Kehebatan Ucapan “Insya Allah”

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini” (Q.S Al-Kahfi 23:24)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ بِمِائَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ وَنَسِيَ فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ

“Dari Abu Hurairah ia berkata; Sulaiman bin Dawud ‘Alaihimas Salam berkata, “Pada malam ini, aku benar-benar akan menggilir seratus orang isteri, sehingga setiap wanita akan melahirkan seroang anak yang berjihad di jalan Allah.

” Lalu Malaikat pun berkata padanya, “Katakanlah Insya Allah.” Namun ternyata ia tidak mengatakannya dan lupa. Kemudian ia pun menggilir pada malam itu, namun tak seorang pun dari mereka yang melahirkan, kecuali seorang wanita yang berbentuk setengah manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya ia mengatakan Insya Allah niscaya ia tidak akan membatalkan sumpahnya, dan juga hajatnya akan terkabulkan.” (Riwayat Bukhari no. 5242)

يَحْفِرُونَهُ كُلَّ يَوْمٍ، حَتَّى إِذَا كَادُوا يَخْرِقُونَهُ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوا فَسَتَخْرِقُونَهُ غَدًا، فَيُعِيدُهُ اللَّهُ كَأَشَدِّ مَا كَانَ، حَتَّى إِذَا بَلَغَ مُدَّتَهُمْ وَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ. قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوا فَسَتَخْرِقُونَهُ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسْتَثْنَى “، قَالَ: ” فَيَرْجِعُونَ فَيَجِدُونَهُ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ فَيَخْرِقُونَهُ، فَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ، فَيَسْتَقُونَ المِيَاهَ، وَيَفِرُّ النَّاسُ مِنْهُمْ، فَيَرْمُونَ بِسِهَامِهِمْ فِي السَّمَاءِ فَتَرْجِعُ مُخَضَّبَةً بِالدِّمَاءِ، فَيَقُولُونَ: قَهَرْنَا مَنْ فِي الأَرْضِ وَعَلَوْنَا مَنْ فِي السَّمَاءِ، قَسْوَةً وَعُلُوًّا، فَيَبْعَثُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ نَغَفًا فِي أَقْفَائِهِمْ فَيَهْلِكُونَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ دَوَابَّ الأَرْضِ تَسْمَنُ وَتَبْطَرُ وَتَشْكَرُ شَكَرًا مِنْ لُحُومِهِمْ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang dinding (yang dibangun Dzulqarnain) beliau bersabda:

“Setiap hari mereka (Ya`juj dan Ma`juj) menggalinya, sehingga ketika dinding itu hampir mereka menembusnya, pemimpinnya mengatakan: Sekarang pulanglah kalian, karena esok hari kalian pasti bisa menembusnya! tetapi Allah mengembalikannya seperti semula. dan keesokan harinya, ketika Allah hendak mengutus mereka kepada manusia, pemimpin mereka berkata: ‘Sekarang pulanglah kalian, karena esok hari kalian akan merobohkannya jika Allah menghendaki” ia mengucapkan insya Allah.”

Beliau bersabda: “Pulanglah mereka dan mendapatinya seperti keadaanya semula saat mereka tinggalkan lalu mereka merobohkannya dan menyerang orang-orang, lalu mereka meminum air dan berlarilah orang-orang menghindari mereka, mereka pun melepaskan anak panah ke langit dan seketika itu juga panah tersebut berlumuran darah.

Lantas mereka berkata: “Kita telah menaklukan penduduk bumi dan menguasai yang berada di langit secara paksa.” Lalu Allah mengirim ulat pada tengkuk mereka, demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangannya, sesungguhnya hewan-hewan bumi menjadi gemuk, gesit dan sangat berterima kasih karena daging-daging mereka.” (HR. Tirmidzi no. 3153)

Wallahu A’lam

, , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

  • Ramadhan Datang dan Pintu Neraka ditutup

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Ramadhan telah datang kepada kalian, -ia adalah- bulan berkah, Allah -Azza wa Jalla- telah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Di bulan itu pintu langit dibuka, dan pintu neraka Jahim ditutup dan syetan pembangkang dibelenggu. Demi Allah di bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” (Shahih lighoirihi; Sunanul Kubro An-Nasa’I no. 2427)

  • Pintu-pintu Kebaikan Terbuka Lebar

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

” Pada malam pertama bulan Ramadlan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan”. (HR. Tirmidzi no. 682)

  • Satu Hari saja Bepuasa Karena Allah bisa Menjauhkan dari Neraka Sejauh 70 Tahun; Bagaimana jika Sebulan Penuh ?

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa yang shoum (berpuasa) satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun” (HR. Bukhari no. 2840)

  • Amalan-amalan Penyebab Ampunan Allah

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR. Bukhari no. 38)

 مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR. Bukhari no. 37)

  • Rasulullah Menyatakan Kerugian Orang-orang yang Tak Mendapatkan Ampunan di Bulan Ramadhan

أن النبي صلى الله عليه وسلم رقى المنبر فلما رقى الدرجة الأولى قال آمين ثم رقى الثانية فقال آمين ثم رقى الثالثة فقال آمين فقالوا يا رسول الله سمعناك تقول آمين ثلاث مرات قال لما رقيت الدرجة الأولى جاءني جبريل صلى الله عليه وسلم فقال شقي عبد أدرك رمضان فانسلخ منه ولم يغفر له فقلت آمين ثم قال شقي عبد أدرك والديه أو أحدهما فلم يدخلاه الجنة فقلت آمين ثم قال شقي عبد ذكرت عنده ولم يصل عليك فقلت آمين

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah naik mimbar, maka tatkala menaiki tangga yang pertama beliau berkata, “Aamiin”. Kemudian ketika menaiki tangga yang kedua beliau berkata, “Aamiin”, lalu ketika menaiki tangga yang ketiga beliau berkata, “Aamiin”, maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Kami telah mendengar engkau berkata, ‘Aamiin’ tiga kali.” Nabi bersabda, “Tatkala Saya menaiki tangga yang pertama maka datanglah Jibril ‘alaihissallam lalu berkata, “Celakalah seorang hamba yang mendapatkan bulan Ramadhan lalu dia meninggalkannya sedangkan dia tidak memohon ampun’ lalu Saya berkata, ‘Aamiin.’ Kemudian (Jibril) berkata, ‘Celakalah seorang hamba yang mendapati orang tuanya atau salah satunya (dalam keadaan tua), tapi tidak dapat masuk ke dalam surga (karena tidak berbakti).’ Lalu Saya berkata, ‘Aamiin.’ Kemudian dia (Jibril) berkata, ‘Celakalah seorang hamba yang namamu disebut di sisinya tapi dia tidak membacakan shalawat kepadamu.’ Lalu saya berkata, ‘Aamiin.'” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod, hadits no. 644)

Semoga kita tidak termasuk orang yang celaka karena mendapati Ramadhan sedangkan dosa-dosa tidak diampuni.

Wallahu A’lam

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Plesetan Singkatan VALENTINE’S DAY

Untuk Saudaraku Se-Islam dan Se-Aqidah, ini hanyalah pesan dari seorang yg peduli akan keadaan saudaranya yg latah atas nama peringatan “HARI KASIH SAYANG”:

Tahukah anda apa Valentine’s day itu, yaitu:

V=Virus bahaya
A=Atas nama cinta
L=Luapan negara
E=Eropa Italia
N=Nan mendunia
T=Terasuki oleh pemuda
I=Islam sedunia
N=Nusantara juga kena
E=Eh, nyatanya
S=Setiap 14 F perayaannya

D=Diri ini bersuara
A=Agar kita tak merayakannya
Y=Yg hanya merusak Agama saja

Ingat Sabda Nabi kita Sholallohu’alayhi wa sallam yg mulia, yg bermakna bahwasanya:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya)

wallahu a’lam

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

CIRI-CIRI GOLONGAN YANG BENAR DAN SELAMAT

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ» ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «الْجَمَاعَةُ»

Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka, Ditanyakan kepada beliau, Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Al-Jamaah.(HR. Ibnu Majah no. 3992)

Al-Jama’ah adalah satu-satunya golongan yang selamat dari ancaman neraka, berikut ciri-ciri dari golongan tersebut:

Pertama, senantiasa setia berpegang teguh dengan manhaj (jalan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam hidupnya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

Sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat (apabila berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku” (Mustadrak ‘ala Shohihain no. 319)

Kedua, mereka akan selalu kembali kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya, tatkala terjadi perselisihan di antara mereka, sebagai realisasi dari firman Allah:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

… Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S An-Nisa: 59)

Ketiga, golongan yang selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas firman Allah dan sabda Rasul-Nya, sebagai realisasi dari firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S Al-Hujurat: 1)

Keempat, mereka senantiasa menjaga kemurnian tauhid, sebagai realisasi dari firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…” (Q.S An-Nahl: 36)

Kelima, ciri golongan yang selamat adalah mereka senang menghidup-hidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya. Tapi jumlah mereka sedikit.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma, Rasul Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “، فَقِيلَ: مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” نَاسٌصَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “

Beruntunglah orang-orang yang asing, beruntunglah orang-orang yang asing, beruntunglah orang-orang yang asing”. Dikatakan: “Siapa orang asing itu wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang sholeh di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang mentaati mereka” (HR. Ahmad dalam Musnad Ibnu Umar)

Keenam, golongan yang selamat tidak fanatik kecuali kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya yang makshum (dijaga dari dosa), yang berbicara tidak berdasarkan nafsu. Adapun selain daripada itu, perkataannya bisa ditolak dan diterima.

Imam Malik Rahimahullah berkata:

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“’Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shollallohu alaihi wa sallam” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/91)

Ketujuh, golongan yang selamat adalah mereka yang selalu menyeru kepada kebaikan dan mencegah daripada kemunkaran.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

 “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim no. 49)

Kedelapan, golongan yang selamat mengingkari peraturan dan perundangan yang dibuat manusia jika bertentangan dengan ajaran Islam.

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طاَعَةَ لِمَخْلُوقٍِ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

 “Tidak boleh mentaati makhluk, dengan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla” (HR. Ahmad dalam Musnad Ali bin Abi Thalib)

 Kesembilan, golongan yang selamat adalah mereka yang mentaati pemerintah yang sah, selama pemerintah tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam

Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Hendaknya kalian mendengar dan taat, meskipun yang menggunakan (berkuasa) atas kalian seorang hamba sahaya dari Habasyah” (HR. Bukhari no. 7142)

Ciri yang Kesepuluh adalah mereka banyak dimusuhi, difitnah, dilecehkan dan digelari dengan sebutan yang merendahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Q.S Al-Muthaffifin: 29-36)

Semoga kita termasuk dalam golongan ini

***Wallahu A’lam***

, , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Hadits Palsu Peristiwa Dzulhijjah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, disandarkan kepada Nabi Sholallohu’alayhi wa sallam yang bersabda:

اليوم الذى غفرالله فيه لادم عليه السلام اول يوم من ذى الحجة، من صام ذلك اليوم غفرالله كل ذنب

 واليوم الثنى استجاب الله دعاء يونس عليه السلام فاخرجه من بطن الحوت، من صام ذلك اليوم كان كمن عبدالله تعالى سنة لم يعص الله فى عبادته طرفة عين

واليوم الثالث الذي استجاب الله فيه دعاء زكريا عليه السلام من صام ذلك اليوم استجاب الله دعاءه

واليوم الرابع الذي ولد فيه عيسى عليه السلام من صام ذلك اليوم نفى الله عنه البوءس والفقر فكان يوم القيامة مع السفرة البردة الكرام

واليوم الخامس اليوم الذي فيه موسى عليه السلام من صام ذلك اليوم بريء من النفاق او من عذاب القبر

واليوم السادس الذي فتح الله تعالى لنبيه فيه، من صامه ينظر الله اليه بالرحمة فلا يعذب بعده ابدا

واليوم السابع اليوم الذي يغلق فيه ابواب جهنم ولا تفته حتى تمض ايام العشر،  من صامه اغلق الله عنه ثلاثين بابا من اليسر                

واليوم الثامن اليوم الذي يسمى يوم التروية، من صامه اعطى من الاجرمالا يعلمه الا الله تعالى

واليوم التاسع اليوم الذي هو يوم عرفة، من صامه كان كفارة لسنة ماضية وسنة مستقبلة وهو اليوم الذي انزل فيه اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

واليوم العاشر هويوم الاضحى، من قرب قربانا فيه فباول قطرة قطرت من دمه غفر الله له ذنوبه وذنوب عياله، ومن اطعم فيه مؤمنا اوتصدق فيه بصدقة، بعثه الله تعالى يوم القيامة امنا ويكون ميزانه اثقل من جبل احد

 مجالس

“Hari saat mana Allah mengampuni Nabi Adam ‘alayhissalam, adalah hari pertama bulan dzulhijjah. Barang siapa berpuasa pada hari itu maka Allah mengampuni dosanya.

Pada hari kedua, Allah telah mengabulkan doa nabi yunus ‘alayhissalam. Dan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka seperti orang yangberibadah kepada Allah ta’aala selama satu tahun serta tidak mendurhakai Allah dalam ibadahnya meskipun sekejap mata.

Pada hari ketiga, Allah telah mengabulkan doa Nabi Zakariya ‘alayhissalam. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah mengabulkan doanya.

Pada Hari keempat, Nabi Isa ‘alayhissalam Dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah meniadakan/menghilangkan kesusahannya dan kefakirannya, dan dia besok pada hari qiyamat bersama dengan orang-orang yang pergi yang baik-baik dan yang mulia.

Pada Hari kelima, Nabi Musa ‘alayhissalam Dilahirkan, Barangsiapa berpuasa pada hari itu, maka dia bebas dari siksa kubur.

Pada hari kekenam, Allah ta’aala membuka kebaikan untuk nabinya. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah memperhatikan kepadanya dengan kasih saying dan dia tidak disiksa sesudah itu.

Pada Hari ketujuh, semua pintu-pintu neraka jahannam ditutup dan tidak dibuka sehingga berlalu hari-hari yang sepuluh itu.

Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah akan menghindarkan dari padanya tiga puluh pintu kesukaran dan membukakan baginya tiga puluh pintu kemudahan.

Pada Hari ke delapan, dinamakn hari tarwiyah.

Barang siapa yang berpuasa pada hari itu, maka dia diberi pahala yang hanya diketahui oleh Allah ta’aala sendiri.

Pada hari hari kesembilan, dinamakan hari arafah.

Barang siapa berpuasa pada hari itu maka sebagai tebusan dosanya pada tahun yang telah lewat dan yang akan datang. Dan pada hari itu juga telah diturunkan ayat : “Pada hari ini telah kau sempurnkanbagimu akan agamamu dan aku sempurnakan pula nikmatku kepadamu”

Pada hari kesepuluh, Hari Raya iedul adhaa.

Barang siapa berkurban dengan satu qurban, maka mulai tetesan darah yang terjatuh ketanah, Allah mengampuni semua dosanya dan dosa-dosa keluarganya dan barangsiapa member makan orang mukmin atau bersedekah dengan satu pemberian, maka Allah ta’aala membangkitkan pada hari qiyamat dengan selamat dan timbangannya pun menjadi lebih berat daripada gunung uhud. (Majaalis)

Riwayat ini dinukil dari Kitab Durrotun Nashihin. Hadits di atas tidak diketahui sanad lengkapnya dan tidak ditemukan dalam Kitab-kitab para Imam Hadits, Fatwa Lajnah no. 20803 menyebutkan bahwa:

هذا الحديث لا نعلم له أصلاً

“Hadits ini tidak kami ketahui asal usulnya”

Dengan demikian, hadits ini tak dapat dijadikan sandaran dalam beribadah.

*** Wallahu A’lam ***

, , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Bukti Kecintaan Terhadap Sunnah Nabi

 

Cinta Sunnah Nabi ???, Mana Buktinya ???

 

  • Perkara Sholat Jama’ah

 

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

 

“Barang siapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka tiada sholat baginya kecuali adanya udzur” (HR. Ibnu Majah no. 793; Hakim no. 894; Ibnu Hibban no. 2064; Sunan Kubro al-Baihaqi)

 

Tapi kemana kita ketika adzan dikumandangkan ? Telahkah kita memenuhi panggilan adzan dengan menghadiri Sholat berjama’ah ataukah kita malah cuek saja terhadap panggilan itu ??

 

 Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata:

 

وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ، لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ

 

“Seandainya kalian shalat di rumah kalian seperti orang yang tidak hadir shalat jamaah itu melakukannya di rumahnya niscaya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan apabila kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian maka kalian akan tersesat…” (Muslim no. 654; Sunan Sughro Nasa’I no. 849)

 

Maka mana bukti cinta kita kepada Nabi ???

 

 

 

  • Perkara Jenggot

 

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

جُزُّو الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوْسَ

 

“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi.” (HR. Muslim no. 260)

 

Tapi kenyataannya, kebanyakan orang lebih suka melihara kumis daripada pelihara jenggot. Mana bukti kecintaan kita ????

 

 

 

  • Perkara Isbal

 

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

 

“…. Jangan engkau melakukan Isbal (Menurunkan pakaian ke bawah mata kaki), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang isbal” (HR. Ibnu Majah no. 3574)

 

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ المَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ

 

“Angkatlah kainmu sampai ke pertengahan betis, tetapi jikalau engkau enggan berbuat semacam itu, maka bolehlah sampai pada kedua mata kaki. Dan jangan mengulurkannya hingga ke tanah, sebab sesungguhnya yang sedemikian itu termasuk kesombongan dan sesungguhnya Allah itu tidak suka kepada kesombongan” (HR. Abu Dawud no. 4084)

 

Maka apakah kita mengamalkan sunnah Nabi yang dikhususkan pada kaum lelaki ini, betapa banyak hari ini kita lihat kaum Muslimin menghiraukan masalah ini padahal mereka mengaku mencintai Sunnah Nabi

 

 

 

  • Perkara Makan dan Minum

 

Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

 

“Jika salah seorang dari kalian makan maka hendaklah makan dengan tangan kanannya, dan jika minum hendaklah dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya syaithan makan dengan tangan kirinya dan minum juga dengan tangan kirinya” (HR. Muslim no. 2020; Abu Dawud bo. 3776)

 

Maka sunnah siapa yang kita ikuti ?? Sunnah Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam atau sunnah Syaithon ??

 

Wallahu A’lam

Image

, ,

Tinggalkan komentar

Biodata IBLIS

Inilah sebagian pengetahuan tentang musuh Allah dan musuh kita semua yang bernaman “IBLIS” agar setiap orang mewaspadainya dan mereka benar-benar aman:

Nama : Iblis
Negara : Hati orang-orang yang lupa
Kekeluargaan : Berhala-berhala
Tempat Tinggal : “JAHANNAM” dan ini adalah seburuk-buruk tempat tinggal
Derajat (Pangkat) : “FASIK” sebagai derajat pertama
Tempat Tinggal : Segala macam trempat yang “TIDAK” disebutkan nama Allah
Cara Berjalan : Bengkok-bengkok, tidak lurus
Mata Uang : Harapan-harapan
Musuh Perjalanan : Orang-orang Islam
Majlis : Pasar
Petunjuk : Fatamorgana
Syi’ar : Kemunafikan
Pakaian : Segala warna (Seperti bunglon)
Istri Dunia : Orang-orang yang telanjang
Yang Disukai : Orang-orang yang lupa menyebut nama Allah
Yang Membimbangkannya : Orang-orang yang ber”ISTIGHFAR”
Tulisan : Tato
Rumah : WC dan Kamar mandi
Sifat : Tidak tetap pendirian
Yang Memboncenginya : Orang-orang “MUNAFIK”
Sumber Rezeki : Harta Haram
Ruang Operasi : Tempat-tempat najis dan tempat maksiat
Pengabdiannya : Memerintahkan pada kemungkaran
Perintah-perintahnya : Pada perbuatan yang keji
Agama : “KUFUR”
Pekerjaan : “Ketua Umum” hal-hal yang dimurkai
Masa Kerja : Sampai hari “KIAMAT”
Arah bepergian : Jalan menuju ke neraka jahim
Laba : Debu yang tersebar
Rekan : Setan manusia dan setan jin
Jenis tunggangan : Kedustaan
Upah : Dilaknat dan tidak diberi pahala
Alat Komunikasi : Ghibah (Mengumpat) dan Namimah (Mengadu domba)
Makanan yang diutamakan : Daging mayat-mayat yang pengumpat
Perangkap : Para wanita
Yang Menakutkan : Setiap Orang “MUKMIN” yang “BERTAKWA”
Yang Dibenci : Laki-laki dan wanita yang banyak “BERDZIKIR” kepada Allah
Pertahanan : “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah”
Hobi : Kedurhakaan dan kesesatan
Harapan-harapannya : Semua manusia menjadi kufur
Balasannya : Dijanjikan kefakiran
Tangisannya : Karena banyaknya orang yang “SUJUD” kepada Allah
Mengingkari Janji : Pada setiap orang yang mengikutinya
Sebab-sebab Diusir : Sombong kepada Allah
Kata-kata yang Diagungkan : “Saya lebih baik daripadanya”
Perbuatan yang Paling Utama : “TALAK”
Suaranya : Dengkingan keledai dan suara anjing
Bentuknya : Anjing dan Kucing hitam

Wallahu A’lam
Sumber: Buku OBATI DIRIMU dari Sihir, Dengki, Hipnotis, dan Kerasukan Setan karya: Muhyiddin Abdul Hamid; Mitra Pustaka. Hal: 312-314

 Image

, , , , ,

Tinggalkan komentar

Kualitas Sholat Para Bujangan

رَكْعَتَانِ مِنَ الْمُتَزَوِّجِ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً مِنَ الأَعْزَبِ

Dua raka’at yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah lebih utama daripada 70 raka’at yang dilakukan oleh bujangan

Hadits ini diriwayatkan oleh al-‘uqaili dalam “Adhu’afa” (432) dari Majasyi’ bin Amru: Memberitahukan kepada kami Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Anas secara marfu

Hadits ini juga terdapat di dalam kitab Al-Fawa’id Al-Majmu’ah Li Asy-Syaukani karya Imam Asy-Syaukani, Kitab ‘Ilal Imam Suyuthi. Kitab Al-Maudhu’at Imam Ibnul Jauzi Rahimahumulloh dan beberapa kitab lainnya

قال الألباني في ” السلسلة الضعيفة و الموضوعة ” ( 2 / 98 ) :

Berkata Al-Albani dalam “Silsilah Adh-Dho’ifah wa al-Maudhu’ah” (98/2):

موضوع . رواه العقيلي في ” الضعفاء ” ( 432 ) عن مجاشع بن عمرو : حدثنا عبدالرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن أنس مرفوعا . و قال : ” مجاشع حديثه منكرغير محفوظ ، قال يحيى بن معين : و قد رأيته أحد الكذابين ” .

Maudhu’ (PALSU), diriwayatkan al-‘Uqaili dalam “Adhu’afa” (432) dari Majasyi’ bin Amru: Memberitahukan kepada kami Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Anas secara marfu’, dan dia berkata: “Majasyi’ haditsnya munkar, tidak terjaga, berkata Yahya bin Ma’in: “Sungguh aku memandangnya sebagai seorang pendusta

Ibnu Abi Hatim Berkata dalam Jarh wa Ta’dil no. 1785

مجاشع بن عمرو روى عن هشام بن عروة وعبيد الله بن عمر روى عنه بقية وعثمان بن عبد الرحمن الحراني نا عبد الرحمن قال سألت أبى عن مجاشع هذا فقال متروك الحديث ضعيف ليس بشيء

Majasyi’ bin ‘Amru meriwayatkan dari Hizyam bin Urwah dan Abdullah bin Amru. Meriwayatkan darinya Utsman bin Abdurrahman al-Haroni. Berkata Abdurrohman: Aku bertanya kepada ayahku (Imam Abi Hatim) tentang Majasyi’, maka ia berkata: Dia ditinggalkan haditsnya lemah dan tidak ada apa-apanya.

Dengan demikian, hadits ini sama sekali tidak layak jadi pegangan.

Wallahu A’lam.

 

 

 

, , , , ,

Tinggalkan komentar

Ketika Harus Berjidal Atau Meninggalkannya

Ketika Harus Berjidal

Al jidal bentuk masdar dari jadil dan al jadl, yang berarti menghadapi lawan untuk mengalahkannya. Di dalam al Qamus, al jadl berarti membingungkan lawan. Intinya jidal adalah menjatuhkan hujjah lawan lewat perdebatan.

Imam Nawawi Rahimahullah berkata:
اعلم أن الجدال قد يكون بحق وقد يكون بباطل
“Ketahuilah bahwa jidal (perdebatan) itu kadangkala benar dan kadang pula salah….” (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Imam Nawawi melanjutkan:
فإن كان الجدال للوقوف على الحق وتقريره كان محمودا وإن كان في مدافعة الحق أو كان جدالا بغير علم كان مذموما وعلى هذا التفصيل تنزل النصوص الواردة في إباحته وذمه والمجادلة والجدال بمعنى واحد
“Apabila perdebatan itu ditujukan untuk mencari atau menetapkan kebenaran, maka itu adalah terpuji, dan jika untuk menolak kebenaran atau berdepat TANPA LANDASAN ILMU, maka itu tercela. Atas dasar inilah turun nash yang memerintahkan kebolehan dan celaan terhadap perdebatan itu”. (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Berbantahan dan berdebat dalam urusan agama terbagi menjadi dua:

1. Apabila bertujuan untuk memenangkan al-haq dan meruntuhkan kebatilan maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang sunnah tergantung kondisinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S An-Nahl: 125)

Imam Ibnu Katsir berkata di dalam Tafsirnya:
أي من احتاج منهم إلى مناظرة وجدال فليكن بالوجه الحسن برفق ولين وحسن خطاب كقوله تعالى
Yakni terhadap orang-orang yang dalam rangka menyeru mereka (dalam kebaikan) diperlukan perdebatan dan bantahan. Maka hendaklah hal ini dilakukan dengan cara yang baik. Yaitu dengan lemah lembut, tutur kata yang baik serta cara yang bijak. Ayat ini sama pengertiannya dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا منهم
“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka ….” (Q.S Al-‘Ankabut: 46)

Intinya, Jidal harus syarat dengan ‘ilmu, hikmah dan akhlak yang baik tanpa mengedepankan emosi.

2. Apabila bertujuan untuk sekedar membebani diri sendiri atau membela diri dengan kebatilan maka hukumnya tercela dan terlarang.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلا الَّذِينَ كَفَرُوا
“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir…” (Q.S Al-Mu’min: 4)

وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ
“dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?” (Q.S Al-Mu’min: 5)

Imam Ghozali berkata:
اعلم أن الذم المتأكد إنما هو لمن خاصم بالباطل وبغير علم كوكيل القاضي فإنه يتوكل في الخصومة قبل أن يعرف الحق في أي جانب هو فيخاصم بغير علم
“Ketahuilah bahwa celaan yang keras itu sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersengketa dengan kebatilan tanpa dasar ilmu, seperti seorang pengacara, ia memulai persengketaan sebelum mengetahui kebenaran dan di pihak mana ia berada, maka di situlah ia bersengketa tanpa ‘ilmu”. (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Kesimpulannya, bila telah tegak hujjah dalil yang haq kepada kita, maka tidaklah layak kita untuk membantahnya. Dari Abu Umamah, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ما ضل قوم بعد هدى كانوا عليه إلا أوتوا الجدل ثم تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية { ما ضربوه لك إلا جدلا بل هم قوم خصمون }
“Suatu kaum tidak akan tersesat sesudah mendapat petunjuk kecuali apabila mereka melakukan perdebatan. Kemudian beliau membaca ayat “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (Q.S Az-Zukhruf: 58). (HR. Tirmidzi no. 3253; Ibnu Majah no. 48; Ahmad, al-Hakim)

Lalu berkaitan dengan orang-orang yang ngeyel ketika dalil telah disampaikan berkali-kali, namun mereka masih membantah dan mencari pembenaran. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya ….” (Q.S An-Nahl: 125)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:
أي قد علم الشقي منهم والسعيد وكتب ذلك عنده وفرغ منه فادعهم إلى الله ولا تذهب نفسك على من ضل منهم حسرات فإنه ليس عليك هداهم إنما أنت نذير عليك البلاغ وعلينا الحساب
“Sesungguhnya Allah telah mengetahui siapa yang celaka dan siapa yang berbahagia di antara mereka, dan hal tersebut telah dicatat di sisi-Nya serta telah dirampungkan kepastiannya. Maka serulah mereka untuk menyembah Allah, dan janganlah kamu merasa kecewa (bersedih hati) terhadap orang yang sesat di antara mereka. Karena sesungguhnya bukanlah tugasmu memberi mereka petunjuk. Sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan, dan kamilah yang akan menghisab”

Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi” (Q.S Al-Qoshos: 56)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.S Al-Baqoroh: 272)

Dan Hendaklah lebih utama meninggalkan perdebatan dengan mereka.
عن أبي أمامة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لم ترك المراء وإن كان محقا وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحا وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه

“Dari Abi Umamah, dia berkata: Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Aku dapat menjamin sebuah rumah di kebun surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar. Dan (menjamin sebuah rumah) di pertengahan surga bagi orang yang tidak berdusta meskipun bergurau. Dan (menjamin sebuah rumah) di bagian yang tinggi dari surga bagi orang yang baik budi pekertinya:” (HR. Abu Dawud no. 4800, Imam Baihaqi dalam Sunanul kubro no. 21176, Mu’jam Al-Ausath Imam Ath-Thabrani no. 4693, dalam Mu’jam al-Kabir no. 7488)

Image

Wallahu A’lam

, , , ,

Tinggalkan komentar

Berani Mencela Sahabat ??? Rasakan Akibatnya …..

Image

Teguran Ketika Berguru Kepada Orang yang Merendahkan Abu Bakar dan Umar

Amir Ismail bin Ahmad mengatakan:

جاءنا أبونا بمؤدب يعلمنا الرفض، فنمت، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم، ومعه أبو بكر، وعمر، فقال: لم تسب صاحبي  

“Bapak kami mendatangkan seorang guru yang mengajarkan aliran Rafidhah (Kaum yang menghina Abu Bakar, Umar dan sahabat lainnya, pen) kepada kami. Ketika tidur, aku bermimpi melihat Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersama Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya kepadaku: “Kenapa kamu mencaci maki dua sahabatku ?”

فوقفت، فقال لي بيده هكذا، ونفضها في وجهي، فانتبهت فزعاً أرتعد من الحمى. فمكثت على الفراش سبعة أشهر، وسقط شعري، فدخل أخي فقال: أيش قصتك فحدثته. فقال: اعتذر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم. فاعتذرت وتبت. فما مر لي إلا جمعة حتى نبت شعري

Aku hanya berdiri. Lalu beliau bersabda kepadaku sambil mengibaskan tangannya ke wajahku. Aku terbangun ketakutan. Aku menggigil karena terserang demam. Selama tujuh bulan aku tergolek di atas tempat tidur. Rambutku mengalami kerontokan. Saudaraku datang menjengukku dan meminta supaya aku bercerita. Mendengar pengalaman yang kuceritakan, ia berkata: “Minta maaflah kepada Rasulullah”. Kemudian, aku minta maaf dan bertobat. Sepekan kemudian rambutku tumbuh kembali”. (Tarikh al-Islam, Karya Imam Adz-Dzahabi, hal. 109)

Adzab Bagi Pencela Ali bin Abi Thalib

Qais bin Abu Hazim berkata:

كنت بالمدينة فبينا أنا أطوف في السوق إذ بلغت أحجار الزيت فرأيت قوما مجتمعين على فارس قد ركب دابة وهو يشتم علي بن أبي طالب والناس وقوف حواليه إذ أقبل سعد بن أبي وقاص فوقف عليهم فقال ما هذا فقالوا رجل يشتم علي بن أبي طالب

“Ketika aku di Madinah dan sedang berkeliling di pasar, aku melihat beberapa orang mengerumuni seorang berkebangsaan Persia di dekat tumpukan batu. Di atas punggung kudanya, orang itu mencaci maki Ali bin Abu Thalib. Sementara orang-orang hanya bisa berdiri di sekelilingnya. Tiba-tiba muncul Sa’ad bin Abu Waqqosh. Ia ikut bergabung dengan mereka. Ia bertanya, kenapa orang itu ?. Mereka menjawab: ‘Ia sedang mencaci maki Ali bin Abu Thalib’.

فتقدم سعد فأفرجوا له حتى وقف عليه فقال يا هذا على ما تشتم علي بن أبي طالب ألم يكن أول من أسلم ألم يكن أول من صلى مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ألم يكن أزهد الناس ألم يكن أعلم الناس

Sa’ad segera merangsak ke depan dan tiba di dekat orang itu. Dengan marah Sa’ad berkata: “Hai, kenapa kamu mencaci maki Ali bin Abu Thalib ? Bukankah dia orang pertama masuk Islam ? Bukankah ia orang pertama Sholat bersama Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam ? Bukankah ia orang yang paling zuhud ? Bukankah ia orang yang paling berilmu ?

وذكر حتى قال ألم يكن ختن رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابنته ألم يكن صاحب راية رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزواته

Sa’ad terus menyebutkan keutamaan-keutamaan Ali, sampai akhirnya ia berkata: “Bukankah ia menantu Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam ? Bukankah ia yang membawa bendera Islam dalam beberapa pertempuran yang diikuti oleh Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam ?

ثم استقبل القبلة ورفع يديه وقال اللهم إن هذا يشتم وليا من أوليائك فلا تفرق هذا الجمع حتى تريهم قدرتك

Lalu Sa’ad menghadap ke arah kiblat. Sambil mengangkat tangan ia berdo’a: “Ya Allah, orang ini telah berani mencaci-maki salah seorang kekasih-Mu. Tolong jangan bubarkan orang-orang ini sebelum Engkau tunjukkan kekuasaan-Mu kepada mereka”.

قال قيس فوالله ما تفرقنا حتى ساخت به دابته فرمته على هامته في تلك الأحجار فانفلق دماغه ومات

Qais berkata: “Demi Allah, sebelum kami bubar tiba-tiba kuda yang dinaiki oleh orang itu melemparkan tubuhnya mengenai tumpukan batu sehingga otaknya keluar dan ia mati seketika”. (Mustadrak ‘ala Shahihain, Imam Hakim hadits no. 6121; Shahih atas syarat Shahihain)

Bencana Kepada Pencela Abu Hurairah

قال القاضي أبا الطيب: كنا في مجلس النظر بجامع المنصور فجاء شاب خراساني فسأل عن مسألة المصراة فطالب بالدليل حتى استدل بحديث أبي هريرة الوارد فيها

Al-Qadhi Abu Thoyyib berkata: “Suatu ketika kami berada di sebuah majlis di Jami;’ Al-Manshur. Datanglah seorang pemuda dari Khurasan. Kemudian dia bertanya tentang masalah ternak yang tidak diperah beberapa hari hingga ambing susunya penuh, dan dia meminta dalilnya. Kemudian disampaikan kepadanya hadits Abu Hurairah yang menyebutkan hal tersebut.

فقال وكان حنفيا أبو هريرة غير مقبول الحديث  فما استتم كلامه حتى سقط عليه حية عظيمة من سقف الجامع فوثب الناس من أجلها وهرب الشاب منها وهي تتبعه  فقيل له تب تب فقال تبت فغابت الحية فلم ير لها أثر  إسنادها أئمة 

Pemuda itu (kebetulan seorang penganut madzhab Hanafi) lantas berkata: “Abu Hurairah tidak diterima haditsnya”. Belum selesai dia berucap demikian hingga muncullah seekor ular besar dari atap masjid. Orang-orang berhamburan karenanya. Pemuda tersebut lari namun ular tersebut terus mengejarnya. Orang-orang berkata padanya: “Bertobatlah!! Bertobatlah!!”. Dia lantas berkata: “Saya bertobat!”. Lalu ular tersebut hilang tanpa bekas, Dalam sanadnya adalah para Imam. (Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi)

***Wallahu A’lam***

 

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Agustus 2017
    S S R K J S M
    « Agu    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031