Archive for category Motivasi

*** Bertasbihlah ***

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Barangsiapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan aku memujiNya” dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih air laut.” (HR. Muslim, no. 2691)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI
WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya)
sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang
akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau
lebih dari itu”
(HR. Muslim no. 2692)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَـانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Dua kalimat yang ringan di lidah, pahalanya berat di timbangan (hari Kiamat) dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, adalah: Subhaanallaah wabi-hamdih, subhaanallaahil ‘azhiim” (HR. Muslim, no. 2694)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
لأَنْ أَقُوْلَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh, apabila aku membaca: ‘Subhaanallah walhamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar’. Adalah lebih senang bagiku dari apa yang disinari oleh matahari terbit”
(HR. Muslim, no. 2695)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh Radhiallahu’anhu, beliau berkata:
“Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu beliau bertanya:
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ
“Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan tiap hari?”. Salah seorang di antara yang duduk bertanya: “Bagaimana di antara kita bisa memperoleh seribu kebaikan (dalam sehari)?” Rasul bersabda: “Hendaklah dia membaca seratus tasbih, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau seribu kejelekannya dihapus” (HR. Muslim, no. 2698)

Dari Jabir Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda
مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membaca: Subhaanallaahi ‘azhiim wabihamdih, maka ditanam untuknya sebatang pohon kurma di Surga” (HR. At-Tirmidzi, no. 3464)

Wallahu A’lam

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Selamat Datang Asy-Syuro

Tahun telah berganti, Muharrampun telah tiba dan saatnya kita sebagai umat Muslim memasuki tahun ini dengan cara yang baik dan memulainya dengan awal yang baik dengan meningkatkan ‘amal sholeh kita di tahun ini di bulan Muharram ini serta menepis semua pemikiran jahiliah yang mengatakan bahwa “bulan Muharram adalah bulan sial” dan ini adalah pernyataan dusta orang-orang jahiliah terdahulu yang tidak perlu kita ikuti walaupun itu budaya, karena budaya yang bisa dibenarkan adalah budaya yang tidak bertentangan dengan “Syari’at Allah dan Rasul-Nya”. Bahkan Bulan Muharram dan hari di dalamnya memiliki beberapa keutamaan antara lain:

1. Termasuk Salah Satu dari 4 Bulan yang harus dihormati.
Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram” (Q.S At-Taubah: 36)

Ibnu ‘Abbas menyebutkan mengenai ayat 4 Bulan Haram itu adalah bulan Rojab, Dzulqa’idah, Muharram dan Dzulhijjah. (Tafsir Ibnu Katsir)

2. Sebaik-baik Puasa Sunnah Setelah Puasa Bulan Ramadhan
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ، صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ
“… Dan Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa di bulan Muharram” (HR. Muslim, no. 1163)

3. Hari ke-10 (Asy-Syuro) pada Bulan ini Kaum Muslimin diperintahkan Berpuasa Sebelum Puasa Ramadhan Diwajibkan.

Ai’syah Radhiallahu’anha berkata:
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ،، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ هُوَ الْفَرِيضَةُ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Dulu pada hari As-Syuro orang-orang Quraisy zaman jahiliah berpuasa satu hari. Rasulullah juga berpuasa pada hari tersebut pada zaman jahiliyah. Ketika Rasulullah datang ke Madinah, beliau tetap berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa juga. Namun tatkala pada Ramadhan diwajibkan berpuasa, lalu puasa Asy-Syuro ditinggalkan . Orang yang ingin puasa Asy-Syuro dibolehkan, dan yang hendak tidak berpuasa juga tidak apa-apa” (HR. Abu Dawud, no. 2442; Shohih)

4. Hari Asy-Syuro termasuk Hari-hari yang diberkahi Allah
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
هَذَا يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Hari ini (Asy-Syuro) adalah termasuk hari-hari Allah, maka barangsiapa hendak berpuasa diperbolehkan, namun batang siapa tidak ingin berpuasa juga tidak apa-apa” (HR. Abu Dawud, no. 2443; Shohih)

5. Puasa pada Hari As-Syuro Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Abu Qatadah radliyallaahu ‘anhu berkata: “:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura’, maka beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim,no. 1162)

6. Puasa Hari Asy-Syuro Adalah Sunnahnya Nabi Musa ‘alaihissalam

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam datang ke Madinah, lalu beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asy-Syuro, kemudian Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada mereka:
مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟ فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Hari apa yang kalian berpuasa ini?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur, dan kami pun berpuasa pada hari ini.” Kemudian Rasulullah berkata, “Kamilah yang lebih berhak dan lebih utama daripada kalian terhadap Musa”. Maka Rasulullah berpuasa pada hari itu, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa” (HR. Muslim, no. 1130)

7. Anjuran Puasa Hari Asy-Syuro adalah tanggal 9 dan 10 Muharram untuk menyelisihi Umat Yahudi La’natullah
Ketika Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asy-Syuro, beliau juga memerintahkan kami untuk berpuasa pada hari itu, maka para sahabat berkata: “Ya Rasul, itu adalah hari yang dimuliakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani ?. Beliau Sholallahu’alaihi wa sallam menjawab:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ
“Kalau tahun depan kita masih menjumpainya, maka kita akan berpuasa tanggal sembilan” Belum sempat tahun kemudian datang, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam sudah meninggal dunia. (HR. Abu Dawud, no. 2445; Shohih)

Dengan demikian, Bulan Muharram termasuk juga salah satu bulan yang dimuliakan Allah, jika kita mengisi bulan ini dengan ‘amal sholeh. Insya Allah kita akan dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Mulailah tahun baru ini dengan kebaikan, karena kebaikan tahun ini masih bisa menghapus kesalahan tahun yang lalu, asalkan kita mau ber’amal ikhlas dan sesuai tuntunan syari’at.

***Wallahu A’lam***

, , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Idul Fitri Bersama Pemerintah atau Penguasa

Idul Fitri ditetapkan kalau Hilal sudah terlihat, tidak syah hanya dengan Hisab dan Rukyat.

Sebagaimana Hadits:
لا تصوموا قبل رمضان صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن حالت دونه غيابة فأكملوا ثلاثين يوما وفي الباب عن أبي هريرة وأبي بكرة وابن عمر قال أبو عيسى حديث بن عباس حديث حسن صحيح وقد روي عنه من غير وجه

“Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan. Berpuasalah kamu karena melihat hilal (Bulan sabit) dan berbukalah (Idul Fitri) karena melihatnya. Apabila keadaan sedang mendung, maka sempurnakanlah 30 hari” (HR Tirmidzi no.688)

Buktinya Hilal tidak terlihat di 30 Provinsi di Indonesia.

Kembali kepada kaidah Jama’ah:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS An-Nisa’: 59)

Dalam Hal perbedaan ini, maka:

الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال إنما معنى هذا أن الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس

“”Berpuasalah pada hari kalian berpuasa, Idul Fitri adalah hari kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari kalian Menyembelih hewan kurban” (HR Tirmidzi no.697)

Ini menunjukkan kita harus ikut yang mayoritas dalam penetapan Ied.

Satu hal lagi, setiap negeri mengikuti rukyat penduduknya, berdasarkan hadits:

أن أم الفضل بنت الحارث بعثته إلى معاوية بالشام قال فقدمت الشام فقضيت حاجتها واستهل علي هلال رمضان وأنا بالشام فرأينا الهلال ليلة الجمعة ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فسألني بن عباس ثم ذكر الهلال فقال متى رأيتم الهلال فقلت رأيناه ليلة الجمعة فقال أأنت رأيته ليلة الجمعة فقلت رآه الناس وصاموا وصام معاوية قال لكن رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين يوما أو نراه فقلت ألا تكتفي برؤية معاوية وصيامه قال لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أبو عيسى حديث بن عباس حديث حسن صحيح غريب والعمل على هذا الحديث عند أهل العلم أن لكل أهل بلد رؤيتهم

Ummu Al-Fadhl binti Al Harits mengutusnya (untuk menghadap Mu’awiyah di Syam (Palestine). Ia berkata, “Aku sampai ke Syam, lantas menyelesaikan urusanku dan aku melihat “Hilal” bulan Ramadhan telah terbit, sedangkan aku berada di Syam. Kami melihat bulan itu pada malam Jum’at. Aku sampai di Madinah pada akhir Ramadhan dan Ibnu Abbas bertanya kepadaku, kemudian ia menyebutkan hilal tersebut, ia bertanya, ‘Kapan kamu melihat bulan itu?’Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at?’ Aku katakan , ‘Orang-orang melihatnya, kemudian mereka berpuasa dan Mu’awiyah juga berpuasa’. Kemudian ia berkata, ‘Tetapi kamu melihatnya pada malam sabtu, dan kami masih berpuasa hingga menyempurnakan 30 hari atau sampai kami melihatnya’. Aku lalu berkata, ‘Apakah tidak cukup dengan melihat Mu’awiyah dan puasanya?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami demikian'”. (HR Tirmidzi no. 693, Abu Dawud dan Muslim) Shahih.

Wallahu A’lam

Tinggalkan komentar

Kado dari Nabi di Bulan Syawal

Ramadhan akan berakhir, namun rasa-rasanya tidak ada yang menjamin kita untuk berjumpa lagi di Ramadhan yang akan datang. Kalaupun kita masih bersua di Ramadhan yang akan datang, maka juga tidak ada yang menjamin kita bisa berpuasa dengan tenang di siang harinya dan ber Qiyamu-Lail di malam harinya, mungkin saja kita sudah sibuk dengan kesibukan kita dalam menghadapi dunia. Bisa jadi Ramadhan tahun ini adalah kenangan terakhir bagi kita hidup di dunia ini.

Masih ingatkah sewaktu dulu di awal Ramadhan tiba, Syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka sebagaimana Sabda Nabi tercinta Sholallahu’alaihiwa sallam:

إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة
“Apabila tiba awal malam Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintupun yang ditutup, lalu (malaikat) penyeru menyerukan, “Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Alloh juga mempunyai pembebas-pembebas dari neraka. Hal itu (terjadi) setiap malam”. (HR Tirmidzi no.682)

Namun, bila Ramadhan berakhir, pintu neraka kembali dibuka, Syetan-syetan kembali dibebaskan dari ikatannya dan pintu kejahatan dan kemaksiatan kembali dibuka. Akankah ada yang meramaikan Mesjid, akankah ada yang masih membaca Qur’an. Mungkin diskotik dan bar akan kembali ramai, konser musik akan kembali disemarakkan dan masih banyak lagi kemaksiatan-kemaksiatan yang datang setelah Ramadhan. Na’udzubillah……

Puaskah kita dengan puasa Ramadhan yang hanya sebulan saja ????

Bagi orang yang beriman dalam artian meraih prediket “SUKSES” di Bulan Ramadhan tentu dia tak akan puas hanya dengan puasa Ramadhan yang hanya sebulan. Ingatkah dengan Hadits Nabi Sholallahu’alai wa sallam berikut:

من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر

Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka bagaikan puasa setahun penuh’.”(HR Abu Dawud no.2433)

Namun, perlu diperhatikan dalam melakukan Kado Nabi berupa ‘amalan Sunnah yang mulia ini:

1. Tidak harus dilaksanakan berurutan

“Puasa Syawal tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdza)

Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik: Berkata Musa: ‘Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho kepadaku. (QS Thoha: 84)

2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan

“Jika seseorang masih punya hutang puasa Ramadhan, maka dia harus membayar puasa wajibnya terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.”

3. Wanita yang sudah menikah harus minta izin dulu kepada suaminya


لا تصوم المرأة وزوجها شاهد يوما من غير شهر رمضان إلا بأذنه

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda “Seorang istri tidak boleh berpuasa satu haripun selain bulan Ramadhan dan suaminya berada di sampingnya, kecuali dengan izinnya” (HR Tirmidzi no. 782)

Maka beruntunglah wanita yang masih lajang dalam hal ini….

4. Tidak ada perayaan sesudah Puasa 6

Umat Islam hanya mengakui dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), sedangkan mengadaan perayaan Islami hari besar selain itu, jelas suatu hal yang baru. Waspadalah dengan hal yang baru:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“….Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676)

Semoga kita semua bisa mengamalkan Sunnah Nabi tersebut di bulan Syawal yang akan tiba ini, Insya Alloh.

Wallahu A’lam

1 Komentar

“I’tikaf” Sunnah Ramadhan yang Teabaikan

Ramadhan semakin menjauh, Syawal semakin menjelang. Para perantau dan pendatang sibuk dengan tiket mudiknya. Para buruh dan karyawan masih sibuk mencari dana demi membeli baju lebaran anak dan istri. Para Istri sibuk dengan persiapan kue lebarannya. Para mahasiswa dan siswa sibuk memikirkan kapan libur dan kapan pulang kampung. Inilah Fenomena Ramadhan yang selalu berulang setiap tahunnya.

Ramadhan semakin menipis, padahal ia hanya ada sekali dalam setahun, padahal di sini pintu kebaikan terbuka lebar, di sini para Syetan dibelenggu, di sini puntu neraka tertutup rapat sebagaimana dalam hadits berikut:
إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة
“Apabila tiba awal bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintupun yang ditutup, lalu penyeru menyerukan, ‘Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Alloh juga mempunyai pembebas-pembebas dari neraka. Hal itu terjadi pada tiap malam” (HR Tirmidzi no. 682)

Ketika memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, shaf di mesjid-mesjid mulai mengalami kemajuan dengan kata lain jama’ahnya semakin berkurang. Padahal, di malam-malam terakhir inilah Suri Taudalan kita Rasul yang mulia Sholallahu’alaihi wa sallam meningkatkan ‘amal Ramadhannya dengan cara I’tikaf di Mesjid. Hal ini berdasarkan Hadits:
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Dari Aisyah Rodhiallahu’anha, istri Nabi, bahwa Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Alloh mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri belau melakukan I’tikaf sesudahnya (HR Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu’anha juga berkata,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا دخل العشر، أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر
“Jika tiba sepuluh hari yang terakhir, beliau Sholallahu’alaihi wa sallam menghidupkan malam (untuk beribadah), membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh (beribadah) serta mengencangkan kainnya” (HR. Muslim no. 1174)

Di malam ini Alloh subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hambanya satu malam yang apabila kita beribadah sungguh-sungguh pada malam itu lebih baik daripada 1000 bulan sebagaimana firman-Nya:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu lebih baik dari seribu bulan” (Q.S Al-Qadr: ayat 3)

Rasulullah memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mencari malam ini, berdasarkan hadits:

“إني اعتكفت العشر الأول. ألتمس هذه الليلة. ثم اعتكفت العشر الأوسط. ثم أتيت. فقيل لي: إنها في العشر الأواخر. فمن أحب منكم أن يعتكف فليعتكف”
“Sungguh aku telah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari Lailatul Qadar, kemudian aku beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahannya, kemudian aku didatangi oleh malaikat dan dikatakan padaku bahwa Lailatul Qadar ada pada sepuluh hari terakhir, maka siapa di antara kalian ingin beri’tikaf, beri’tikaflah” (HR Muslim no. 1167)

Bila kita beribadah di malam ini yang dirahasiakan Alloh diantara 10 malam terakhir, maka semua dosa kita akan diampuni oleh Alloh ‘Azza wa Jalla, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah:
من صام رمضان وقامه إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan menegakkan (ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosanya yang telah lampau. Barangsiapa menegakkan (ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau” (HR. Tirmidzi no.683)

Sesungguhnya kita tidak pernah diberitahu tentang kepastian kapan jatuhnya Malam Lailatul Qadar ini, karena memang Rasulullah tidak menyebutkannya, berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudry:

“يا أيها الناس ! إنها كانت أبينت لي ليلة القدر وإني خرجت لأخبركم بها. فجاء رجلان يحتقان معهما الشيطان. فنسيتها. فالتمسوها في العشر الأواخر من رمضان ….”
“Saudara-saudara! Sungguh telah dijelaskan kepadaku tentang Lailatul Qadar, dan aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang hal itu. Namun kemudian datang dua orang yang sama-sama mengaku benar sedangkan mereka ditemani oleh syetan. Sehingga Lailatul Qadar terlupakan olehku. Maka carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan….”(HR Muslim no. 1167)

Kesimpulannya, bagi kita yang masih diberikan kesempatan dan kemudahan dalam beribadah di bulan yang mulia ini. Maka gunakanlah 10 malam terkahir ini untuk bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan I’tikaf dalam rangka bertaqarrup kepada Alloh, bermanja-manja dengan Alloh ‘Azza wa Jalla, bertobat atas segala dosa yang telah kita lakukan dan senantiasa berdo’a untuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat khususnya.


اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌُّ كَرِيْمٌُ تٌحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
Ya Alloh, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah yang suka memberikan ampunan. Maka, ampunilah kami……

Wallahu’alam

Tinggalkan komentar

Perbanyak do’a di bulan Ramadhan

Bila kita membuka Al-Qur’an kita, setelah membaca ayat-ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan pada surat Al-Baqoroh 183-185, maka di ayat berikutnya kita akan menemukan tentang anjuran berdo’a, sebagaimana firman-Nya yang berarti:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S Al-Baqoroh: 186)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
َلاَثَةٌُ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ، وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لاَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ ِحينٍِ
Ada 3 orang yang do’anya tidak akan tertolak, yaitu: Seorang imam (pemimpin) yang adil, orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan do’a orang yang teraniaya. Alloh akan mengangkat do’anya ke atas awan dan membuka pintu-pintu langit bagi do’anya itu. Lalu Alloh berfirman ‘Demi keagungan-Ku, sungguh aku akan menolongmu meskipun setelah lewat waktunya’” (HR. Tirmidzi no. 2526)

Keutamaan do’a:
1. Do’a adalah ibadah berupa ucapan yang paling mulia, berdasarkan sabda Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam:
لَيْسَ شًيْءٌُ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ مِنْ الدُّعَاء
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Alloh daripada do’a” (HR. Ibnu Majah no.3829)

2. Alloh ‘Azza wa Jalla murka kepada orang yang tidak berdo’a, sebagaimana hadits Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam:
مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّه: يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Alloh, maka Alloh akan memurkainya” (HR Tirmidzi no.3373)

3. Do’a mampu menolak takdir, sebagaimana sabda Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam:
لاَيَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ ِلدُّعَاءَ
“Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali do’a” (HR Tirmidzi no.2139)

4. Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdo’a
أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ
“Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdo’a dan orang yang paling bakhil adalah orang yang tidak mau menjawab salam” (HR Al-Haitsami, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

5. Do’a bisa menghindarkan bencana, sebagaimana dalam Q.S Maryam: 48
“Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Agar Do’a dikabulkan:
1. Ikhlas hanya karena Alloh dan tidak mencampurinya dengan Riya’ berdasarkan Q.S Al-Bayyinah:5
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus….”
2. Mengikuti Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam dalam tata cara berdo’a sebagaimana dalam Q.S Ali ‘Imran 31:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

3. Yakin dan percaya bahwa do’a kita akan terkabulkan oleh Allo Subhanahu wa Ta’ala
يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسْأَلُونِي. فَأَغْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَان مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرِ
“Wahai hamba-hambaKu, andaikan kalian semua dari yang awal sampai yang terakhir, baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin, berdiri di atas satu dataran lalu meminta apa pun kepada-Ku, lalu aku penuhi semua permintaan mereka, hal itu sedikit pun tidak mengurangi kekayaan yang Aku miliki, hanya seperti berkurangnya air samudra ketika dimasuki sebatang jarum jahit (kemudian diangkat)” HR Muslim no. 2577 dalam Arba’in Nawawiyah no.24

4. Menghadirkan hati dan khusyu’ dalam berdo’a, mengharapkan pahala dan takut akan siksa-Nya, karena, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ادْعُواللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَستَجِيبُ دُعَاءًَ مِنْ قَلْبٍِ غَافِلٍِ لاَهٍِ
“Berdo’alah kepada Alloh dan kamu yakin do’amu terkabul dan ketahuilah bahwa Alloh tidak mengabulkan do’a orang yang lalai dan tidak serius” (HR Tirmidzi no.3479)

5. Sungguh-sungguh dalam berdo’a dan punya keinginan kuat
لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ؛ فَإِنَّهُ، لاَ مُكْرِهَ لَهُ
“Janganlah seseorang kalian mengucapkan, ‘Ya Alloh, ampunilah aku bila Engkau berkenan. Ya Alloh, rahmatilah aku bila Engkau berkenan. Dan hendaklah memantapkan permohonan Sesungguhnya Alloh tidak ada yang dapat memaksa-Nya”(HR Bukhari dalam mukhtasar Shohih Bukhari5, hadits no.2432)

Penyebab TerhalangnyaDo’a:
1. Bersenang-senang dengan yang haram, makanan haram, minuman haram, pakaian dan tempat tinggal juga haram, dan sebagainya. Sebagaimana Hadits Nabi:
ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر ثم يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذى بالحرام فأنى يستجاب لذلك
“Beliau Sholallahu’alaihi wa sallam menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Robbku, wahai Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan do’anya.” (HR. Ahmad no.8330 dan HR. Muslim dalam Arba’in Nawawi no.10)

2. Tergesa-gesa dan tidak sabar dalam berdo’a sehingga tidak mau berdo’a lagi
“لا يزال يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم. ما لم يستعجل”. قيل: يا رسول الله! ما الاستعجال؟ قال “يقول: قد دعوت، وقد دعوت، فلم أر يستجيب لي. فيستحسر عند ذلك، ويدع الدعاء”
“Do’a seorang hamba akan selalu dikabulkan selagi tidak memohon sesuatu yang dosa atau pemutusan kerabat, atau tidak tergesa-gesa. Mereka bertanya ‘Apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?’ Beliau Sholallahu’alaihi wa sallam menjawab ‘Dia berkata ‘Saya berdo’a berkali-kali namun tidak dikabulkan, lalu dia merasa bosan kemudian meninggalkan do’a” (HR Muslim no. 2735)

3. Berdo’a yang mengandung dosa dan pemutusan silaturrahim (Seperti yang diterangkan di atas)

4. Melakukan kemaksiatan dan perbuatan haram.
Seseorang pezina, pemabuk, pemakan gaji dari lembaga ribawi, penyihir, peramal ,dsb ataupun muslimah yang masih menampakkan auratnya di khalayak ramai tidak akan memiliki do’a yang makbul jika masih belum bertobat dari dosanya.

5. Meninggalkan kewajiban yang diwajibkan Alloh.
Orang yang tidak sholat, tidak puasa , tidak zakat, tidak haji padahal mampu juga tidak akan makbul do’anya sampai dia ta’at melakukan kewajiban yang telah disyari’atkan

Wallohu A’lam

Tinggalkan komentar

Pasang Target di Bulan Ramadhan

Alasan diwajibkannya berpuasa pada Bulan Ramadhan adalah karena pada Bulan inilah Al-Qur’an diturunkan, sebagaimana Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…..”(Q.S Al-Baqoroh: 185)

Oleh karenanya, di Bulan inilah seluruh ‘amalan ditingkatkan secara optimal. Pada siangnya kaum mukminin melakukan puasa dan malam harinya kaum mukminin melakukan Qiyamul Lail, serta waktu-waktu lowong pun diisi dengan dzikir, i’tikaf, membaca buku Islami dan kegiatan bermanfaat lainnya.

Pada Bulan inilah momen kita untuk memperbaiki Bacaan Qur’an kita, memperbaiki hafalan Al-Qur’an yang telah terlupakan karena maksiat yang kita lakukan, serta menambah hafalan Qur’an, memahaminya untuk bisa kita amalkan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِلْخَيْرِ وَ كَا نَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَم كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلةِ

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma Dia berkata: “Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak berbuat baik dan puncaknya adalah pada bulan Ramadhan.Sesungguhnya Jibril ‘Alaihi-Salam selalu menemani Rasulullah setiap tahun pada bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Pada setiap bulan Ramadhan, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam selalu mendengarkan bacaan Al-Qur’an kepada Jibril. Ketika Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam ditemui Jibril, maka kebaikan beliau melebihi angin yang bertiup kencang” (Mukhtasar Shahih Muslim, Hadits no. 1592. Halaman 311)

Dengan demikian, sebagai pengikut setianya, hendaknya kita di Bulan Ramadhan tahun ini mempersiapkan target kebaikan-kebaikan yang akan kita lakukan. Dalam hal ini, Peningkatan membacai Al-Qur’an adalah perioritas “UTAMA”.

عن عبد الله بن عمرو قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم صم من كل شهر ثلاثة أيام واقرأ القرآن في شهر

Dari Abdullan bin Amr Radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku. ‘Berpuasalah tiga hari setiap bulan, bacalah Al-Qur’an (sampai tamat) dalam sebulan……..(H.R Abu Dawud no. 1389)

Hendaknya sekurang-kurangnya seminimal mungkin pada Ramadhan ini kita mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak satu kali (1 x), dengan demikian di bulan lainnya kita akan bisa terlatih dengan ‘amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini.

Bisa kita bayangkan jika kita bisa mengkahatamkan Qur’an yang terdiri dari 114 surat, 6236 ayat dan sekitar 110.000 kosa kata. tidak terkira pahala yang kita dapatkan sebagaimana dalam Hadits:

سَمِعْتُ عَبْدُ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرٍ أَمْثَلِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:”Siapa saja yang membaca satu kitab Alloh (Al-Qur’an) maka ia akan mendapatkan satu kebaikan karenanya dan sepuluh kebaikan yang serupa dengannya (dilipat gandakan sepuluh kali lipat). Aku tidak mengatakan bahwa alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (H.R Tirmidzi no. 2910)

Namun, jika mengkhatamkan Al-Qur’an begitu berat dalam satu bulan. Hendaknya kita menghapal 1 Juz dari Al-Qur’an dalam sebulan. Jika anda masih pemula dalam menghafal Qur’an maka bisa dimulai dari yang paling mudah yaitu Juz ‘Amma atau juz 30. Dengan demikian memori kita akan terisi dengan Al-Qur’an. Sesungguhnya mengahapal Al-Qur’an itu mudah sebagaimana Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S Al-Qomar ayat 17, 22, 32 dan 40)

Semoga kita bisa menjadi bagian dari para Hafizh Qur’an yang akan terus ada sampai akhir zaman…..

Namun, jika ini juga berat. Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan tidak ada waktu untuk tilawah Qur’an dan menghafalnya. Maka sebaiknya kita banyak memberi bantuan berupa moril atau materil kepada para pembaca dan hafizh Qur’an, bergaul dengan mereka secara baik, serta banyak mendengarkan bacaan Qur’an di majelis-majelis, kaset, Mp3 dan Ipod. Intinya sebelum mengamalkan Qur’an kita juga harus membaca, memahami dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an tersebut sehingga kedekatan kita dengan Al-Qur’an akan terjalin dan jadilah kita sebagai
generasi Qur’ani.

Janganlah kita menjadi generasi musisi, yang waktu luangnya hanya dihabiskan menonton konser musik, mendengarkan musik-musik gombal dan pengumbar syahwat khususnya di bulan Ramadhan ini dan bulan-bulan lainnya. Bahkan sebagian besar anak muda lebih suka menghapal Sya’ir musik dari pada menghafal Al-Qur’an pedoman hidupnya.
Semoga kita tidak menjadi bagian dari mereka….

Waspadalah dengan Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى, قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا,قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. (Q.S Thoha ayat 124 – 126)

Wallohu A’lam

Semoga Target ‘Amalan kita bisa tercapai di Ramadhan Tahun ini. Mudahkanlah ya Alloh…..

Tinggalkan komentar

Perdalam ‘Ilmu Sebelum Ber’amal

Sesungguhnya Alloh menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Alloh سبحانه و تعالي berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Alloh kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Alloh atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Amat cepat hisab-Nya” [QS. Al-Maidah:4]

Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan pintar sama hukumnya”.(1)

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله berkata (2)

“Ilmu bermanfaat adalah mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya.

Pertama: Dia berusaha terlebih dahulu memilah antara hadits shahih dan lemah.

Kedua: Dia berusaha memahami makna kandungannya. Sungguh, pada semua itu terdapat kecukupan bagi orang yang berakal dan kesibukan bagi orang yang ingin mendapatkan ilmu bermanfaat.

Barangsiapa mengikhlaskan hatinya untuk mengharap wajah Alloh dan memohon pertolongan kepadaNya, niscaya Dia akan menolongnya, menunjukinya, memudahkannya, dan memahamkannya. Pada saat itulah, ilmu ini akan membuahkan buahnya yang terpenting yaitu Khsyatulloh (takut kepada Alloh), sebagaimana firman Alloh سبحانه و تعالي

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Alloh diantara hamba-hambaNya, hanyalah ulama” [QS. Al-Fathir: 28]

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْئُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ

Dari Jundub bin Abdillah berkata: Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan seorang berilmu yang mengajarkan kebaikan kepada manusia tetapi melupakan dirinya seperti lampu yang menyinari manusia tetapi membakar dirinya sendiri”.(3)

Kebiasaan Imam Zuhri رحمه الله kalau masuk rumah, maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari segala urusan dunia lainnya. Suatu saat isterinya pernah berkata padanya: “Demi Alloh, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga isteri sainganku!!!”.(4)

Ibnu Qayyim رحمه الله berkata: “Guru kami (Ibnu Taimiyyah رحمه الله) pernah bercerita padaku: “Ketika sakit menimpaku, seorang dokter berkata padaku: Sesungguhnya bacaanmu dan pembicaraanmu tentang ilmu akan menambah sakitmu”.

Aku menjawab: Saya tidak bisa sabar menahan hal itu. Sekarang jawablah pertanyaanku berdasarkan ilmu pengetahuanmu: Bukankah hati apabila senang dan kuat maka akan mampu mengusir penyakit?

Jawab sang dokter: Ya, benar.

Aku berkata lagi: Demikian pula hatiku, dia sangat senang dengan ilmu dan aku merasakan kegembiraan dengannya.

Dokter menjawab: “Ini keluar dari cara pengobatan kami…”.(5)

Kesabaran saat menuntut ilmu sangat diperlukan. Coba perhatikan ucapan Imam Ahmad رحمه الله: “Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.(6)

Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah رحمه الله berkata:

“Ibnu Abbas رضي الله عنهما mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”.(7)

Sungguh benar ucapan seorang penyair:

النَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى * حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمُ

Jiwa itu seperti anak bayi, kalau kau biarkan

Maka dia akan suka menyusu

Dan bila engkau menyapihnya diapun akan berhenti

Ibnu Jama’ah al-Jinani berkata:

“Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak hanya mencukupkan diri untuk belajar kepada guru-guru yang populer saja, karena hal itu dinilai oleh al-Ghozali termasuk kesombongan dan kebodohan. Ketahuilah bahwa kebenaran adalah seperti barang hilang yang dicari oleh seorang mukmin, dia akan mengambilnya dimanapun dia mendapatkannya dan berterima kasih kepada orang yang memberikan kepadanya. Demikian pula seorang penuntut ilmu, dia akan lari dari kebodohan sebagaimana dia lari dari singa. Dan orang yang lari dari singa, dia tidak akan peduli siapapun orangnya yang menunjukkan jalan keluar kepadanya”.(8)

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ: قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ : غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ, فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ, فَكَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ : مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةٌ مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ : وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ : وَاثْنَيْنِ.

Dari Abu Sa’id al-Khudri menceritakan bahwa sejumlah para wanita berkata kepada Nabi: “Kaum lelaki lebih banyak bergaul denganmu daripada kami, maka jadikanlah suatu hari untuk kami”. Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka guna menasehati dan memerintah mereka. Diantara sabda beliau saat itu: “Tidak ada seorang wanitapun yang ditinggal mati oleh tiga anaknya kecuali akan menjadi penghalang baginya dari neraka”. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau Cuma dua?”. Nabi menjawab: “Sekalipun Cuma dua” (9)

Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

“Hadits ini menunjukkan semangat para wanita sahabat dalam mempelajari masalah-masalah agama”.(10)

Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu untuk mengatakan tentang suatu permasalahan yang tidak diketahuinya: “Saya tidak tahu”. Sungguh, hal itu sama sekali tidak mengurangi derajat mereka, bahkan meninggikan mereka. Ditambah lagi, bahwa hal itu memiliki beberapa faedah berikut:

Dia menunaikan kewajibannya.
Dia akan segera mencari jawabannya baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, sebab seorang murid tatkala mendapati gurunya belum mengetahui jawabannya, dia akan bersungguh-sungguh untuk mencari jawabannya lalu menghadiahkan jawabannya tersebut kepada gurunya.
Hal itu menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjawab permasalahan.
Sebagai pelajaran dan contoh bagi para muridnya. (11)

Permasalahan: Terkadang kita perhatikan pada sebagian penuntut ilmu kurangnya semangat dalam menimba ilmu. Apakah kiat-kiat yang dapat menyembulkan semangat menuntut ilmu ?

Jawab: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله menjawab:

“Kurangnya semangat dalam menuntut ilmu syar’i merupakan salah satu musibah besar. Ada beberapa kiat yang dapat mengobatinya, diantaranya:

Pertama: Ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu. Seorang apabila memurnikan niatnya hanya untuk Allah dalam menuntut ilmu dan menyadari bahwa dirinya mendapat pahala dalam amalan tersebut niscaya dia akan bersemangat.

Kedua: Berteman dengan teman-teman yang memberinya motivasi dalam menuntut ilmu dan membantunya dalam dialog serta membahas permasalahan.

Ketiga: Melatih dirinya untuk sabar dan membiasakan diri dalam menuntut ilmu. Adapun jika dia melepas dirinya tanpa kendali maka dirinya akan mengajaknya kepada perbuatan jelek dan Syetan akan mengajaknya untuk malas dalam menuntut ilmu”. (12)

وَ اللَّهُ أَعْلَمْ

Catatan Kaki:
(1) Miftah Dar Sa’adah Ibnu Qayyim 1/236
(2) Fadhlu Ilmi Salaf ‘ala Ilmi Khalaf (hal. 26)
(3) HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam Kabir 1/84/2, al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ Ilmu Amal 70 dan dishahihkan al-Albani dalam Tahqiqnya
(4) Wafayatul A’yan Ibnu Khallikan 4/177-178
(5) Raudhatul Muhibbin hal. 70
(6) Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268
(7) Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14
(8) Tadzkirah Sami’ fi Adabil Alim wal Muta’allim hal. 87
(9) HR. Bukhari 101
(10) Fathul Bari 1/259
(11) Lihat al-Fatawa as-Sa’diyyah Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di hal. 628-629
(12) Kitab Ilmu hal. 105

Tinggalkan komentar

33 Kiat Sholat Khusyu’

Keharusan Khusyu’ dalam sholat adalah hal utama yang harus ditekankan, sebagaimana firman Allooh ‘Azza wa Jalla:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk” (Q.S Al-Baqoroh: 238)

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
”(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” (Q.S. Al-Mukminun: 2)

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Q.S. Al-Baqoroh: 45)

Dari ayat-ayat di atas, maka kita diwajibkan berusaha untuk melakukan sholat dengan khusyu’. Adapun kiat dan cara agar sholat kita khusyu’ adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Diri Untuk Shalat
Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Diantaranya:
• Menjawab seruan adzan dan dilanjutkan dengan berdoa sesudah adzan.
• Menyempurnakan wudhu
• Menyiapkan diri untuk shalat dengan memilih pakaian yang bagus dan harum.
• Bersegera pergi menujumasjid dengan ketenangan
• Menunggu shalat berjamaah dimulai dan segera melurus-rapatkan shaf (barisan) karena setan selalu mencari celah-celah untuk dilaluinya.

2. Thuma’ninah dalam Shalat

Orang yang tidak melakukan thuma’ninah dalam shalatnya, tidak mungkin dapat mencapai kekhusyu’an, karena shalat yang dikerjakan dengan cepat-cepat dapat menghilangkan kekhusyu’an dan dapat menghilangkan pahala.
“Sejahat-jahat manusia adalah pencuri, yaitu orang yang mencuri dari shalatnya.”Qatadahbertanya,”Ya Rasulullah, bagaimana ia bisa mencuri shalatnya?”Beliau menjawab.”Ia tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya .” (Ahmad)

3. Mengingat mati dalam shalat

“Ingatlah kematian dalam shalatmu, karena apabila seseorang mengingat kematian dalamshalatnya, sudah pasti ia akan berusaha keras untuk menyempurnakan shalatnya. Dan,shalatlah kamu seperti shalatnya seseorang yang tidak membayangkan bahwa dirinya bias mengerjakan shalat sesudah itu. ” (As-silsilah Ash-Shahihah oleh Albani)

4. Menghayati ayat-ayat dan zikir yang dibaca serta berinteraksi dengannya

Diantara hal-hal yang dapat membantu kita menghayati al-Quran adalah membaca ayat-ayatal-Quran secara berulang-ulang sambil membiasakan diri mengamati artinya. Selain itu, hal lainyang dapat mebantu kita agar dapat menghayati ayat-ayat al-quran adalah denganmengadakan interaksi dengan ayat-ayat tersebut. Juga diantara hal-hal yang dapat membantupenghayatan (terhadap ayat-ayat yang dibacanya) adalah membaca al-quran dan berbagaimacam dzikir yang terdapat pada rukum-rukun shalat dengan segala variasinya.Setelah dihafalmaka dibaca, direnungkan dan difikirkannya.Diantara bukti interaksi kita terhadap ayat-ayatal-quran ialah ketika kita mengucapkan amin setelah membaca al-Fatihah. Atau seperti apayang diriwayatkan Hudzaifah,
” Pada suatu malam saya shalat bersama Rasulullah. Beliaumembaca al-Quran dengan perlahan-lahan. Apabila melewati ayat yang mengandung tasbih,beliau pasti mebaca tasbih. Apabila melewati ayat yang berisikan permohonan (kepada Allah),beliau memohon.Dan, apabila melewati ayat yang berisikan permohonan perlindungan beliaupasti memohon perlindungan (kepada Allah).”(Muslim)

5. Mentartil bacaan ayat per ayat

Metode memotong bacaan ayat per ayat dilakukan untuk lebih mempercepat memahamisekaligus menghayati ayat-ayat tersebut. Bahkan hal yang demikian itu merupakan SunnahNabi sebagaimana yang dituturkan oleh Ummu Salamah mengenai bacaan Rasulullah,
“Bismillahirrahmaanirrahiim.”Dalam satu riwayat disebutkan,” Kemudian beliau berhenti sejenak, lalumembaca alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin, kemudian berhenti.Setelah itu membaca ar-rahmaanirrahiim.” Dalam riwayat yang lain disebutkan,”Kemudian beliau berhenti, lalu membaca maalikiyaumid diin, sambil memutus-mutuskan ayat demi ayat.”

6. Membaca dengan tartil dan memperbagus suara bacaannya

Membaca al-Quran dengan tartil dan perlahan-lahan itu lebih mendorong si pembacanyauntuk menghayati dan bersikap khusyu.Keadaan yang demikian itu berbeda dengan membacasecara cepat den tergesa-gesa.Yang juga dapat membantu kekhusyuan dalam shalat adalahmemperbagus suara bacaan. Hal ini bukan berrati melenggak-lenggokkan suara dan membacaberdasarkan bacaan orang lain yang tidak benar. Akan tetapi suara itu dikatakan indah biladisertai dengan bacaan yang mengandung kesedihan, seperti disabdakan Nabi,
” Sesungguhnya di antara manusia yang suaranya bagus ketika membaca al-Quran adalah apabila kamumendengar al-quran itu dibacanya, kamu mengira bahwa dia benar-benar takut kepada Allah.” (Ibnu majah)

7. Menyadari bahwa Allah pasti Mengabulkan doa dalam shalatnya

“Apabila salah seseorang diantaramu berdiri shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajahkepada Rabb-nya, maka hendaklah ia memperhatikan bagaimana cara bermunajah kepada-Nya (yang baik). “(Mustadrak al-Haakim)

8. Shalat dengan Menghadap dan dekat kepada Tabir

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia menghadap ke arah tabir dan dekat kepadanya. ” (Abu Daud)

“Apabila salah seorang kamu shalat ke arah tabir hendaklah mendekatinya, maka setan tidak dapat memutus kan shalatnya. “(Abu Daud)

9. Meletakkan Tangan Kanan di atas Tangan Kiri di atas dada

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata bahwa para ulama berkata,”Hikmah dari posisi tanganseperti itu ketika shalat adalah membuktikan sikap seseorang yang meminta dengan penuhkehinadinaan dan ketundukan. Keadaan seperti itu akan lebih mencegah dari sikap main-main (yang tidak ada kaitannya dengan shalat) dan justru akan lebih mendekatkan kepada kekhusyu’an. ”

10. Memandang ke tempat sujud

“Apabila shalat, Rasulullah biasa menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannyake tanah (ke tempat sujud). “(Hakim)

Adapun dalam duduk Tasyahhud dianjurkan memandang ke arah jari telunjuk tangannya yangdipergunakan untuk isyarat sambil digerak-gerakkan.

11. Menggerak-gerakkan jari telunjuk

Banyak sekali orang yang shalat mengabaikan masalah ini.Apalagi mereka tidak mengertitentang manfaatnya yang begitu besar dan dampak positif yang ditimbulkan dalam rangkamembantu tercapainya kekhusyuan. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya menggerak-gerakkan jari telunjuk itu lebih dahsyat untuk mengalahkan syetandaripada besi. “(Ahmad)

12. membaca beragam surat, ayat, zikir, dan doa dalam shalat

Hal ini sangat membantu untuk selalu memiliki perasaan baru dalam menerima kandunganayat, zikir, dan doa yang dibacanya. Hal ini juga merupakan Sunnah Nabi bahkan lebihsempurna dalam mencapai kekhusyuan. Misalnya dalam doa iftitah, terkadang kita membaca:

Allahamumma baa’id baini wa baina khathaayaaaya kama baa’adta bainal masyriqi wal
maghribi ………….

Di lain kesempatan kita membaca:

Subhaanaka Allahumma wa bi hamdika wa tabaaraka ismuka wa taala jadduka wa laa ilaahaghaairuka

atau disaat yang lain membaca:

Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal ardha haniifan ………………

13. Membaca Sujud Tilawah bila membaca ayat sajdah

Melakukan Sujud tilawah ketika shalat itu besar sekali gunanya karena dapat menambahkekhusyuan dalam shalat.

14. Berlindung kepa Allah dari godaan syetan

Untuk menghadapi tipu daya setan, sekaligus untuk menghilangkan waswas yang dibisikkanoleh setan, nabi telah menunjukkan kepada kita terapi berikut ini:

“Abul Aash berkata,”Ya Rasulullah, sesungguhnya setan telah menghalang-halangi antaraaku dan shalatku serta bacaanku dan mengacaukannya terhadapku.” Lalu Rasulullahbersabda,”Itulah setan yang dinamakan Khanzab. Jika kamu merasakan keberadaannya makaberlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali.”Kata AbulAash,” Lalu aku mengerjakan hal demikian itu, maka Allah menghilangkan hal itu dari diriku.”(Muslim)

“Sesungguhnya apabila salah seorang kamu berdiri shalat maka datanglah setan untuk mengacaukan shalatnya dan membuatnya ragu sehingga tidak mengerti berapa rakaat dia telah mengerjakan shalat. Apabila salah seorang dari kamu merasakan demikian, hendaklah sujud dua kali dalam keadaan duduk. “(Bukhari)

“Apabila salah seorang dari kamu mengerjakan shalat, lalu merasakan gerakan pada duburnya, apakah berhadats atau tidak, sehingga ia ragu-ragu maka sekali-kali janganlah keluar dari shalat (membatalkannya) sebelum mendengar (kentut) atau mencium baunya. ” (Thabrani)

15. Merenungi ihwal orang-orang salaf dalam mengerjakan shalat

Hal ini dapat menambah kekhusyaun dalam shalat sekaligus dapat terdorong untuk mengikuti jejak mereka. Misalnya seperti ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu berdiri dalam melaksanakan shalat, dia bagaikan sebatang kayu karena khusyuknya. Ketika dia sujud, manjanik ‘peluru’ musuh mengenai bagian dari pakaiannya, namun dia tidak mengangkat kepalanya. Sebagian mereka ada pula yang mukanya berubah menjadi kuning apabila ia berwudhu untuk menunaikan shalat. Ketika ditanyakan kenapa seperti itu, dia menjawab,”Aku mengerti bahwa
aku akan berdiri di hadapan zat Yang Maha tinggi.”

16. Mengetahui keistimewaan khusyu’ dalam shalat

“Sesungguhnya seseorang yang mengerjakan shalat, tidaklah dicatat baginya dari shalat kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya. ” (Ahmad)

“Siapa orang muslim yang waktu shalat wajib tiba lalu berusaha menyempurnakan wudhu, khusyu, dan rukunya, maka shalatnya itu menjadi penghapus dosa-dosa selama setahun selama dia tidak mengerjakan dosa besar. ” (Muslim)

17. Bersungguh-sungguh dalam berdoa ditempat-tempat tertentu terutama dalam sujud

“Seseorang yang paling dekat kepada Allah ialah ketiak ia dalam keadaan sujud. Maka perbanyaklah berdoa (didalamnya). ” (Muslim)

18. Membaca dzikir-dzikir sesudah shalat

Jika kita mau mengamati dzikir-dzikir yang dibaca setelah shalat, akan kita dapatkan dzikir-dzikir tersebut mulai dengan istighfar sebanyak tiga kali. Bacaan istighfar itu menggambarkan seolah-olah orang yang shalat itu memohon ampunan kepada Allah atas segala kekurangan yang dilakukannya selama shalat, atas usahanya yang belum optimal dalam mencapai kekhusyuan dalam shalat.

19. Berusaha menghilangkan sesuatu yang dapat mengganggu orang shalat

Termasuk kategori semacam ini adalah berhati-hati melakukan shalat di tempat-tempat yang sangat gaduh an bising karena disampingnya banyak orang yang ngobrol ke sana ke mari. Hendaknya menghindarkan diri dari melakukan shalat ditempat-tempat hiburan dan segala sesuatu yang dapat mengganggu pandangannya. Di samping itu, hendaknya juga menghindarkan diri dari melaksanakan shalat ditempat-tempat yang amat panas.

20. Hendaknya tidak melakukan shalat dengan memakai pakaian yang ada hiasan, tulisan, warna-warni atau gambar-gambar yang mengganggu orang shalat

21. Jangan shalat sementara hidangan telah tersedia
“Tidak (boleh) shalat sementara makanan telah tersedia di hadapannya.” (Muslim)

22. Jangan mengerjakan shalat shalat sambil menahan buang air
“Apabila salah seorang kamu hendak pergi ke jamban sementara shalat telah dimulai, maka hendaklah didahulukan pergi ke jamban. ” (Abu Daud)

23. hendaklah tidak mengerjakan shalat dalam keadaan mengantuk
“Apabila salah seorang dari kalian mengantuk, sedangkan ia mengerjakan shalat, maka hendaklah tidur hingga hilanglah kantuknya, karena apabila mengantuk maka ia tidak mengerti yang seharusnya ia beristighfar, namun nyatanya ia mencaci maki dirinya sendiri. ” (Bukhari)

24. Hendaknya tidak shalat di belakang orang yang berbicara atau tidur
“Janganlah kamu melaksanakan shalat dibelakang orang yang sedang tidur dan jangan pula dibelakang orang yang sedang berbicara. ” (Abu Daud)

25. Tidak Menyibukkan diri dengan meratakan kerikil/pasir/tanah (Tempat Sujud)
“Janganlah kamu menyapu (pasir) padahal kamu sedang shalat. Tetapi jika kamu perlu maka (boleh) menyapu sekali saja. ” (Abu Daud)

26. Tidak mengganggu orang lain dengan bacaan (keras)
“Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang bermunajah kepada Allah, maka sekali-kali janganlah sebagian kamu mengganggu sebagian yang lain dalam shalatnya, dan janganlah sebagian kamu mengeraskan bacaan terhadap sebagian yang lain.” Atau beliau bersabda,”Janganlah sebagian dari kalian mengeraskan suara dengan bacaan al-Quran. ” (Ahmad)

27. Tidak Menoleh dalam Shalat
“Allah Azza wa Jalla senantiasa menghadap kepada seseorang yang tengah shalat selama ia tidak berpaling muka. Apabila ia berpaling muka maka Allah pun berpaling darinya. ” (Abu Daud)

28. Tidak menengadahkan Pandangan
“Apabila salah seorang dari kalian sedang melaksanakan shalat maka sekali-kali jangan menengadahkan pandangannya agar penglihatannya tidak berkilau. ” (Ahmad)

29. Tidak meludah ke arah depan ketika shalat

“Apabila seseorang dari kamu sedang shalat maka janganlah meludah ke depan karena Allah berada dihadapannya ketika ia sedang shalat. ” (Bukhari)
“Apabila salah seorang dari kalian berdiri shalat maka sebenarnya ia sedang bermunajah kepada Rabb-nya. Allah berada diantara dia dan kiblatnya. Janganlah meludah ke arah kiblatnya, tetapi hendaklah di sebelah kiri atau dibawah tumitnya. ” (Bukhari)

Apabila lantai masjid itu dilapisi sajadah dan sejenisnya sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang, maka bila dianggap perlu kita mengeluarkan sapu tangan atau sejenisnya lalu meludah ke dalamnya kemudian menyimpan sapu tangan tersebut.

30. Berusaha secara maksimal untuk tidak menguap ketika shalat
“Apabila salah seorang dari kalian sedang menguap dalam shalat maka tahanlah semampu mungkin karena setan masuk (mengganggunya). ” (Muslim)

31. Tidak Berkacak Pinggang
“Nabi melarang orang shalat dengan berkacak pinggang.” (Abu Daud)

32. Tidak mengulurkan kain sampai ke tanah dalam shalat
“Rasulullah melarang mengulurkan kain sampai ke tanah ketika shalat dan juga melarang seseorang menutup mulutnya. ” (Abu Daud)

33. Tidak boleh meniru-niru Binatang
Larangan meniru-niru binatang mencakup beberapa sifat shalat dan gerakannya. Ada riwayat bahwa Rasulullah melarang tiga perkara dalam shalat: mematuk seperti burung gagak (rukuk dan sujudnya cepat), membentangkan tangan bagaikan binatang buas, dan menguasai tempat tertentu (di dalam masjid untuk shalat) seperti unta menderum. (Ahmad)

REferensi:
33 sabab li al-khusyu’ fii al-shalat atau 33 Kiat Shalat khusyu’ Karya Muhammad al-Munajjid

Wallahu A’lam

Tinggalkan komentar

Antara Hasrat dan Kebutuhan

Antara Hasrat dan Kebutuhan

Persamaan dari dua kata ini adalah saling mendukung satu dengan yang lainnya. Hasrat muncul ketika kebutuhan telah terpenuhi, dan kebutuhan bisa muncul untuk memenuhi hasrat itu sendiri.

Perbedaan antara dua kata ini terletak pada sumbernya sendiri yaitu hasrat seringkali dipengaruhi nafsu sedangkan kebutuhan dipengaruhi oleh naluri manusia itu sendiri.

Dua kata ini seringkali mempengaruhi kebutuhan manusia, jika nafsu sudah menguasai seseorang maka hasratnya akan mengembara. Namun, jika manusia bisa mengontrol nafsunya maka nalurinya akan terjaga sehingga dia tidak akan membutuhkan sesuatu yang sudah dimilikinya.

Jika nafsu sudah berkuasa, maka hasratpun mengembara. Akibatnya:

– Seorang pejabat menggelapkan uang Negara bermilyar-milyar.
– Seorang ahli ibadah akan berguru kepada dukun untuk menguasai alam ghaib
– Seorang yang beristri dua akan berselingkuh dengan salah satu wanita simpanannya
– Seorang pedagang mi rela membunuh pedagang mi lainnya agar jualannya tak ada duanya
– Seorang wanita berjilbab rela menanggalkan jilbabnya ketika kuliah di negeri kafir agar mudah mendapat teman
– Seorang gadis rela telanjang di depan lelaki yang sangat dikaguminya
– Seorang siswa lebih suka mejeng di mall daripada ngaji di Mesjid
– Segerombolan pemuda lebih rela mati-matian ngantri di pertandingan bola daripada menghadiri majlis Ta’lim
– Seorang pemudi lebih senang dan terhibur bila mendengarkan musik daripada murottal Qur’an
– Seorang pengacara lebih suka berbohong daripada kalah dalam sidang
– Seorang penguasa akan memerangi Negara yang lemah untuk memperoleh sumber alamnya
– Seorang Ulama rela berfatwa salah demi kelangsungan karirnya
– Contohnya masih sangat banyak sekali……

Tidak selamanya nafsu dan hasrat ini mengarah kepada hal yang negatif seperti di atas. Semuanya bergantung pada lingkungan tempat manusia itu berada. Jika lingkungan baik maka manusianya pun baik. Jika seseorang itu:

1. Sering melihat dan memandang hal yang baik-baik
2. Memasang pendengarannya kepada yang baik-baik, maka
3. Lisannya tidak akan berkata kecuali yang baik-baik pula, dan
4. Hati dan pikrannya pun akan terjaga.

Akal manusia yang memiliki 4 kriteria di atas akan cenderung ke arah yang positif, sehingga nafsu dan hasratnya pun terkontrol ke arah yang positif, akibatnya:

– Seorang pedagang bakso lebih suka memenuhi seruan adzan daripada meneruskan dagangannya
– Seorang Ibu rumah tangga yang sedang kehilangan kalung emas lebih suka mengikhlaskannya daripada menanyakannya ke Dukun (Tukang tenung)
– Seorang siswa lebih suka belajar di rumah daripada keliaran di mall
– Seorang gadis rela dijauhi para lelaki daripada melepas jilbabnya
– Seorang pemuda lebih suka menghapal dan mendengarkan Al-Qur’an daripada menghapal sya’ir nyanyian dan mendengarkan musik
– Seorang pejabat lebih suka ke kantornya dengan memakai kendaraan sendiri daripada kendaraan dinas
– Seorang lelaki lebih suka jadi kontraktor (Ngontrak rumah) daripada beli rumah dengan transaksi ribawi
– Seorang ayah lebih suka pergi ke Masjidil Haram daripada keliling Eropa dan Amerika
– Seorang ibu rumah tangga lebih suka mendengarkan Ta’lim daripada ngerumpi dengan tetangga
– Seorang Pria rela kebasahan oleh gerimis ketika menghadiri Sholat Subuh di Mesjid
– Seorang Ulama lebih baik kehilangan mad’unya (orang yang didakwahinya) daripada salah/keliru dalam berfatwa
– Seorang penguasa rela tidak tidur semalaman karena memikirkan keadaan rakyatnya.

Orang yang berakal baik akan memikirkan ayat-ayat ini:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Q.S Al-Israa’: 36)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Q.S: Ali Imran:190)

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (Q.S: Al-Maidah:100)

Wallahu A’lam.

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Agustus 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031