مخلوق أو ليس بمخلوق، وإنما هو كلام الله فهذا صاحب بدعة مثل من قال: ( هو مخلوق )، وإنما هو كلام الله وليس بمخلوق .

Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, janganlah dia merasa risih untuk mengatakan: ”Dia bukan makhluk”. Sesungguhnya kalamullah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari Dzat Allah, dan sesuatu yang berasal dari dzatnya itu bukanlah makhluk. Jauhilah berdebat dengan orang yang hina dalam masalah ini dan dengan orang lafdziyah (Ahlul bid’ah yang mengatakan lafadzku ketika membaca Al Qur’an adalah makhluk) dan lainnya atau dengan orang yang tawaquf (Abstain) dalam masalah ini yang berkata: ”Aku tidak tahu Al Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk tetapi yang jelas Al Qur’an adalah kalamullah”, orang ini (yang tawaquf) adalah ahlul bid’ah seperti orang yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk. Ketahuilah (keyakinan ahlus Sunnah adalah) Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.

والإيمان بالرؤية يوم القيامة، كما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم من الأحاديث الصحاح، وأن النبي صلى الله عليه وسلم قد رأى ربه، فإنه مأثور عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، صحيح، رواه قتادة، عن عكرمة، عن ابن عباس؛ ورواه الحكم بن أبان، عن عكرمة، عن ابن عباس؛ ورواه علي بن زيد، عن يوسف بن مهران، عن ابن عباس، والحديث عندنا على ظاهره كما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم، والكلام فيه بدعة، ولكن نؤمن كما جاء على ظاهره، ولا نناظر فيه أحداً.

Beriman dengan ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah) pada hari kiamat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah melihat Rabbnya, hal ini telah ma’tsur dari Rasulullahdiriwayatkan oleh Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Al Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, diriwayatkan pula oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihram dari Ibnu Abbas, dan kita memahami hadits ini sesuai dengan dhahirnya sebagaimana datangnya dari Rasulullah dan berbicara (tanpa ilmu) dalam hal ini adalah bid’ah, akan tetapi kita wajib beriman dengannya sebagaimana dhahirnya dan kita tidak berdebat dengan seorangpun dalam masalah ini.

والإيمان بالميزان يوم القيامه كما جاء، يوزن العبد يوم القيامة فلا يزن جناح بعوضة، وتوزن أعمال العباد كما جاء في الأثر، والإيمان به، والتصديق به، والإعراض عن من ردّ ذلك، وتركُ مجادلته.

Beriman dengan mizan (timbangan amal) pada hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

 “Seorang hamba akan ditimbang pada hari kiamat, dan beratnya tidaklah seberat satu sayap lalat”

Dan akan ditimbang amalan para hamba sebagaimana disebutkan dalam atsar, maka wajib bagi kita untuk beriman dan membenarkannya, serta berpaling dari orang-orang yang menentangnya serta (kita harus) meninggalkan perdebatan.

وأن الله يكلم العباد يوم القيامه، ليس بينهم وبينه ترجمان، والتصديق به.

والإيمان بالحوض، وأن لرسول الله صلى الله عليه وسلم حوضا يوم القيامة تَـرِدُ عليه أمته، عرضه مثل طوله ، مسيرة شهر ، آنيته كعدد نجوم السماء على ما صحت به الأخبار من غير وجه.

Sesungguhnya para hamba akan berbicara dengan Allah pada hari kiamat tanpa adanya penerjemah antara mereka dengan Allah dan kita wajib mengimaninya.

Beriman kepada haudh (telaga) yang dimiliki oleh Rasulullah pada hari kiamat, yang akan didatangi oleh umatnya, lebarnya sama seperti panjangnya yaitu selama perjalanan satu bulan, bejana-bejananya seperti banyaknya bintang-bintang di langit, hal ini sebagaimana diberitakan dalam khabar-khabar yang benar dari banyak jalan.

 

والإيمان بعذاب القبر، وأن هذه الأمة تُـفـتَـن في قبورها، وتُسأل عن الإيمان والإسلام ، ومن ربه؟ ومن نبيه؟.

Beriman dengan adanya adzab kubur.

Sesungguhnya umat ini akan diuji dan ditanya dalam kuburnya tentang Iman, Islam, siapa Rabbnya dan siapa Nabinya.

ويأتيه منكر ونكير، كيف شاء الله عزوجل، وكيف أراد، والايمان به والتصديق به.

Munkar dan Nakir akan mendatanginya sebagaimana yang Dia kehendaki dan inginkan. Kita wajib beriman dan membenarkan hal ini.

والإيمان بشفاعة النبي صلى الله عليه وسلم ، وبقوم يخرجون من النار بعد ما احترقوا وصاروا فحما، فيؤمر بهم إلى نهر على باب الجنة كما جاء في الأثر، كيف شاء الله ، و كما شاء ، إنما هو الإيمان به، والتصديق به .

Beriman kepada syafa`at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan kepada suatu kaum yang akan keluar dari neraka setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian mereka akan diperintahkan menuju sungai di depan pintu syurga (sebagaimana diberita kan dalam atsar) sebagaimana dan seperti apa yang Dia kehendaki, kita wajib beriman dan membenarkan hal ini.

والإيمان أن المسيح الدجال خارج، مكتوب بين عينيه كافر، والأحاديث التي جاءت فيه، والإيمان بأن ذلك كائن، وأن عيسى ابن مريم عليه السلام ينزل فيقتله بباب لُـدٍّ.

Beriman bahwa Al-Masih Ad-Dajjal akan keluar, tertulis diantara kedua matanya (Kafir/bahasa Arab) dan beriman dengan hadits-hadits yang datang tentang masalah ini beriman bahwa ini akan terjadi. Beriman bahwa Isa bin Maryam akan turun dan membunuh dajjal di pintu Ludh.

 

والإيمان قول وعمل ، يزيد وينقص ، كما جاء في الخبر : (( أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا )) .

Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang, sebagaimana telah diberitakan dalam hadits:

 “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya”,

ومن ترك الصلاة فقد كفر ، وليس من الأعمال شيء تركه كفر إلا الصلاة ، من تركها فهو كافر ، وقد أحل الله قتله .

“Barangsiapa meninggalkan shalat sungguh ia telah kafir”,

“Tidak ada amalan yang kalau ditinggalkan orang menjadi kafir kecuali shalat”.

Maka Barangsiapa meninggalkan shalat ia menjadi kafir dan Allah telah menghalalkan membunuhnya.

 وخير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر الصديق، ثم عمر بن الخطاب، ثم عثمان بن عفان، نُـقـدّم هؤلاء الثلاثة كما قدمهم أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، لم يختلفوا في ذلك، ثم بعد هؤلاء الثلاثة أصحاب الشورى الخمسة: علي بن أبي طالب، وطلحة، والزبير، وعبدالرحمن بن عوف، وسعد، كلهم يصلح للخلافة، وكلهم إمام، ونذهب في ذلك إلى حديث ابن عمر: ( كنا نعُـدُّ ورسول الله حي وأصحابه متوافرون: أبو بكر، ثم عمر، ثم عثمان، ثم نسكت ) … ثم من بعد أصحاب الشورى أهل بدر من المهاجرين، ثم أهل بدر من الأنصار من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم على قدر الهجرة والسابقة، أولاً فأولا، ثم أفضل الناس بعد هؤلاء أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، القرن الذي بعث فيهم .

Sebaik-baik umat setelah NabiNya adalah Abu bakar As Shidiq, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, kita mengutamakan tiga shahabat ini sebagaimana Rasulullah mengutamakan mereka, para shahabat tidak berselisih dalam masalah ini, kemudian setelah tiga orang ini orang yang paling utama adalah ashabus syura (Ali bin Abi Thalib, Tholhah, Zubair, Abdur Rahman bin Auf, dan Sa’ad) seluruhnya berhak untuk menjadi khalifah dan imam. Dalam hal ini kita berpegang dengan hadits Ibnu Umar:

“Kami menganggap ketika Rasulullah masih hidup dan para sahabatnya masih banyak yang hidup, bahwa sahabat yang terbaik adalah: Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian kita diam (tidak menentukan orang keempat)”,

kemudian setelah ashabus syura orang yang paling utama adalah orang yang ikut perang badar dari kalangan Muhajirin kemudian dari kalangan Anshar sesuai dengan urutan hijrah mereka, yang lebih dulu hijrah lebih utama dari yang belakangan, kemudian manusia yang paling utama setelah para sahabat adalah generasi yang beliau diutus kepada mereka.

وكل من صحبه سنة أو شهرا أو يوما أو ساعة، أو رآه فهو من أصحابه، له من الصحبة على قدر ما صحبه، وكانت سابقته معه، وسمع منه ونظر إليه نظرة، فأدناهم صحبة هو أفضل من القرن الذين لم يروه، ولو لقوا الله بجميع الأعمال، كان هؤلاء الذين صحبوا النبي صلى الله عليه وسلم ورأوه وسمعوا منه، ومن رآه بعينه وآمن به ولو ساعة، أفضل لصحبتهم من التابعين، ولو عملوا كل أعمال الخير.

Dan semua orang pernah bersahabat dengan beliau selama satu tahun, satu bulan, satu hari atau satu jam, siapa yang pernah melihat Rasulullah maka dia termasuk sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dia mempunyai keutamaan sesuai dengan lamanya dia bersahabat dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dia lebih dulu masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, mendengar dan melihatnya (merupakan satu keutamaan baginya – pent). Orang yang paling rendah persahabatannya dengan Rasulullah tetap lebih utama dari pada generasi yang tidak pernah melihatnya, walaupun mereka bertemu dengan Allah dengan membawa seluruh amalannya. Mereka yang telah bersahabat dengan Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah melihat dan mendengar beliau lebih utama –karena persahabatan mereka – dari kalangan Tabi’in walaupun mereka (Tabi’in) telah beramal dengan semua amal kebaikan.

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البَـرّ والفاجر، ومن ولي الخلافة، واجتمع الناس عليه، ورضوا به، ومن عليهم بالسيف حتى صار خليفة، وسمي أمير المؤمنين.

Mendengar dan taat pada Imam dan Amirul mukminin yang baik ataupun yang fajir. Dan juga wajib taat kepada orang yang menjabat kekhalifahan karena manusia telah berkumpul (ba’iat) dan ridha kepadanya, dan juga taat kepada orang yang memberontak mereka dengan pedang hingga menjadi khalifah dan dinamakan amirul mukminin.

والغزو ماض مع الأمير إلى يوم القيامه البَـرّ والفاجر لا يُـترَك.

Jihad terus berlangsung bersama Imam hingga hari kiamat dengan imam yang baik ataupun fajir tidak boleh ditinggalkan.

وقسمة الفيء وإقامة الحدود إلى الأئمة ماضٍ، ليس لأحد أن يطعن عليهم، ولا ينازعهم، ودفع الصدقات إليهم جائزة نافذة، من دفعها إليهم أجزأت عنه، بَـرّاً كان أو فاجراً .

Pembagian harta fa’i (harta rampasan yang diambil tanpa melalui peperangan terlebih dahulu) dan pelaksanaan hukum-hukum had dilakukan oleh imam, dan hal ini terus berlangsung tidak boleh seorangpun mencela mereka dan tidak boleh pula membantah mereka. Dan memberikan zakat (shadaqah) kepada mereka dibolehkan dan teranggap, Barangsiapa yang yang memberikannya kepada mereka maka sudah cukup baginya, baik Imamnya baik ataupun fajir.

وصلاة الجمعة خلفه وخلف من ولاه، جائزة باقية تامة ركعتين، من أعادهما فهو مبتدع تارك للآثار، مخالف للسنة، ليس له من فضل الجمعة شيء ؛ إذا لم ير الصلاة خلف الأئمة من كانوا برهم وفاجرهم، فالسنة: أن يصلي معهم ركعتين، ويدين بأنها تامة، لا يكن في صدرك من ذلك شك.

Shalat Jum’at di belakang Imam dan di belakang orang yang dipilih oleh Imam sudah cukup dan sempurna dan dilakukan dengan dua rakaat, Barangsiapa yang mengulang shalatnya maka dia adalah seorang ahlul bidah yang meninggalkan atsar dan menyelisihi Sunnah. Dia tidak mendapatkan keutamaan shalat Jum’at sedikitpun jika menganggap tidak boleh shalat dibelakang Imam yang baik ataupun yang zhalim, Sunnah mengajarkan untuk shalat bersama mereka dua rakaat, kita beragama dan meyakini bahwa itu sudah sempurna jangan sampai ada suatu perasaan apapun dalam dadamu tentang masalah tersebut.

ومن خرج على إمام من أئمة المسلمين – وقد كانوا اجتمعوا عليه وأقروا له بالخلافة، بأي وجه كان، بالرضا أو بالغلبة – فقد شق هذا الخارج عصا المسلمين، وخالف الآثار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإن مات الخارج عليه مات ميتة جاهلية.

Barangsiapa yang memberontak kepada Imam kaum muslimin setelah mereka berkumpul dan mengakuinya sebagai khalifah, dengan cara apapun dengan ridha maupun dengan paksa, maka pemberontak itu telah memecahkan persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar dari Rasulullah, kalau dia mati dalam keadaan memberontak maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.

ولا يحل قتال السلطان، ولا الخروج عليه لأحد من الناس، فمن فعل ذلك فهو مبتدع على غير السنة والطريق.

Tidak dihalalkan atas seorangpun memerangi sulthan atau memberontaknya, Barangsiapa yang melakukannya maka dia adalah mubtadi’ (Ahlul bid’ah), sudah tidak diatas Sunnah dan jalan yang lurus.

وقتال اللصوص والخوارج جائز، إذا عرضوا للرجل في نفسه وماله فله أن يقاتل عن نفسه وماله، ويدفع عنها بكل ما يقدر، وليس له إذا فارقوه أو تركوه أن يطلبهم، ولا يتبع آثارهم، ليس لأحد إلا الإمام أو ولاة المسلمين، إنما له أن يدفع عن نفسه في مقامه ذلك، وينوي بجهده أن لا يقتل أحداً، فإن مات على يديه في دفعه عن نفسه في المعركة فأبعد الله المقتول، وإن قُـتِـل هذا في تلك الحال وهو يدفع عن نفسه وماله، رجوت له الشهادة، كما جاء في الأحاديث وجميع الآثار في هذا إنما أُمِر بقتاله، ولم يُـؤمَـر بقتله ولا اتباعه، ولا يجهز عليه إن صُرِع أو كان جريحا، وإن أخذه أسيرا فليس له أن يقتله، ولا يقيم عليه الحد، ولكن يرفع أمره إلى من ولاه الله، فيحكم فيه.

Memerangi para pencuri dan khawarij diperbolehkan jika mereka mengancam jiwa dan harta seseorang. Jika demikian seseorang dibolehkan untuk memeranginya dalam rangka membela jiwa dan hartanya sebatas kemampuannya, tapi dia tidak boleh mencari atau mengejar mereka jika mereka memisahkan diri atau meninggalkannya, tidak boleh seorangpun mengejarnya kecuali Imam atau pemerintah muslimin. Tapi yang diperbolehkan itu adalah membela dirinya ditempat kejadian, dan tidak berniat untuk membunuh seorangpun, kalau pencuri (khawarij ) tersebut mati** ditangannya ketika ia membela diri maka Allah akan menjauhkan orang yang terbunuh, dan kalau dia (yang bela diri) yang terbunuh dalam keadaan membela diri dan hartanya, aku mengharapkan dia mati syahid sebagaimana dalam hadits-hadits, seluruh atsar dalam masalah ini hanya menyuruh untuk memeranginya dan tidak memerintahkan untuk membunuh atau mengintainya, tidak diperbolehkan*** membunuhnya kalau dia tersungkur atau terluka, kalau menjadikannya sebagai tawanan juga tidak boleh dibunuh, dan jangan dihukum had olehnya sendiri, akan tetapi hendaknya urusan tersebut diserahkan kepada orang yang telah Allah tunjuk sebagai Imam (qadhi) untuk menghukumnya.

ولا نشهد على أحد من أهل القبلة بعمل يعمله بجنة ولا نار، نرجو للصالح ونخاف عليه، ونخاف على المسيء المذنب، ونرجو له رحمة الله.

Kami tidak mempersaksikan (memastikan) seorang ahlu qiblah (muslim) dengan amalannya akan masuk syurga atau neraka. Kami mengharapkan orang yang shalih (untuk masuk syurga-pent.), dan kami juga mengkhawatirkan serta menakutkan orang yang berbuat jelek dan dosa (untuk masuk neraka,pent) dan kami mengharapkan rahmat Allah untuknya.

ومن لقى الله بذنب يجب له به النار تائبا غير مُصـرٍّ عليه، فإن الله يتوب عليه، ويقبل التوبة عن عباده، ويعفو عن السيئات، ومن لقيه وقد أقيم عليه حد ذلك الذنب في الدنيا، فهو كفارته، كما جاء في الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومن لَـقِيـَه مُصِـرّا غير تائب من الذنوب التي استوجب بها العقوبة فأمره إلى الله، إن شاء عذّبه، وإن شاء غفر له، ومن لَـقِـيَـه وهو كافر عذّبه ولم يغفر له.

Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dengan membawa dosa yang bisa memasukkannya dalam neraka- tapi dia taubat tidak terus menerus melakukan dosanya- maka sesungguhnya Allah menerima taubat hambanya serta mema’afkan kejelekannya. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan telah ditegakkan atasnya hukum had di dunia maka itulah penghapus dosa baginya, sebagaimana telah ada khabar dari Rasulullah. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan terus menerus melakukan dosa, dan tidak bertaubat dari dosa-dosa yang mengharuskan ia dihukum oleh Allah, maka urusannya dikembalikan kepada Allah, kalau Allah menghendaki Dia akan mengadzab orang tersebut dan jika tidak Allah akan mengampuninya. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah – dalam keadaan kafir – Allah akan mengadzabnya dan tidak ada ampunan baginya.

 

 

والرجم حق على من زنا وقد أُحصن، إذا اعترف أو قامت عليه بيّنة، فقد رجم رسول الله صلى الله عليه وسلم والأئمة الراشدون.

Rajam itu adalah haq (wajib) atas orang yang zina dan telah menikah, jika dia mengaku atau telah ada bukti yang kuat, Rasulullah telah merajam, demikian pula khulafaur rasyidin.

ومن انتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أو أبغضه بحدث كان منه، أو ذكر مساوئه، كان مبتدعا، حتى يترحم عليهم جميعا، ويكون قلبه لهم سليما.

Barangsiapa yang menghina seorang saja dari shahabat Rasulullahatau membencinya karena ada sesuatu yang dia perbuat, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya maka dia adalah ahlul bid’ah sampai dia bertarahum (mendoakan semoga Allah merahmati) kepada mereka semua dan hatinyapun selamat dari perasaan jelek kepada mereka.

والنفاق هو: الكفر، أن يكفر بالله ويعبد غيره، ويُـظهِـر الإسلام في العلانية، مثل المنافقين الذين كانوا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقوله صلى الله عليه وسلم: (( ثلاث من كن فيه فهو منافق )) هذا على التغليظ، نرويها كما جاءت، ولا نفسرها.

Nifak adalah kufur, kufur kepada Allah dan menyembah selainnya. Serta menampakkan Islam dalam zhahirnya, seperti orang-orang munafik pada zaman Rasululah. “Tiga perkara yang barangsiapa tiga perkara ini ada padanya berarti dia munafik“

Dengan keras (mengancam), kita riwayatkan sebagaimana datangnya tidak kita kias-kiaskan.

وقوله صلى الله عليه وسلم: (( لا ترجعوا بعدي كفارا ضُلالا يضرب بعضكم رقاب بعض )) ، ومثل : (( إذا التقى المسلمان بسيفيهما، فالقاتل والمقتول في النار )) ، ومثل : (( سباب المسلم فسوق، وقتاله كفر ))، ومثل: (( من قال لأخيه يا كافر، فقد باء بها أحدهما ))، ومثل: (( كُـفـرٌ بالله تَـبَـرؤٌ من نَـسَـبٍ وإن دَقّ ))، ونحو هذه الأحاديث مما قد صح وحُـفِـظ، فإنا نُـسَـلم له، وإن لم نعلم تفسيرها، ولا نتكلم فيها، ولا نجادل فيها، ولا نفسّر هذه الأحاديث إلا مثل ما جاءت، لا نردها إلا بأحق منها .

Dan sabdanya:

“Janganlah kalian kembali menjadi kafir jika aku telah wafat, sebagian kalian membunuh sebagian yang lainnya”,

dan seperti :

“Jika dua orang muslim berkelahi dengan membawa pedang mereka maka yang membunuh dan

yang dibunuh masuk neraka”,

dan seperti:

“Mencerca muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah suatu kekufuran”,

dan seperti:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “Ya kafir” maka sifat tersebut akan kembali

(mengenai) salah seorang diantara keduanya”.

Dan seperti:

“Kufur pada Allah melepaskan “nasab walaupun sedikit”.

Dan seperti hadits-hadits ini yang shahih dan dihapal, kita harus menerimanya walau tidak tahu tafsirnya kita tidak mempersalahkan dan tidak pula memperdebatkannya, dan tidak kita tafsirkan kecuali dengan hadits yang lebih shahih dari itu.

 والجنة والنار مخلوقتان ، كما جاء عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( دخلتُ الجنة فرأيت قصراً … )) ، و (( رأيت الكوثر )) ، و (( واطلعت في الجنة ، فرأيت أكثر أهلها… )) كذا ، و (( واطلعت في النار، فرأيت … )) كذا وكذا، فمن زعم أنهما لم تُخلقا، فهو مكذّب بالقرآن وأحاديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا أحسبه يؤمن بالجنة والنار.

Surga dan neraka sudah diciptakan (sudah ada) sebagaimana dalam hadits Rasulullah bersabda:

“Aku masuk ke syurga akupun melihat istana disana, aku juga melihat al kautsar”

dan

“Aku lihat ke sorga akupun bisa melihat bahwa kebanyakan penduduk syurga adalah ini, dan aku lihat neraka dan aku lihat kebanyakan penghuninya adalah ini (Wanita-pent)”,

Barangsiapa yang menyangka keduanya belum ada saat ini berarti dia telah mendustakan Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah dan aku tidak mengira (menganggap) orang ini beriman atas adanya syurga dan neraka.

ومن مات من أهل القبلة مُـوَحِـداً يُـصلّى عليه، ويُستغفر له، ولا يُحجب عنه الاستغفار، ولا تترك الصلاة عليه لذنب أذنبه صغيرا كان أو كبيرا، أَمــرُهُ إلى الله تعالى.

Barangsiapa yang mati dari ahlul kiblat (muslim) dalam keadaan muwahid (bertauhid), dishalati jenazahnya dan dimintakan ampun untuknya, jangan sampai tidak dimintakan ampun dan jangan pula jenazahnya dibiarkan (tidak dishalati) hanya karena disebabkan melakukan dosa – baik yang dosa kecil ataupun besar- dan urusannya diserahkan kepada Allah Ta’ala.

آخر الرسالة والحمد لله وحده وصلواته على محمد وآله وسلم تسليما .

Kita akhiri risalah ini dengan memuji Allah dan semoga Sholawat dan salam atas Nabi Muhammad dan keluarganya

Wallahu A’lam

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Agustus 2016
    S S R K J S M
    « Agu    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.