Hukum Ucapan Selamat Natal

Nabi kita yang Mulia Sholallahu’alaihi wa sallam melarang kita untuk mengucapkan salam kepada kaum Yahudi dan Nasrani berdasarkan sabdanya:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ

“Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani mengucapkan selamat” (HR. Muslim no. 2167)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya (QS. Al-Furqon: 72)

Tentang “Laa Yasyhaduuna Az-Zuur”, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata:

أبو العالية وطاوس وابن سيرين والضحاك والربيع بن أنس وغيرهم هو أعياد المشركين قال

Berkata Abul’ Aliyah, Thowus, Ibnu Sirin, Dhohak dan Ruba’I bin Anas dan selainnya ini maknanya adalah “Hari raya orang-orang musyrik” (Tafsir Ibnu Katsir)

Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah orang-orang kafir saat hari raya mereka” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi)

Dari Atho’ bin Yasar, Umar Radhiallahu’anhu berkata:

إياكم ورطانة الأعاجم، وأن تدخلوا على المشركين يوم عيدهم في كنائسهم

“Jauhilah oleh kalian hari-hari besar orang ‘ajam dan jangan kalian mendatangi hari besar kaum musyrik di gereja-gereja mereka.” (Riwayat Abdurrozaq; Iqtidho’ Shirothol Mustaqim)

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiallahu’anhuma berkata:

مَنْ بَنَى بِبِلاَدِ الْأَعَاجِمِ وَصَنَعَ نِيْرُوْزَهُمْ وَمَهْرَجَانِهِمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوْتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشْرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menetap di negeri kaum musyrik dan ia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru perilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih; Iqtidha’ Shiratohol Mustaqim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata:

فلا فرق بين مشاركتهم في العيد وبين مشاركتهم في سائر المناهج، فإن الموافقة في جميع العيد موافقة في الكفر، والموافقة في بعض فروعه موافقة في بعض شعب الكفر، بل إن الأعياد من أخص ما تتميز به الشرائع، ومن أظهر ما لها من الشعائر، فالموافقة فيها موافقة في أخص شرائع الكفر وأظهر شعائره، ولا ريب أن الموافقة في هذا قد تنتهي إلى الكفر في الجملة بشروطه

“Maka tidak ada bedanya antara bergabung dengan mereka dalam hari raya mereka dan antara bergabung dengan mereka dalam seluruh manhaj (jalan, system pemahaman), karena menyetujui seluruh hari raya itu adalah menyetujui kekafiran, dan menyetujui sebagian cabangnya itu adalah menyetujui sebagian cabang kekafiran. Bahkan hari-hari raya itu termasuk paling khas dari apa yang menandai syari’at, dan termasuk yang paling tampak di antara syiar-syiar, maka menyetujuinya adalah menyetujui syari’at kekafiran yang paling khusus dan syiar kekafiran yang paling nyata. Dan tidak diragukan lagi bahwa menyetujui hal ini sungguh telah sampai pada kekafiran dalam keseluruhan dengan syarat-syatanya” (Iqtidha’ Shiratohol Mustaqim)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahulloh berkata:

وَأَﻣﱠﺎ اﻟﺘﱠﻬْﻨِﺌَﺔ ﺑِﺸَﻌَﺎﺋِﺮ المختصة به فحرام بالاتفاق مثلْ أَن ﻳُﻬَﻨﱢﺌَﻬُﻢ ﺑِﺄَﻋْﻴَﺎدِﻫِﻢ وصومهم.

 “Adapaun tahni’ah (ucapan selamat) akan Syiar-syiar mereka yang khusus dengannya (yakni: dengan agamanya), maka haram dengan kesepakatan (antar ulama), seperti mengucapkan selamat atas ied-ied mereka dan puasa-puasa mereka.” (Ahkaam Ahl Dzimmah, 1/441)

Syubhat dan Bantahan

Sebagian orang berpendapat bolehnya mengucapkan selamat natal dengan dalil:

Syubhat Pertama:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S: Al-Mumtahanah ayat 8)

 Bantahan:

Berbuat baik kepada kaum kafir tidak harus menyetujui perayaan kekufuran mereka, karena ini termasuk tolong-menolong dalam hal kekafiran, bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

  وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

 “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (Q.S: Al-Ma`idah ayat 2)

 Ucapan selamat dan Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.

 Syubhat Kedua:

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (QS. An-Nisaa’ ayat 86)

 Bantahan:

Tentang ayat ini, Imam ahli tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata:

فأما أهل الذمة فلا يبدؤن بالسلام ولا يزادون بل يرد عليهم بما ثبت في الصحيحين عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا سلم عليكم اليهود فإنما يقول أحدهم السام عليكم فقل وعليك

Terhadap ahli zimmah (Kafir zimmi), mereka tidak boleh dimulai dengan salam; dan jawaban terhadap mereka tidak boleh dilebihkan, melainkan hanya dibalas dengan singkat, seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain melalui Ibnu Imar, bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka sebenarnya yang diucapkan mereka adalah Kebinasaan semoga menimpamu, maka katakanlah “Dan semoga kamu juga mendapat yang serupa” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Syubhat Ketiga:

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam ayat 15)

 Bantahan:

Maksud dari ayat ini ditujukan kepada Nabi Yahya ‘Alaihissalam, bukan Yesus (Tuhannya orang Nasrani).

 Sufyan bin Uyainah mengatakan:

أوحش ما يكون امرء في ثلاثة مواطن يوم يولد فيرى نفسه خارجا مما كان فيه ويوم يموت فيرى قوما لم يكن عاينهم ويوم يبعث فيرى نفسه في محشر عظيم قال فأكرم الله فيها يحيى بن زكريا فخصه بالسلام عليه فقال « وسلام عليه يوم ولد ويوم يموت ويوم يبعث حيا »

“Bahwa hal yang paling mengerikan bagi seseorang ialah di tiga keadaan, yaitu: Saat dia dilahirkan karena dia melihat dirinya keluar dari tempat pertamanya. Saat dia mat, maka ia melihat kaum yang belum pernah disaksikannya. Dan saat dia dibangkitkan hidup kembali, maka ia melihat dirinya berada di padang mahsyar yang luas. Allah memuliakan Yahya bin Zakaria ‘Alayhimassalam dengan memberinya kesejahteraan dalam tiga hal itu, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya ……….(Ayat di atas)” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Syubhat Keempat:

Mereka berdalil dengan hadits “Sayangilah orang yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu”.

 Bantahan:

Menyayangi kaum kafir adalah dengan mendakwahi mereka agar meninggalkan kekufuran mereka, bukan dengan mengatakan selamat atas kekufuran mereka. Bukankah ‘Isa ‘Alayhissalam yang mereka sembah juga mengingkari perbuatan mereka:

 وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ

 “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib” (QS. Al-Maidah ayat 116)

 

Syubhat Kelima:

Mereka juga berdalil dengan hadits “Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka aku akan menjadi lawannya di hari kiamat”

 Bantahan:

Tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita menyakiti kafir dzimmi, makna menyakiti dalam hadits di atas bisa berarti menzholimi atau memukul, sebagaimana di dalam Shohih Muslim Nabi menegur sahabat Anshor yang menampar seorang Yahudi, dan termasuk larangan adalah membunuh kafir dzimmi, ini jelas dilarang sebagaimana hadits Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam:

أَلَا مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهِدًا لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَقَدْ أَخْفَرَ بِذِمَّةِ اللَّهِ، فَلَا يُرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Ketahuilah bahwa barangsiapa membunuh jiwa yang terikat dengan dzimmah (perlindungan) dari Allah dan Rasul-Nya berarti ia telah membatalkan dzimmah Allah, dan tidak akan mencium wangi surga. Dan sungguh harum wangi surga itu telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Tirmidzi no. 1403)

 

Dengan demikian ucapan selamat natal tidak selayaknya diucapkan oleh seorang Muslim dan Muslimah

 

Wallahu A’lam

 

 

 

, , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Desember 2013
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
%d blogger menyukai ini: