Ketika Harus Berjidal Atau Meninggalkannya

Ketika Harus Berjidal

Al jidal bentuk masdar dari jadil dan al jadl, yang berarti menghadapi lawan untuk mengalahkannya. Di dalam al Qamus, al jadl berarti membingungkan lawan. Intinya jidal adalah menjatuhkan hujjah lawan lewat perdebatan.

Imam Nawawi Rahimahullah berkata:
اعلم أن الجدال قد يكون بحق وقد يكون بباطل
“Ketahuilah bahwa jidal (perdebatan) itu kadangkala benar dan kadang pula salah….” (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Imam Nawawi melanjutkan:
فإن كان الجدال للوقوف على الحق وتقريره كان محمودا وإن كان في مدافعة الحق أو كان جدالا بغير علم كان مذموما وعلى هذا التفصيل تنزل النصوص الواردة في إباحته وذمه والمجادلة والجدال بمعنى واحد
“Apabila perdebatan itu ditujukan untuk mencari atau menetapkan kebenaran, maka itu adalah terpuji, dan jika untuk menolak kebenaran atau berdepat TANPA LANDASAN ILMU, maka itu tercela. Atas dasar inilah turun nash yang memerintahkan kebolehan dan celaan terhadap perdebatan itu”. (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Berbantahan dan berdebat dalam urusan agama terbagi menjadi dua:

1. Apabila bertujuan untuk memenangkan al-haq dan meruntuhkan kebatilan maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang sunnah tergantung kondisinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S An-Nahl: 125)

Imam Ibnu Katsir berkata di dalam Tafsirnya:
أي من احتاج منهم إلى مناظرة وجدال فليكن بالوجه الحسن برفق ولين وحسن خطاب كقوله تعالى
Yakni terhadap orang-orang yang dalam rangka menyeru mereka (dalam kebaikan) diperlukan perdebatan dan bantahan. Maka hendaklah hal ini dilakukan dengan cara yang baik. Yaitu dengan lemah lembut, tutur kata yang baik serta cara yang bijak. Ayat ini sama pengertiannya dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا منهم
“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka ….” (Q.S Al-‘Ankabut: 46)

Intinya, Jidal harus syarat dengan ‘ilmu, hikmah dan akhlak yang baik tanpa mengedepankan emosi.

2. Apabila bertujuan untuk sekedar membebani diri sendiri atau membela diri dengan kebatilan maka hukumnya tercela dan terlarang.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلا الَّذِينَ كَفَرُوا
“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir…” (Q.S Al-Mu’min: 4)

وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ
“dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?” (Q.S Al-Mu’min: 5)

Imam Ghozali berkata:
اعلم أن الذم المتأكد إنما هو لمن خاصم بالباطل وبغير علم كوكيل القاضي فإنه يتوكل في الخصومة قبل أن يعرف الحق في أي جانب هو فيخاصم بغير علم
“Ketahuilah bahwa celaan yang keras itu sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersengketa dengan kebatilan tanpa dasar ilmu, seperti seorang pengacara, ia memulai persengketaan sebelum mengetahui kebenaran dan di pihak mana ia berada, maka di situlah ia bersengketa tanpa ‘ilmu”. (Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi)

Kesimpulannya, bila telah tegak hujjah dalil yang haq kepada kita, maka tidaklah layak kita untuk membantahnya. Dari Abu Umamah, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ما ضل قوم بعد هدى كانوا عليه إلا أوتوا الجدل ثم تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية { ما ضربوه لك إلا جدلا بل هم قوم خصمون }
“Suatu kaum tidak akan tersesat sesudah mendapat petunjuk kecuali apabila mereka melakukan perdebatan. Kemudian beliau membaca ayat “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (Q.S Az-Zukhruf: 58). (HR. Tirmidzi no. 3253; Ibnu Majah no. 48; Ahmad, al-Hakim)

Lalu berkaitan dengan orang-orang yang ngeyel ketika dalil telah disampaikan berkali-kali, namun mereka masih membantah dan mencari pembenaran. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya ….” (Q.S An-Nahl: 125)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:
أي قد علم الشقي منهم والسعيد وكتب ذلك عنده وفرغ منه فادعهم إلى الله ولا تذهب نفسك على من ضل منهم حسرات فإنه ليس عليك هداهم إنما أنت نذير عليك البلاغ وعلينا الحساب
“Sesungguhnya Allah telah mengetahui siapa yang celaka dan siapa yang berbahagia di antara mereka, dan hal tersebut telah dicatat di sisi-Nya serta telah dirampungkan kepastiannya. Maka serulah mereka untuk menyembah Allah, dan janganlah kamu merasa kecewa (bersedih hati) terhadap orang yang sesat di antara mereka. Karena sesungguhnya bukanlah tugasmu memberi mereka petunjuk. Sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan, dan kamilah yang akan menghisab”

Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi” (Q.S Al-Qoshos: 56)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.S Al-Baqoroh: 272)

Dan Hendaklah lebih utama meninggalkan perdebatan dengan mereka.
عن أبي أمامة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لم ترك المراء وإن كان محقا وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحا وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه

“Dari Abi Umamah, dia berkata: Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Aku dapat menjamin sebuah rumah di kebun surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar. Dan (menjamin sebuah rumah) di pertengahan surga bagi orang yang tidak berdusta meskipun bergurau. Dan (menjamin sebuah rumah) di bagian yang tinggi dari surga bagi orang yang baik budi pekertinya:” (HR. Abu Dawud no. 4800, Imam Baihaqi dalam Sunanul kubro no. 21176, Mu’jam Al-Ausath Imam Ath-Thabrani no. 4693, dalam Mu’jam al-Kabir no. 7488)

Image

Wallahu A’lam

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Juli 2012
    S S R K J S M
    « Jun   Agu »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
%d blogger menyukai ini: