Posts Tagged neraka

Berbuat Dusta Terhadap Allah atau Rasulullah

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman:

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِينَ

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam” (Az-Zumar: 60)

Menafsirkan ayat di atas, Al-Hasan berkata:

هم الذين يقولون إن شئنا فعلنا وإن شئنا لم نفعل

“Mereka adalah orang-orang yang mengatakan, ‘Jika kami mau kami pasti melakukan dan jika kami tidak mau kami pun tidak melakukannya’” (Al-Kaba’ir)

Ibnul Jauzi berkata,

وقد ذهب طائفة من العلماء إلى أن الكذب على الله وعلى رسوله كفر ينقل عن الملة ولا ريب أن الكذب على الله وعلى رسوله في تحليل حرام وتحريم حلال كفر محض وإنما الشأن في الكذب عليه فيما سوى ذلك

“Sekelompok ulama berpendapat bahwa berbuat dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya merupakan perbuatan kufur, mengeluarkan pelakunya dari Agama. Tidak disangsikan lagi bahwa berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam masalah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah benar-benar kufur. Namun yang masih diperbincangkan adalah berdusta dalam masalah-masalah selainnya” (Al-Kaba’ir)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ كِذْبَةً مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَضْجَعًا مِنْ النَّارِ أَوْ بَيْتًا فِي جَهَنَّمَ

 “Barangsiapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, hendaklah bersiap-siap menempati tempat berbaring dari api atau sebuah rumah di Jahannam” (HR. Ahmad)

Sabdanya lagi:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa secara sengaja berbuat dusta terhadapku hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (Lih. Shohihul Jami’ no. 6519)

Sabdanya lagi:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Barangsiapa meriwayatkan suatu hadits dariku namun dia berpendapat bahwa isinya adalah dusta, maka ia termasuk salah satu pendusta” (HR. Ibnu Majah no. 39)

Sabdanya:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berbuat dusta terhadapku itu tidak sama dengan berbuat dusta terhadap selain dariku. Barangsiapa secara sengaja berbuat dusta terhadapku hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (HR. Bukhari no. 1291)

Sabdanya:

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan sesuatu dariku padahal aku tidak mengatakannya hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka” (HR. Bukhari no. 109)

Semoga Allah member taufik dan perlindungan. Sesungguhnya Dia Maka Pemurah lagi Maha Mulia

Wallahu A’lam

Iklan

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Syirik

SYIRIK (Mempersekutukan Allah)

Kaba’ir terbesar adalah syirik, mempersekutukan Allah. Syirik ada dua; pertama menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah dan atau beribadah kepada selainNya, baik itu berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, guru, bintang, raja, atau pun yang lain. Inilah syirik besar yang tentangnya, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisa’: 48 dan 116)

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman:13)

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.”(Al-Maidah: 72)

Dan masih banyak lagi ayat yang berhubungan dengan masalah ini. Barangsiapa mempersekutukan Allah lalu mati dalam keadaan seperti itu sungguh ia termasuk penghuni neraka. Seperti halnya seseorang yang beriman kepada Allah lalu rnati dalam keadaan seperti itu maka is termasuk penghuni surga, walaupun mungkin diadzab di neraka terlebih dulu. Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

«أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟» ثَلاَثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ – وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ – أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ» ، قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ
“Maukah kalian aku beritaliukan apa kabair yang paling besar.” Beliau mengulang tiga kali. Para sahabat menjalvab, Tentu, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah bersabda, Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau bersandar lalu duduk dan melanjutkan,” Juga, kesaksian palsu, kesaksian palsu.” Begitu Rasulullah mengulang-ulang sampai-sampai kami mengatakan, “Andai beliau menghentikannya” (HR. Bukhari (2654, 5976, 6273), dan Muslim (87))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang memusnahkan” (HR. Bukhari (2766)). Beliau menyebutkannya dan diantaranya adalah syirik. Beliau juga bersabda:
مَنْ بَدَّلَ دَيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) bunuhlah ia.” (HR. Ahmad (2552) dan AI-Bukhari (3017.6922))
Kedua, menyertai amal dengan riya’. Allah berfirman, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.”(Al-Kahfi:110)

Maksud dari janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya’ hendaknya tidak menyertakan riya’ bersama amalnya. Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ان أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا وما الشرك الأصغر يا رسول الله قال الرياء يقول الله عز وجل لهم يوم القيامة إذا جزى الناس بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء
“Sesunggungnya yang aku takutkan untuk kalian adalah syirik kecil!” Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab, ‘Yaitu riya’. Pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan oleh manusia Allah berkata, Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah! Adakah pahala yang disediakannya?” (HR. Ahmad (23680); Ash-Shahihah (951))

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، فَمَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي، فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ
“Barangsiapa mengerjakan suatu amal, dalam hal itu ia mempersekutu seseorang denganku, maka amal yang dikerjakan itu untuk sekutu yang ia angkat. Dan aku berlepas diri darinya” (HR. Ibnu Majah (4202); Ahmad ; Muslim (2985))

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
من سمع سمع الله به ومن رأيا رأيا الله به
“Barangsiapa berlaku sum’ah Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barangsiapa berlaku riya ‘ Allah akan memperlihatkan keburukannya”.(HR. Ahmad; AI-Bukhari (6499.7152). Muslim (2987).

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع وكم من قائم ليس له من قيامه الا السهر
“Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak rnendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan betapa ban yak orang yang bangun shalat rnalam tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain berjaga.” (HR. Ahmad; Shahih Al-Jami'(3490))

Maksudnva jika puasa dan shalat dikerjakan bukan untuk Allah ‘Azza wa Jalla maka tidak ada pahalanya.
Allah berfirman, “Dan Kami hadapi segala amalyang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)

Maksudnya amal-amal yang dikerjakan untuk selain mengharapkan wajah Allah, Allah membatalkan pahalanya serta menjadikannya bagai debu yang berterbangan, yaitu debu yang dapat dilihat dari sebuah celah di mana cahaya matahari masuk melaluinya.

Para ahli hikmah ditanya tentang orang yang ikhlas, mereka menjawab, “Yaitu yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya seperti halnya menyimpan keburukan-keburukannya.”

Ada pula yang ditanya tentang puncak ikhlas, mereka menjawab, “Hendaknya kamu tidak menyukai pujian dari manusia.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedangkan
mengerjakannya karena mereka itu syirik. Ikhlas adalah apabila Allah menjagamu dari keduanya.”

Ya Allah, jagalah kami dari keduanya dan ampunilah kami.

***Wallahu A’lam ***

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Durhaka Pada Orang Tua

MENDURHAKAI ORANG TUA

Allah berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al-Isra’: 23)

Yang dimaksud dengan ‘berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya’ adalah berbakti, mengasihi dan lemah lembut kepada keduanya. Yang dimaksud dengan ‘membentak mereka’ adalah berbicara secara kasar di kala keduanya memasuki usia senja.

Seyogyanyalah kita berkhidmah kepada keduanya sebagaimana mereka telah mengurus kita. Apapun, mereka tetap lebih baik. Bagaimana mungkin bisa sama. keduanya telah menanggung derita karena kita demi mengharapkan kehidupan kita, sedangkan kita jika pun menanggung derita karena keduanya kita mengharapkan kematian-nya.

Mana mungkin bisa sama? Adapun yang dimaksud dengan ‘perkataan yang mulia’ adalah perkataan yang lembut lagi santun.

Allah berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagai-mana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’: 24)

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Luqman: 14)

Mari kita renungkan, betapa Allah telah menyertakan syukur kepada keduanya dengan syukur kepadaNya.

Ibnu Abbas berkata, “Ada tiga ayat yang diturunkan oleh Allah bersama tiga penyertanya. Allah tidak akan menerima salah satunya jika tidak disertakan ikutannya. Yaitu firman Allah ‘Taatilah,Allah dan taatilah Rasul” (An-Nur: 54, Muhammad: 33 dan At-Taghabun:12)

Barangsiapa mentaati Allah tanpa mentaati Rasul, ketaatannya tidak diterima. Lalu firman Allah ‘Dan dirikanlah shalat serta bayarlah zakat!’ (Al-Baqarah: 43, 83, 110, An-Nisa’: 77, Al-Hajj: 78, An-Nur: 56, Al-Mujadalah: 13 dan Al-Muzzammil: 20) Barangsiapa shalat namun tidak berzakat, shalatnya tidak diterima. Serta firman Allah ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu!’ Barangsiapa bersyukur kepada Allah tetapi tidak bersyukur kepada kedua orang tua, Allah tidak menerimanya. Karenanya Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Keridhaan Allah ada pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah ada pula pada kemurkaan keduanya”. (HR. At-Tirmidzi (3424), AI-Bukhari dalam Al -Adab Al-Mufrad (2), Ibnu Hibban (429), dll)

Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bercerita, “Seseorang datang memohon izin kepada Nabi ; untuk ikut berjihad bersamanva. Nabi bertanya, “Adakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Ya.”, jawab orang itu. Beliau pun bersabda, “Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.”(HR. Bukhari (3004), Muslim (2549), An-Nasa’I (6’10). dan Ahmad (2/165))

Demikianlah, betapa Allah telah mengutamakan birrul walidain dan berkhidmah kepada keduanya dibandingkan jihad (ketika hukumnya fardlu kifayah, pent)!

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ
“Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa-dosa besar yang paling besar ? Yaitu mempersekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.”(HR. Bukhari (2654.5976, 6273), dan Muslim (87)

Di sini Allah menyertakan tindakan buruk serta ketiadaan bakti dan kebajikan terhadap keduanva dengan perbuatan syirik.

Keduanya juga meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan masuk surga seorang pendurhaka (kepada orang tua), mannan (orang yang berbuat baik kepada seseorang namun menyebut-nyebutnya di hadapan banyak orang). dan pecandu arak.”(HR. Ahmad (1/201). Ad-Darimi (2094))

Beliau Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, Andaikata Allah mendapatkan suatu hal yang lebih remeh dari kata ‘ah’ (yang dapat menyakiti hati orang tua) pastilah Dia melarangnya. Silakan saja seorang pendurhaka (kepada orang tua) itu mengerjakan apa saja yang dikehendakinya, namun sekali-kali ia tidak akan masuk surga. Sebaliknva silakan pula seorang yang berbakti kepada (kedua orang tua) itu mengerjakan apa saja yang dikehendakinya, niscaya sekali-kali ia tidak akan masuk neraka.”( Asy-Syuyuthi berkata dalam Ad-Durr)

Juga, “Allah melaknat orang yang mencela/ mencaci ayahnya, Allah melaknat orang yang mencela/ mencaci ibunva.”(HR. Ahmad (1/309), Ath-Thabrani (11546), Ibnu Hibban (4417))

Juga, “Segala dosa itu siksanya akan diakhirkan oleh Allah –sekehendak-Nya- sampai hari kiamat kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua. Sungguh Allah akan menyegerakan siksanya bagi siapa yang telah melakukannya.” Yaitu siksa di dunia sebelum datangnya siksa akhirat yang pasti adanya”. (HR. Ath-Thayalisi (880). Ahmad (536). Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (29.67), dll)

Ka’ab al-Ahbar bertutur, “Sesungguhnya Allah menyegerakan kematian seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya untuk menyegerakan siksa baginya. Dan Allah memperpanjang umur seseorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya untuk menambahkan kebaikan baginya. Termasuk berbakti kepada keduanya adalah menafkahi keduanya jika keduanva membutuhkannya.”

Seseorang menghadap Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam dan mengadu, “Wahai Rasulullah, bapakku ingin mengambil seluruh hartaku!” Maka beliau Sholallahu’alaihi wa sallam pun bersabda, “Kamu dan seluruh hartamu itu milik ayahmu.”(HR. Ibnu Majah (2291). Ath-Thahawi dalam Musykil(2/230))

Ka’ab al-Ahbar pernah ditanya tentang maksud durhaka kepada kedua orang tua. Dia menjawab, “jika ayah atau ibunya bersumpah, ia tidak memenuhinya. Jika ia diperintah olehnya, ia tidak mentaatinva.
Jika keduanya meminta sesuatu darinya, ia tidak memberinya. Dan jika keduanya mempercayainya, ia mengkhianati keduanya.”(HR. Wahb dalam Jami’-nya (89), Abdur Razzaq (11/137))

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu ditanya tentang ashhaabul a’raaf (para penghuni A’raf); siapakah mereka, apakah A’raf itu. la menjawab, “A’raf adalah sebuah bukit yang terletak di antara surga dan neraka. Disebut A’raf (yang tinggi) karena ia menjulang di atas surga dan neraka. Di sana ada pepohonan, buah-buahan, sungai-sungai dan mata air. Orang-orang yang menjadi penghuninya adalah orang-orang yang berangkat berjihad tanpa keridhaan ayah ibu mereka, lalu mereka terbunuh di medan jihad itu. Kematiannya di jalan Allah menghalanginya dari masuk neraka, tetapi kedurhakaannya kepada kedua orang tua menghalanginya dari masuk surga. Nah, mereka berada di A’raf itu sampai nanti Allah memutuskan perkara mereka” (HR. Ibnu Manshur dari Abu Masyar dari Yahya bin Syibl dari Yahya bin Abdurrahman Al-Madani dari Ayahnya secara marfu’)

Dalam Shahihain (Shahih Bukhari-Muslim) tersebutkan bahwa seseorang menghadap Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?” “Ibumu.”, jawab Rasul. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.”, jawab beliau kembali. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.”, jawab Rasul. “Lalu siapa lagi”, tanya orang itu. Rasul pun menjawab, “Ayahmu, lalu kerabatmu yang terdekat, begitu seterusnya. “(HR. Muslim (2548), Ibnu Majah (3658), dan Ahmad (2/391)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam memerintahkan berbakti kepada ibu sebanyak tiga kali dan kepada ayah sekali saja. Semua ini karena perhatian dan kasih sayang seorang ibu jauh lebih besar dari pada seorang ayah. Itupun masih ditambah dengan penderitaan selama hamil, kontraksi, kelahiran, menyusui, dan berjaga sepanjang malam.

Suatu ketika Ibnu Umar Rodhiallahu’anhu menyaksikan seorang laki-laki tengah menggendong ibunya, membawanya berthawaf mengelilingi Ka’bah. Orang itu bertanya, Wahai Ibnu Umar, adakah menurut Anda aku ini sudah dapat membalas kebaikan ibu?” “Bahkan tidak mesti untuk satu derita kontraksi kala melahirkanmu. Tapi kamu sudah berbuat baik. Semoga Allah membalas sesuatu yang sedikit itu dengan pahala yang banyak. “. jawabnya. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (11) akan tetapi dengan lafal la wa la bizafratin wahidatin)

Abu Hurairah Rodhiallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
Beliau bersabda, “Surga itu terletak di hawah telapak kaki para ibu.”( Ash-Shahihah (1248,1249))
Seseorang menemui Abu Darda’ Rodhiallahu’anhu mengadu, “Wahai Abu Darda’, aku telah menikahi seorang wanita, tetapi ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Mendengar hal itu Abu Darda’ menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang tua itu pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mau kamu bisa menghilangkan pintu itu atau menjaganya”. (HR. AI-Humaidi (395), Ibnu Abi Syaibah (8/540), Ahmad)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga do’a yang pasti terkabul; do’a orang yang terzhalimi, do’a seorang musafir, dan do’a orang tua untuk anaknya.”‘(HR. Bukhari dalam AI-Adab AI-Mufrad (32, 481), Abu Dawud (1536), At-Tirmidzi (1905, 3448), dll)

“Khalah (saudara perempuan ibu) itu sejajar dengan ibu” (HR. Bukhari (1844))

Yaitu harus berbakti kepadanya, memuliakannya, menyambung hubungan dengannya, dan berbuat baik kepadanya.”

Wahb bin Munabbih berkisah, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Musa “Hai Musa, hormatilah ayah ibumu. Barangsiapa menghormati kedua orang tuanya niscaya Aku panjangkan umurnya dan Aku karuniakan seorang anak yang menghormatinya. Sebaliknya, barang-siapa durhaka kepada kedua orang tuanya niscava Aku pendekkan umurnya dan Aku berikan seorang anak yang durhaka kepadanya.”

Abu Bakar bin Abi Maryam berkata, “Aku pernah membaca di dalam Taurat, barangsiapa memukul avahnya hukumannva dibunuh.”

Wahb berkata, “Aku telah membaca di dalam Taurat, barangsiapa menampar orang tuanya hukumannya dirajam.”

Umar bin Murrah al-Juhanniy meriwayatkan, seseorang menghadap Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku telah mengerjakan shalat lima waktu, shiyam di bulan Ramadlan, membayar zakat, dan berhaji ke baitullah? Apa yang dijanjikan untukku?” Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa menunai kan semuanya itu niscaya ia akan bersama dengan para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin. kecuali jika ia durhaka kepada orang tua” (Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Juga, “Pada malam aku di-isra ‘ -kan aku melthat kaum-kaum yang digantung di atas pepohonan dari api. Maka aku bertanya. ‘Wahai Jibril, siapa gerangan mereka itu? Jibril menjawab, Mereka adalah orang-orang yang mencela bapak-bapak dan ibu-ibu merekn kala di dunia.’

Diriwayatkan bahwa orang yang mencela kedua orang tuanya di aiam kubur nanti akan dihujani bebatuan sejumlah tetes air yang turun dari langit ke bumi.

Diriwayatkan Pula, apabila seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dikuburkan, kuburannya itu akan menghimpitnya sampai tulang-belulangnya bercerai-berai.
Juga bahwa manusia yang paling berat adzabnya pada hari kiamat ada tiga; orang musyrik, pezina, dan orang yang durhaka kepada orang tua.

Bisyr berkata, “Tidak ada seorangpun yang mendekat kepada ibunya demi mendengar pembicaraannya kecuali lebih utama dan pada orang yang menyabetkan pedangnva di jalan Allah. Memandangnya lebih utama dari pada memandang apapun.”

Sepasang suami istri yang bercerai mengadukan masalah siapa yang berhak untuk membawa anak mereka kepada Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam. suami berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah anakku yang keluar dari tulang sumsumku.” Si istri berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah membawanya dalam keadaan ringan dan mengeluarkannya dengan kesenangan. Sedangkan aku, membawanya dalam keadaan berat dan mengeluarkannya dengan susah payah. Pun aku menyusuinya genap dua tahun.” Maka Rasulullah memutuskan bahwa anak kecil itu untuk dibawa ibunya”.(HR. Ahmad (2/182), Abu Dawud (2276), Ad-Daruquthni (3/305), dll)

Wahai orang yang menyia-nyiakan hak yang paling besar, yang menjauhkan diri dari berbakti kepada kedua orang tua, yang durhaka, yang melupakan salah satu kewajiban, yang lalai dari sesuatu yang ada di hadapan, sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua itu adalah hutang bagimu. Sayang sekali kamu membayarnya dengan, cara yang tidak baik, penuh noda aib. Kamu sendiri sibuk mencari surga, padahal isaada di bawah telapak kaki ibumu. Ibumu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan yang bagaikan sembilan kali berhaji. la yang di kala melahirkanmu menderita mempertaruhkan nyawa. la yang telah menyusuimu, menahan kantuk untukmu, memandikanmu dengan tangannya yang lembut, dan selalu mendahulukanmu untuk urusan makanan. la yang pangkuannya telah menjadi tempat yang nyaman bagimu. la yang telah mencurahkan sepenuh kasih sayangnya kepadamu, jika kamu sakit atau tampak menderita niscaya ia berduka, bersedih dan menangis tiada batasnya. la pasti mengeluarkan semua yang dimilikinya demi mencarikan dokter buatmu. la yang seandainya diminta untuk memilih kehidupanmu atau kematiannya, pastilah ia teriakkan kehidupanmu dengan suara yang paling lantang .

Betapa sering kamu mempergaulinya dengan akhlak yang tercela, namun ia tetap memohonkan taufiq bagimu dalam setiap doanya. Ketika kerentaan menghampirinya, dan ia membutuhkanmu, kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang paling tidak berharga. Ketika kamu kenyang oleh makanan dan minuman, ia dalam lapar dan dahaga. Kamu selalu mengedepankan keluarga dan anak-anakmu dari pada berbuat baik kepadanya. Kamu telah melupakan semua upayanya. Urusannya kamu anggap sangat berat, padahal sebaliknya ia sangatlah ringan. Umurnya kamu anggap teramat panjang, padahal sebenarnya pendek. Kamu mengisolir dan meng-asingkannya, padahal ia tidak mendapati penolong selain dirimu. Demikian ini, pun Penolongmu telah melarangmu dari mengucapkan kata yang menyakitkannya dan menegurmu dengan teguran yang halus, di dunia kamu akan mendapati sikap durhaka dari anak-anakmu, dan di akhirat akan mendapati keadaan jauh dari Rabb semesta alam. Dia menyerumu, mengingatkanmu:

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ
“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan karnu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya harnba-hamba-Nya”. (Al-Hajj: 10)

Kita memohon kepada Allah semoga membimbing kita untuk menggapai keridhaannya dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pengasih.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Membunuh Jiwa

MEMBUNUH JIWA

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahannam, is kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, dan mengutukinya Berta menyediakan azab yang besar baginya”. (An-Nisa’: 93)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Maka barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh”. (Al-Furqan: 68-70)

“Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (mem-bunuh) orang lain, atau bukan karena mernbuat kerusakan di muka burni, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya.” (Al-Maidah: 32)

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (At-Takwir:8-9)

Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan!” (HR. Bukhari (2766))

Lalu beliau menyebut salah satunya membunuh seorang manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkanNya. Seseorang bertanya kepada Nabi “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ta’ala?” Beliau menjawab, “Apabila kamu mengangkat tandingan bagi Allah, padahal Dia yang menciptakanmu.” Orang itu bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kamu bunuh anakmu karena khawatir akan makan bersamamu.” Orang itu bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kamu berbuat zina dengan istri tetanggamu.” Lalu Allah menurunkan pembenaran atas sabda Nabi tersebut;

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (Al-Furqan: 68)

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ» ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المَقْتُولِ قَالَ: «إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ»
” Apabila dua orang muslim bertemu dengan pedang terhunus, orang yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, tentang yang membunuh bisa dimengerti, bagaimana dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia sebenarnya sangat ingin untuk membunuh temannya. ” (HR. Bukhari (31); Muslim; Ahmad, dll)

Abu Sulaiman memberi penjelasan, “Hadits ini berlaku jika dua orang itu saling berbunuhan karena selain ta’wil. Artinya jika keduanya berbunuhan karena kebencian yang ada diantara keduanya, ‘ashabiyyah, mencari dunia, kekuasaan, atau derajat duniawi. Sedangkan orang yang memerangi ahlul-baghy (kaum pemberontak terhadap amirul mukminin) sesuai dengan adab yang berlaku dalam kasus itu, atau membela diri dan atau keluarganya, maka tidak termasuk ke dalam pengertian hadits ini. Sebab berperang dalam rangka membela diri dengan tanpa maksud membunuh itu diperintahkan, kecuali jika orang itu sangat ingin membunuh orang yang membela diri, maka ia mesti melawannya; membunuhnya. Barangsiapa membunuh pemberontak atau perampok sebenarnya ia tidak menginginkan untuk membunuhnya. Sebenarnya ia hanya membela diri. Oleh karena itu jika pemberontak menghentikan tindakannya, tidak boleh diteruskan dan tidak boleh pula dikejar. Hadits ini tidak membicarakan orang-orang itu. Adapun selain orang-orang itu, artinya orang yang masuk ke dalam konteks hadits di atas, wallahu a’lam. Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
“Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku nanti, yaitu kalian saling berbunuhan!” (HR. Muslim (66); Bukhari; Ahmad, dll)

Beliau juga bersabda:
لَنْ يَزَالَ المُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ، مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا
“Seorang hamba tetap berada di atas kelapangan diennya sesama belum menumpahkan darah haram (membunuh sesama muslim)”. (HR. Bukhari (6862); Ahmad)

Nabi juga bersabda:
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ
“Perkara yang pertama kali disidangkan di antara manusia pada hari kiamat nanti adalah perkara darah.” (HR. Bukhari (6864); Muslim; Ahmad, dll)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
” Luluh lantaknya dunia lebih rendah di sisi Allah dari pada pembunuhan atas seorang mukmin ” (HR. Tirmidzi (1395); An-Nasa’i)

الكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَاليَمِينُ الغَمُوسُ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، أَوْ قَالَ: وَقَتْلُ النَّفْسِ
Rasul Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Yang termasuk dosa besar itu adalah; menye-kutukan Allah, sumpah palsu, durhaka pada orangtua, beliau bersabda: membunuh orang.” (HR. Bukhari (6870); Tirmidzi; Nasa’i)

Beliau bersabda:
«لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ القَتْلَ»
“Tidak ada jiwa yang terbunuh secara zhalim kecuali anak Adam yang pertama ikut menanggungnya. Sebab dialah yang pertama kali mengajarkan pembunuhan.” (HR. Bukhari (3335); Muslim)

Beliau bersabda:
«مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
“Barangsiapa membunuh orang kafir yang mengikat perjanjian dengan negara Islam ia tidak akan mencium bau harum surga. Dan sungguh harum mewanginya sudah dapat dihirup dari jarak empat puluh tahun perjalanan.” (HR. Bukhari (3166); Ahmad; Ibnu Majah; An-Nasa’i)

Jika untuk membunuh orang yang terikat perjanjian saja sedemikian halnya, lalu bagaimana dengan membunuh seorang muslim?

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلاَ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهِدًا لَهُ ذِمَّةُ اللهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَقَدْ أَخْفَرَ بِذِمَّةِ اللهِ، فَلاَ يُرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ خَرِيفًا.
Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa barangsiapa membunuh jiwa yang terikat dengan dzimmah (perlindungan) dari Allah dan Rasul-Nya berarti ia telah membatalkan dzimmah Allah, dan tidak akan mencium wangi surga. Dan sungguh harum wangi surga itu telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Tirmidzi (1403), Ibnu Majah (2687), dan Al-Hakim (2/127))

Sahabat Mu’awiyah meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَغْفِرَهُ، إِلَّا مَنْ مَاتَ مُشْرِكًا، أَوْ مُؤْمِنٌ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا
“Setiap dosa itu bisa saja Allah mengampuninya kecuali seseorang yang mati dalam keadaan musyrik atau seseorang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. ” (HR. Abu Dawud (4270), Ibnu Hibban (5980), dan Al-Hakim (4/351))

Kepada Allah kita memohon ‘afiyah (kesejahteraan batin).

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Desember 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031