Archive for category Hadits

Memadamkan Kobaran Api Syetan

Diriwayatkan dari Abu Tayyah, dia berkata:
“Aku bertanya kepada Abdur Rahman bin Khanbasy At Tamimi yang pada waktu itu sudah tua usia, apakah anda bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam? dia berkata; Ya. (Abut At Tayyah Rahimahullah) berkata; apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam ketika datang setan kepadanya?.

Beliau berkata; ” Setan datang secara bergemuruh kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada malam itu dari lembah-lembah dan bukit-bukit dan di antara mereka ada yang membawa obor di tangannya, hendak membakar wajah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu Jibril Alaihissalam turun kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan berkata; wahai Muhammad ucapkanlah! Beliau bertanya, “Apa yang saya harus ucapkan?” (Jibril alaihissalam) berkata; bacalah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan yang Dia ciptakan, yang Dia buat dan yang Dia adakan dan dari kejelekan apa saja yang turun dari langit dan dari kejelekan apa saja yang naik padaNya, dan dari kejelekan fitnah malam dan siang, dan dari kejelekan yang datang pada malam hari kecuali yang datang dengan kebaikan wahai Dzat yang Maha Pengasih”.

Abdurrahman Radhiallahu’anhu melanjutkan:
“Api mereka padam dan Allah Tabaaroka wa ta’ala menghancurkan mereka” (HR. Ahmad, no. 15460; Lih. Shohih Al-Jami’, no. 74)

Wallahu A’lam

Iklan

, , ,

Tinggalkan komentar

*** Bertasbihlah ***

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Barangsiapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan aku memujiNya” dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih air laut.” (HR. Muslim, no. 2691)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI
WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya)
sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang
akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau
lebih dari itu”
(HR. Muslim no. 2692)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَـانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Dua kalimat yang ringan di lidah, pahalanya berat di timbangan (hari Kiamat) dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, adalah: Subhaanallaah wabi-hamdih, subhaanallaahil ‘azhiim” (HR. Muslim, no. 2694)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
لأَنْ أَقُوْلَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh, apabila aku membaca: ‘Subhaanallah walhamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar’. Adalah lebih senang bagiku dari apa yang disinari oleh matahari terbit”
(HR. Muslim, no. 2695)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh Radhiallahu’anhu, beliau berkata:
“Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu beliau bertanya:
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ
“Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan tiap hari?”. Salah seorang di antara yang duduk bertanya: “Bagaimana di antara kita bisa memperoleh seribu kebaikan (dalam sehari)?” Rasul bersabda: “Hendaklah dia membaca seratus tasbih, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau seribu kejelekannya dihapus” (HR. Muslim, no. 2698)

Dari Jabir Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda
مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membaca: Subhaanallaahi ‘azhiim wabihamdih, maka ditanam untuknya sebatang pohon kurma di Surga” (HR. At-Tirmidzi, no. 3464)

Wallahu A’lam

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Hadits Palsu Peristiwa Dzulhijjah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, disandarkan kepada Nabi Sholallohu’alayhi wa sallam yang bersabda:

اليوم الذى غفرالله فيه لادم عليه السلام اول يوم من ذى الحجة، من صام ذلك اليوم غفرالله كل ذنب

 واليوم الثنى استجاب الله دعاء يونس عليه السلام فاخرجه من بطن الحوت، من صام ذلك اليوم كان كمن عبدالله تعالى سنة لم يعص الله فى عبادته طرفة عين

واليوم الثالث الذي استجاب الله فيه دعاء زكريا عليه السلام من صام ذلك اليوم استجاب الله دعاءه

واليوم الرابع الذي ولد فيه عيسى عليه السلام من صام ذلك اليوم نفى الله عنه البوءس والفقر فكان يوم القيامة مع السفرة البردة الكرام

واليوم الخامس اليوم الذي فيه موسى عليه السلام من صام ذلك اليوم بريء من النفاق او من عذاب القبر

واليوم السادس الذي فتح الله تعالى لنبيه فيه، من صامه ينظر الله اليه بالرحمة فلا يعذب بعده ابدا

واليوم السابع اليوم الذي يغلق فيه ابواب جهنم ولا تفته حتى تمض ايام العشر،  من صامه اغلق الله عنه ثلاثين بابا من اليسر                

واليوم الثامن اليوم الذي يسمى يوم التروية، من صامه اعطى من الاجرمالا يعلمه الا الله تعالى

واليوم التاسع اليوم الذي هو يوم عرفة، من صامه كان كفارة لسنة ماضية وسنة مستقبلة وهو اليوم الذي انزل فيه اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

واليوم العاشر هويوم الاضحى، من قرب قربانا فيه فباول قطرة قطرت من دمه غفر الله له ذنوبه وذنوب عياله، ومن اطعم فيه مؤمنا اوتصدق فيه بصدقة، بعثه الله تعالى يوم القيامة امنا ويكون ميزانه اثقل من جبل احد

 مجالس

“Hari saat mana Allah mengampuni Nabi Adam ‘alayhissalam, adalah hari pertama bulan dzulhijjah. Barang siapa berpuasa pada hari itu maka Allah mengampuni dosanya.

Pada hari kedua, Allah telah mengabulkan doa nabi yunus ‘alayhissalam. Dan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka seperti orang yangberibadah kepada Allah ta’aala selama satu tahun serta tidak mendurhakai Allah dalam ibadahnya meskipun sekejap mata.

Pada hari ketiga, Allah telah mengabulkan doa Nabi Zakariya ‘alayhissalam. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah mengabulkan doanya.

Pada Hari keempat, Nabi Isa ‘alayhissalam Dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah meniadakan/menghilangkan kesusahannya dan kefakirannya, dan dia besok pada hari qiyamat bersama dengan orang-orang yang pergi yang baik-baik dan yang mulia.

Pada Hari kelima, Nabi Musa ‘alayhissalam Dilahirkan, Barangsiapa berpuasa pada hari itu, maka dia bebas dari siksa kubur.

Pada hari kekenam, Allah ta’aala membuka kebaikan untuk nabinya. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah memperhatikan kepadanya dengan kasih saying dan dia tidak disiksa sesudah itu.

Pada Hari ketujuh, semua pintu-pintu neraka jahannam ditutup dan tidak dibuka sehingga berlalu hari-hari yang sepuluh itu.

Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah akan menghindarkan dari padanya tiga puluh pintu kesukaran dan membukakan baginya tiga puluh pintu kemudahan.

Pada Hari ke delapan, dinamakn hari tarwiyah.

Barang siapa yang berpuasa pada hari itu, maka dia diberi pahala yang hanya diketahui oleh Allah ta’aala sendiri.

Pada hari hari kesembilan, dinamakan hari arafah.

Barang siapa berpuasa pada hari itu maka sebagai tebusan dosanya pada tahun yang telah lewat dan yang akan datang. Dan pada hari itu juga telah diturunkan ayat : “Pada hari ini telah kau sempurnkanbagimu akan agamamu dan aku sempurnakan pula nikmatku kepadamu”

Pada hari kesepuluh, Hari Raya iedul adhaa.

Barang siapa berkurban dengan satu qurban, maka mulai tetesan darah yang terjatuh ketanah, Allah mengampuni semua dosanya dan dosa-dosa keluarganya dan barangsiapa member makan orang mukmin atau bersedekah dengan satu pemberian, maka Allah ta’aala membangkitkan pada hari qiyamat dengan selamat dan timbangannya pun menjadi lebih berat daripada gunung uhud. (Majaalis)

Riwayat ini dinukil dari Kitab Durrotun Nashihin. Hadits di atas tidak diketahui sanad lengkapnya dan tidak ditemukan dalam Kitab-kitab para Imam Hadits, Fatwa Lajnah no. 20803 menyebutkan bahwa:

هذا الحديث لا نعلم له أصلاً

“Hadits ini tidak kami ketahui asal usulnya”

Dengan demikian, hadits ini tak dapat dijadikan sandaran dalam beribadah.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Kualitas Sholat Para Bujangan

رَكْعَتَانِ مِنَ الْمُتَزَوِّجِ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً مِنَ الأَعْزَبِ

Dua raka’at yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah lebih utama daripada 70 raka’at yang dilakukan oleh bujangan

Hadits ini diriwayatkan oleh al-‘uqaili dalam “Adhu’afa” (432) dari Majasyi’ bin Amru: Memberitahukan kepada kami Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Anas secara marfu

Hadits ini juga terdapat di dalam kitab Al-Fawa’id Al-Majmu’ah Li Asy-Syaukani karya Imam Asy-Syaukani, Kitab ‘Ilal Imam Suyuthi. Kitab Al-Maudhu’at Imam Ibnul Jauzi Rahimahumulloh dan beberapa kitab lainnya

قال الألباني في ” السلسلة الضعيفة و الموضوعة ” ( 2 / 98 ) :

Berkata Al-Albani dalam “Silsilah Adh-Dho’ifah wa al-Maudhu’ah” (98/2):

موضوع . رواه العقيلي في ” الضعفاء ” ( 432 ) عن مجاشع بن عمرو : حدثنا عبدالرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن أنس مرفوعا . و قال : ” مجاشع حديثه منكرغير محفوظ ، قال يحيى بن معين : و قد رأيته أحد الكذابين ” .

Maudhu’ (PALSU), diriwayatkan al-‘Uqaili dalam “Adhu’afa” (432) dari Majasyi’ bin Amru: Memberitahukan kepada kami Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Anas secara marfu’, dan dia berkata: “Majasyi’ haditsnya munkar, tidak terjaga, berkata Yahya bin Ma’in: “Sungguh aku memandangnya sebagai seorang pendusta

Ibnu Abi Hatim Berkata dalam Jarh wa Ta’dil no. 1785

مجاشع بن عمرو روى عن هشام بن عروة وعبيد الله بن عمر روى عنه بقية وعثمان بن عبد الرحمن الحراني نا عبد الرحمن قال سألت أبى عن مجاشع هذا فقال متروك الحديث ضعيف ليس بشيء

Majasyi’ bin ‘Amru meriwayatkan dari Hizyam bin Urwah dan Abdullah bin Amru. Meriwayatkan darinya Utsman bin Abdurrahman al-Haroni. Berkata Abdurrohman: Aku bertanya kepada ayahku (Imam Abi Hatim) tentang Majasyi’, maka ia berkata: Dia ditinggalkan haditsnya lemah dan tidak ada apa-apanya.

Dengan demikian, hadits ini sama sekali tidak layak jadi pegangan.

Wallahu A’lam.

 

 

 

, , , , ,

Tinggalkan komentar

Lelaki Anshor Calon Penghuni Surga

Image

أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam tiba-tiba beliau bersabda, Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.‘ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

 فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى

Esok harinya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda lagi seperti itu (Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga), maka muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

 فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى

Pada hari ketiganya (besok harinya lagi) Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda seperti itu juga (‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga), maka kemudian lelaki itu datang sebagaimana kondisi sebelumnya.

 فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ؟

Setelah itu Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan ayahku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

 قَالَ: نَعَمْ

Dia menjawab, ‘Baiklah!’

 . قَالَ أَنَسٌ: وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ

Anas berkata bahwa Abdullah Amr bin Ash memberitahukan bahwa ia menginap tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamullail, hanya saja tiap kali membolak-balikkan badan di tempat tidurnya, ia membaca dzikir dan takbir hingga dia bangun untuk Sholat subuh.

 قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara kecuali yang baik.’

 فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَار

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan ayahku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

 فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jelas saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam berkata demikian?’

 فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ. قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Tidak ada yang lain kecuali seperti yang engkau lihat’. Letika aku berlalu pergi, lelaki itu memanggilku, maka dia berkata: ‘Tak ada ‘amalan kecuali seperti yang engkau lihat hanya saja aku tidak membiarkan diri menipu seorang muslimpun dan tidaklah aku dengki  terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya’.

 فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.

Sanad Hadits ini Shohih atas dasar Syaikhain

Takhrij: (HR. Ahmad dalam Musnadnya (Musnad Anas bin Malik) no. 12697; Mushonnif Abdurrozaq; Al-Bazar (1981) Kasyfal Astar, Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (6605), Ibnu Abdil Barr, dan Al-Baghowy (3535); An-Nasa’I dalam “’Amal al-Yaum wa al-Lailah (863)

 *** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Jangan Berdusta atas Nama Nabi dan Jangan Mendustakan Hadits Nabi

Meriwayatkan Hadits Palsu SAMA DENGAN Berdusta Atas Nama Nabi SAMA DENGAN Mengambil Tempat di Neraka

Dari ‘Ali ibn Abi Tholib Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

 “Janganlah kalian berbohong dengan mengatasnamakan diriku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang berbohong dengan mengatasnamakan aku, maka dia akan masuk neraka” (HR. Bukhari no. 106; Muslim no. 1; Ahmad no. 1292; Tirmidzi no. 2660; Ibnu Majah no. 31; Nasa’i no. 5880; Hakim no. 2614; Abi Y’la no. 627; dll)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa sengaja berbohong dengan mengatasnamakan diriku, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR. Muslim no. 2; Bukhari no. 108; Nasa’i no. 5882)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa sengaja berbohong dengan mengatasnamakan diriku, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR.Bukhari no. 110; Muslim no. 3; Ahmad no. 9316)

Matan hadits-hadits di atas tergolong “Sangat Shahih dan memiliki kualitas yang tinggi. Bahkan hadits ini adalah “Mutawatir” sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Bakar Al-Bazzar dalam kitab Musnadnya. Abul Qasim Abdurrahman bin Mundih menyebutkan bahwa jumlah perawi hadits itu yang berasal dari kalangan sahabat mencapai 87 orang. Ulama ahli hadits lain ada yang mengatakan telah diriwayatkan oleh 92 orang sahabat. Di antara para sahabat yang dimaksud adalah sepuluh orang yang telah dikabarkan surga. (Lihat Syarh Shahih Muslim; Imam Nawawi)

Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, faedah dan kaedah yang dikandung hadits ini adalah:

  1. Termasuk kategori berdusta adalah menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta, baik secara sengaja maupun secara lalai.
  2. Ancaman berdusta atas nama Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam, ini dianggap sebagai perbuatan keji dan termasuk dosa besar.
  3. Tidak ada bedanya antara berdusta atas nama Nabi dalam hal yang mengandung hukum dan yang tidak mengandung hukum.
  4. Haram hukumnya meriwayatkan hadits Maudhuu’ atau “PALSU” bagi mereka yang mengetahui ataupun bagi yang punya firasat hadits itu maudhuu’.

 Selain berdusta atas nama Rasulullah, kita juga dilarang mendustai hadits Nabi yang jelas-jelas shohih dan mengingkari hukum yang ada pada hadits tersebut, sebagaimana diriwayatkan bahwa:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barangsiapa yang meriwayatkan hadits dariku, namun dia berpendapat bahwa isinya adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta”  (HR. Muslim dalam Mukadimah; Ibnu Majah dalam sunannya, hadits no. 39)

Ibnul Jauzy berkata:

وقد ذهب طائفة من العلماء إلى أن الكذب على الله وعلى رسوله كفر ينقل عن الملة ولا ريب أن الكذب على الله وعلى رسوله في تحليل حرام وتحريم حلال كفر محض وإنما الشأن في الكذب عليه فيما سوى ذلك

“Sekelompok Ulama berpendapat bahwa berbuat dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya merupakan perbuatan kufur, mengeluarkan pelakunya dari millah. Tidak disangsikan lagi bahwa berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam masalah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah benar-benar kufur. Namun yang masih diperbincangkan adalah berdusta dalam masalah-masalah selainnya”. (Al-Kaba’ir; Imam Adz-Dzahabi)

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi lisan kita dari kedustaan atas nama Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam, serta semoga kita dilindungi dan dijauhkan dari syubhat para penyeru yang menyerukan hadits-hadits maudhuu’ atau palsu dan mendustakan hadits-hadits Shohih.

*** Wallahu A’lam ***

 

  

 

    

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Ketetapan Takdir Manusia dan Proses Penciptaannya

Nasib Manusia ditentukan Sewaktu dalam Rahim Ibunya:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ – وَاللَّفْظُ لَهُ – حَدَّثَنَا أَبِي، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، قَالُوا: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ ” إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُهَا ”
Abdullah bin Mas’ud berkata: bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk ke dalamnya (neraka). Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk ke dalamnya (surga)”

Takhrij Hadits: Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim, no. 2643; Bukhari, no. 3208, 3332, 6594, 7454; Abu Dawud, no. 4708; Tirmidzi, no. 2137; Ibnu Majah, no. 76, dan Imam Ahmad. Hadits ini Derajatnya “Shohih”

Mutiara Hadits:
– Proses penciptaan manusia di dalam perut ibunya
– Anjuran berdo’a dan berusaha agar tetap tegar atas agama yang lurus
– Dorongan berlindung dari kematian yang jelek
– ‘Amal adalah salah satu sebab yang bisa memasukkan orang ke surga atau neraka
– Orang yang mengetahui hakikat dirinya tentu akan banyak bersyukur kepada Allah
– Allah telah menentukan takdir setiap hamba-Nya
– ‘Amalan itu tergantung pada akhirnya
– Jangan sombong bila telah banyak ber’amal karena manusia tidak tahu kapan dia mati dan apa ‘amalan terakhirnya
– Selalulah perbaharui tobat agar bisa mati dalam keadaan ber’amal baik

*** Wallahu A’lam ***

, , , , ,

Tinggalkan komentar

Pembunuh 100 Orang yang Mendapat Rahmat

Lafazh Hadits:
حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار (واللفظ لابن المثنى). قال: حدثنا معاذ بن هشام. حدثني أبي عن قتادة، عن أبي الصديق، عن أبي سعيد الخدري؛
أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال “كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفسا. فسأل عن أعلم أهل الأرض فدل على راهب فأتاه فقال: إنه قتل تسعة وتسعين نفسا. فهل له من توبة؟ فقال: لا. فقتله. فكمل به مائة. ثم سأل عن أعلم أهل الأرض فدل على رجل عالم. فقال: إنه قتل مائة نفس. فهل له من توبة؟ فقال: نعم. ومن يحول بينه وبين التوبة؟ انطلق إلى أرض كذا وكذا. فإن بها أناسا يعبدون الله فاعبد الله معهم. ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء. فانطلق حتى إذا نصف الطريق أتاه الموت. فاختصمت فيه ملائكة الرحمة وملائكة العذاب. فقالت ملائكة الرحمة: جاء تائبا مقبلا بقلبه إلى الله. وقالت ملائكة العذاب: إنه لم يعمل خيرا قط. فأتاه ملك في صورة آدمي. فجعلوه بينهم. فقال: قيسوا ما بين الأرضين. فإلى أيتهما كان أدنى، فهو له. فقاسوه فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد. فقبضته ملائكة الرحمة”

Terjemahan Hadits:

Imam Muslim meriwayatkan, Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar (Lafaz ini milik ibnul Mutsanna), mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, telah menceritakan kepadaku bapakku, dari Qatadah, dari Abu Ash-Shiddiq, dari Abu Said Al-Khudri Rodhiallohu’anhu:
Bahwa Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:
“Di antara umat sebelum kamu sekalian (Kalangan Bani Isra’il) terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatangi pendeta tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah tobatnya akan diterima? Pendeta itu menjawab: “Tidak! Lalu dibunuhnyalah pendeta itu sehingga melengkapi seratus pembunuhan.

Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadnya bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah tobatnya akan diterima? Orang alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi tobat seseorang! Pergilah ke negeri Anu dan Anu karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Alloh lalu sembahlah Alloh bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan!

Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya. Berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab mengenainya. Malaikat rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertobat dan menghadap sepenuh hati kepada Alloh. Malaikat azab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun.

Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga diambillah ia oleh malaikat rahmat. (Shahih Muslim No. 2766, dalam versi lain no. 4967, dan versi lain no. 7184) ; HR. Bukhari, no. 3470; HR. Ahmad, no. 11170)

Beberapa Faedah yang bisa diambil:
• Hidayah bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja jika Alloh berkenan
• Membunuh jiwa seseorang tanpa alasan yang jelas adalah dosa besar dan hanya bisa dihilangkan dengan cara “Taubatan Nashuha”
• Kejenuhan dalam berbuat dosa adalah ciri-ciri orang yang beriman
• Keutamaan orang ‘alim dalam mendidik umat ke jalan yang lurus
• Sikap yang “Bijak” dan “Hikmah” adalah hal yang harus diutamakan dalam berdakwah
• Jangan suka memvonis seseorang akan masuk ke neraka, karena neraka hanya hak Alloh ‘Azza wa Jalla
• Lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk mempengaruhi seseorang dalam kebaikan atau keburukan
• Keharusan setiap orang beriman agar bergaul di lingkungan orang yang beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala
• Keharusan setiap orang beriman agar menjauhi lingkungan ahli maksiat dan ahli kejahatan
• Kepatuhan para Malaikat dalam menjalankan tugasnya dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala
• ‘Amalan seseorang di akhir hayatnya sangat menentukan masa depannya setelah kematian.
• Anjuran seseorang agar bertobat sungguh-sungguh sehebat apapun dosanya
• Nasehat untuk setiap mukmin agar memperbaharui tobatnya setiap hari karena kita tidak tahu kapan Malaikat maut datang menjemput

*** Wallahu A’lam ***

Tinggalkan komentar

Terperangkap Dalam Gua

Lafazh Hadits:
حدثني محمد بن إسحاق المسيبي. حدثني أنس (يعني ابن عياض، أبا ضمرة) عن موسى بن عقبة، عن نافع، عن عبدالله بن عمر،
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه قال “بينما ثلاثة نفر يتمشون أخذهم المطر. فأووا إلى غار في جبل. فانحطت على فم غارهم صخرة من الجبل. فانطبقت عليهم. فقال بعضهم لبعض: انظروا أعمال عملتموها صالحة لله، فادعوا الله تعالى بها، لعل الله يفرجها عنكم. فقال أحدهم: اللهم! إنه كان لي والدان شيخان كبيران. وامرأتي. ولي صبية صغار أرعى عليهم. فإذا أرحت عليهم، حلبت فبدأت بوالدي فسقيتهما قبل بني. وأنه نأى بي ذات يوم الشجر. فلم آت حتى أمسيت فوجدتهما قد ناما. فحلبت كما كنت أحلب. فجئت بالحلاب. فقمت عند رؤوسهما. أكره أن أوقظهما من نومهما. وأكره أن أسقي الصبية قبلهما. والصبية يتضاغون عند قدمي. فلم يزل ذلك دأبي ودأبهم حتى طلع الفجر. فإن كنت تعلم أني فعلت ذلك ابتغاء وجهك، فافرج لنا منه فرجة، نرى منه السماء. ففرج الله منه فرجة. فرأوا منها السماء.
وقال الآخر: اللهم! إنه كان لي ابنة عم أحببتها كأشد ما يحب الرجال من النساء. وطلبت إليها نفسها. فأبت حتى آتيها بمائة دينار. فتعبت حتى جمعت مائة دينار. فجئتها بها. فلما وقعت بين رجليها. قالت يا عبدالله! اتق الله. ولا تفتح الخاتم إلا بحقه. فقمت عنها. فإن كنت تعلم أني فعلت ذلك ابتغاء وجهك، فافرج لنا منها فرجة. ففرج لهم.
وقال الآخر: اللهم! إني كنت استأجرت أجيرا بفرق أرز. فلما قضى عمله قال: أعطني حقي. فعرضت عليه فرقه فرغب عنه. فلم أزل أزرعه حتى جمعت منه بقرا ورعائها. فجاءني فقال: اتق الله ولا تظلمني حقي. فقلت: اذهب إلى تلك البقر ورعائها. فخذها. فقال: اتق الله ولا تستهزئ بي فقلت: إني لا أستهزئ بك. خذ ذلك البقر ورعائها. فأخذه فذهب به. فإن كنت تعلم أني فعلت ذلك ابتغاء وجهك، فافرج لنا ما بقي. ففرج الله ما بقي.

Terjemahan Hadits:
Imam Muslim meriwayatkan ;Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq Al Musayyabi; telah menceritakan kepadaku Anas bin ‘Iyadh Abu Dhomrah, dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’, Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu, Dari Rasulullah Sholallohu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Alloh, lalu mohonlah kepada Alloh dengan amal tersebut agar Alloh berkenan menggeser batu besar itu.

Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Alloh, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Alloh menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit.

Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Alloh, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Alloh, takutlah kepada Alloh dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Alloh pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka.

Yang lainnya berdoa: Ya Alloh, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Alloh dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata: Takutlah kepada Alloh dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Alloh membukakan celahan yang tersisa itu hingga mereka dapat keluar dari dalam goa yang tertutup oleh batu besar itu”. (Hadits Shahih Muslim No. 2743, dalam versi lain, dan No.4926), dalam versi lain no. 7125; juga diiriwatkan oleh Imam Bukhari, no. 2333; 5974)

Beberapa Faedah yang bisa diambil:
– Anjuran berdo’a kepada Alloh melalui perantaraan ‘amal sholeh yang telah dilakukan dalam setiap keadaan
– Keutamaan berbakti kepada kedua orangtua
– Mendahulukan kepentingan orangtua dibandingkan anak dan istri
– Keharaman zina yang bisa mengundang murka Alloh, bahkan menjauhinya (termasuk pacaran dan berdua-duaan) adalah ‘amalan yang diridhoi Alloh
– Kekuatan Iman seorang lelaki yang mempunyai kesempatan penuh untuk berzina namun dia meninggalkannya karena takutnya kepada Alloh
– Keutamaan memberikan upah kepada pekerja sebelum habis keringatnya
– Himbauan agar tidak menzholimi seseorang walaupun dia adalah pekerja ataupun budak
– Andaikan salah satu saja dari tiga orang itu tidak memiliki ‘amal sholeh yang bisa mereka banggakan, maka mereka tetap tidak akan bisa keluar dari gua itu.
– Terkabulnya do’a orang yang memiliki ‘amal sholeh di saat genting

*** Wallohu A’lam ***

Tinggalkan komentar

Hadits Tentang Ramadhan (Rahmat, Maghfiroh, Itqum minannar) Adalah “DHOI’F”

Para Da’i dan Ustadz yang tampil ceramah di Ramadhan mengatakan bahwa 10 malam pertama Ramadhan adalah Rahmat, dan 10 malam pertengahan adalah Maghfiroh (ampunan) dan 10 malam terakhir adalah Itqum mina Nar (pembebasan dari api neraka). Benarkah hadits ini dari Rasulullah ? dan Shohihkah hadits ini ? Berikut pembahasannya:

Inilah lafazh teks asli Hadits yang sering kita dengar di bulan yang mulia ini:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم شهر فيه ليلة خير من ألف شهر جعل الله صيامه فريضة وقيام ليله تطوعا من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة وشهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن ومن فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء قالوا يا رسول الله ليس كلنا يحد ما يفطر الصائم قال يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن أو تمرة أو شربة من ماء ومن أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة وهو شهر أوله رحمة ووسطه مغفرة وآخره عتق من النار فاستكثروا فيه من أربع خصال خصلتان ترضون بهما ربكم وخصلتان لاغنى بكم عنهما أما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لاإله إلا الله وتستغفرونه وأما الخصلتان اللتان لاغنى بكم عنهما فتسألون الجنة وتعوذون من النار . ( منكر ) _

“‘Wahai sekalian manusia, telah menaungi kalian suatu bulan yang sangat agung. Bulan yang di dalamnya terdapat kebaikan melebihi kebaikan seribu bulan. Allah telah menjadikan puasanya fardhu, dan qiyam pada malamnya tathawu’. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan kebaikan, maka ia bagaikan orang yang menjalankan fardhu pada selain bulan tersebut. Sedangkan orang yang mengamalkan fardhu pada bulan itu bagaikan orang yang menjalankan tujuh puluh fardhu pada selain bulan itu. Inilah bulan kesabaran, dan sabar berpahalakan surga. Dan juga bulan santunan, bulan yang di dalamnya terdapat tambahan rezeki bagi seorang mukmin. Siapa saja yang memberi makan orang yang sedang berpuasa, maka baginya ampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari api neraka, dan baginya pula pahala bagi pahala orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikit pun.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak semua kami berkemampuan untuk memberi makan orang yang berpuasa.’ Beliau menjawab, ‘Allah memberikan pahala tersebut kepada siapa saja yang memberi makan berupa air susu yang dicampur dengan air, atau buah kurma, atau hanya air. Dan siapa saja yang mengenyangkan orang yang berpuasa, maka Allah akan meminumkannya air dari telaga sekali minum dan tidak akan pernah merasa haus selamanya hingga ia masuk ke daiam surga. Itulah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Karena itu hendak-nya kalian memperbanyak melakukan empat hal, dua hal sangat diridhai Allah, dan dua hal lainnya kalian tidak mungkin mengabaikannya. Dua hal yang sangat diridhai-Nya adalah mengucap syahadat (kesaksian) bahwa tiada tuhan selain Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. Sedangkan dua hal yang sangat kalian butuhkan adalah memohon kepada-Nya untuk mendapatkan surga dan berlindung kepada-Nya dari neraka.'”

Hadits ini panjang, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al-Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al-Asbahani dalam At-Targhib (q/178, b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman.

Hadits ini sanadnya Dhaif alias LEMAH, karena lemahnya Ali bin Zaid,

1. Ibnu Sa’ad berkata: “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya”

2. Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Tidak kuat”

3. Ibnu Ma’in berkata: “Dha’if”

4. Ibnu Abi Khaitsamah berkata: “Lemah di segala penjuru”

5. Ibnu Khuzaimah sendiri berkata: “Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya”

Demikian di dalam Tahdzibut Tahdzib [7/322-323].

6. Ibnu Hajar berkata dalam Al-Athraf, Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad’an, dan dia lemah, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam Jami’ul Jawami (no. 23714 -tertib urutannya).

7.Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (I/249), hadits yang MUNGKAR

Periksalah kitab : Silsilah Ahaadits Dloif wal Maudluah No. 871, At-Targhib Wat-Tarhieb jilid 2 halaman 94, Mizanul I’tidal jilid 3 halaman 127.

Dari segi matannya, hadits ini bertentangan dengan hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, yang artinya:
Dari Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala bin Kuraib, dari Abu Bakar bin Ayyasy, dari Al A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah Rodhiallhu’anhu, dia berkata, “Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda ‘Apabila tiba awal malam bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup, lalu (malaikat) penyeru menyerukan, “Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Allah juga mempunyai pembebas-pembebas dari neraka. Hal itu (terjadi) pada tiap malam.” (H.R Tirmidzi no. 682 dan Ibnu Majah no.1642)

Dengan demikian, hadits tentang pengelompokan Ramadhan menjadi tiga memiliki kelemahan sanad dan matan. Maka dari itu, hadits ini tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih lagi -segala puji hanya bagi Allah- umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Dengan sanad dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang jelek. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang menamainya : “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar”.

Wallohu A’lam

, , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Oktober 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031