Pemahaman Sahabat Tentang Siksa Kubur

Sambungan dari Artikel Sebelumnya …

Hadits ke-51
حدثنا محمد بن إسحاق حدثني يحيى بن معين ثنا هشام بن يوسف عن عبد الله بن بحير عن هانئ مولى عثمان قال كان عثمان بن عفان إذا وقف على قبر يبكي حتى يبل لحيته فقيل له تذكر الجنة والنار ولا تبكي وتبكي من هذا قال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد منه قال وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما رأيت منظر قط إلا والقبر أفظع منه
Dari Hani’ —mantan budak Utsman— mengatakan: Bahwa Utsman jika berdiri di atas kuburan dia menangis hingga jenggotnya basah. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Ketika surga dan neraka diingatkan kepadamu kamu tidak menangis. Akan tetapi kenapa dirimu menangis karena (kuburan) ini?” Dia (Utsman) mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya kuburan itu adalah tempat pertama dari tempat­tempat di akhirat nanti. Jika seseorang selamat darinya, maka tempat setelaknya akan lebih mudah baginya. Jika dia tidak selamat darinya, maka tempat setelaknya akan lebih mengerikan darinya”. Utsman melanjutkan, Rasulullah juga pernah bersabda, “Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan selain kuburan”. (HR. Ibnu Majah, no. 4267)

Hadits ke-52
حدثنا أبو بكر بن سليمان الفقيه ثنا أبو داود سليمان بن الأشعث ثنا أبو الوليد الطيالسي ثنا حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة في قوله عز وجل معيشة ضنكا قال عذاب القبر (١٤٠٥). أخبرنا أبو زكريا العنبري حدثنا محمد بن عبد السلام حدثنا إسحاق أنبأ النضر بن شميل حدثنا حماد بن سلمة عن أبي حازم المدني عن النعمان بن أبي عياش عن أبي سعيد الخدري رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم معيشة ضنكا قال عذاب القبر هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه (٣٤٣٩).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu: “Firman Allah “Penghidupan yang sempit” (Q.S Thoha: 124) adalah siksa kubur” (HR. Hakim, no. 1405); Tafsiran serupa juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry dalam (HR. Hakim, no. 3439. Shohih menurut syarat Imam Muslim)

Hadits ke-53
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى مُلَيْكَةَ قَالَ تُوُفِّيَتِ ابْنَةٌ لِعُثْمَانَ – رضى الله عنه – بِمَكَّةَ وَجِئْنَا لِنَشْهَدَهَا ، وَحَضَرَهَا ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – وَإِنِّى لَجَالِسٌ بَيْنَهُمَا – أَوْ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى أَحَدِهِمَا . ثُمَّ جَاءَ الآخَرُ ، فَجَلَسَ إِلَى جَنْبِى فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمَرَ – رضى الله عنهما – لِعَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ أَلاَ تَنْهَى عَنِ الْبُكَاءِ ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ (١٢٨٦). فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَدْ كَانَ عُمَرُ – رضى الله عنه – يَقُولُ بَعْضَ ذَلِكَ ، ثُمَّ حَدَّثَ قَالَ صَدَرْتُ مَعَ عُمَرَ – رضى الله عنه – مِنْ مَكَّةَ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ ، إِذَا هُوَ بِرَكْبٍ تَحْتَ ظِلِّ سَمُرَةٍ فَقَالَ اذْهَبْ ، فَانْظُرْ مَنْ هَؤُلاَءِ الرَّكْبُ قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا صُهَيْبٌ ، فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ادْعُهُ لِى . فَرَجَعْتُ إِلَى صُهَيْبٍ فَقُلْتُ ارْتَحِلْ فَالْحَقْ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ . فَلَمَّا أُصِيبَ عُمَرُ دَخَلَ صُهَيْبٌ يَبْكِى يَقُولُ وَاأَخَاهُ ، وَاصَاحِبَاهُ . فَقَالَ عُمَرُ – رضى الله عنه – يَا صُهَيْبُ أَتَبْكِى عَلَىَّ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ (١٢٨٧). قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما فَلَمَّا مَاتَ عُمَرُ – رضى الله عنه – ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ – رضى الله عنها – فَقَالَتْ رَحِمَ اللَّهُ عُمَرَ ، وَاللَّهِ مَا حَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ اللَّهَ لَيُعَذِّبُ الْمُؤْمِنَ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ . وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَيَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ . وَقَالَتْ حَسْبُكُمُ الْقُرْآنُ ( وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ) . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – عِنْدَ ذَلِكَ وَاللَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى . قَالَ ابْنُ أَبِى مُلَيْكَةَ وَاللَّهِ مَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – شَيْئًا (١٢٨٨).
Abdullah bin Ubaid bin Abi Mulaikah berkata, “Ketika putri Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu meninggal di Makkah, kami datang untuk menyaksikannya. Ketika itu turut menghadiri juga Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas, dan aku duduk di antara keduanya. Atau Abdullah berkata, “Aku duduk berdekatan dengan salah seorang di antara keduanya.” Kemudian datang lagi seseorang, dimana dia duduk di sampingku. Ketika itu Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu berkata kepada Amr bin Utsman, ‘Bukankah engkau dilarang menangis, karena Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam telah bersabda, “Seorang mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya.'(HR. Bukhari, no. 1286). ” Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata ‘ Umar Radhiallahu’anhu telah menjelaskan sebagian haditsnya, seraya berkata, ‘Pada suatu saat aku bepergian bersama Umar Radhiallahu’anhu dari Makkah. Setelah kami berada di daerah Baida’ , kami melihat rombongan berkendaraan binatang sedang berteduh di bawah pohon Samurah. Kemudian Umar Radhiallahu’anhu berkata, “Pergi dan lihatlah, siapakah rombongan yang berkendaraan itu?”‘ Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata, ‘Aku pun melihatnya, dan ternyata itu rombongan rombongan Shuhaib. Selanjutnya aku memberi tahukan hal tersebut kepada Umar, lalu dia berkata, “Suruhlah mereka menemuiku.” Kemudian aku kembali lagi ke Shuhaib, seraya berkata, ‘Berangkat lah, dan temui amirul mukminin.’ Ketika Umar Radhiallahu’anhu mendapat musibah, Shuhaib datang dan menangisinya, seraya berkata, “Duh saudaraku! Duh sahabatku!” Kemudian Umar Radhiallahu’anhu berkata, “Wahai Shuhaib, apakah kamu menangisi (kematian)­ku padahal Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Seorang mayit akan disiksa karena tangisan sebagian keluarganya (dalam riwayat lain: karena tangisan orang hidup) (HR. Bukhari, no. 1287), (dalam riwayat lain: (disiksa) di dalam kuburnya, karena ratapan kepadanya?’)”‘ Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata, ‘Ketika Umar Radhiallahu’anhu wafat, aku menceritakan hadits tersebut kepada Aisyah Radhiallahu’anha, maka beliau berkata, “Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Umar. Demi Allah, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam tidak bersabda, “Allah akan menyiksa mayit orang mukmin karena tangisan keluarganya, melainkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah akan menambah siksaan mayit orang kafir karena tangisan keluarganya. ” Selanjutnya beliau berkata, “Cukup bagimu Al­Qur”an, “Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al An’ am (6): 164). Ketika itu Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata, ‘Dan Allah (Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. “‘) (Qs. An­Najm (53): 43) Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Demi Allah, ketika itu Ibnu Umar Radhiallahu’anhu tidak berkata (memberikan tanggapan) sedikitpun.” (HR. Bukhari, no. 1288)

Hadits ke-54
وحدثنا قتيبة بن سعيد عن مالك بن أنس، فيما قرئ عليه، عن عبدالله بن أبي بكر، عن أبيه، عن عمرة بنت عبدالرحمن ؛ أنها أخبرته ؛ أنها سمعت عائشة، وذكر لها أن عبدالله بن عمر يقول:
إن الميت ليعذب ببكاء الحي. فقالت عائشة: يغفر الله لأبي عبدالرحمن. أما أنه لم يكذب. ولكنه نسى أو أخطأ. إنما مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على يهودية يبكى عليها. فقال “إنهم ليبكون عليها. وإنها لتعذب في قبرها”.
Dari Amrah binti Abdurrahman Radhiallahu’anha, bahwasanya ia mendengar Aisyah -dan disampaikan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berkata,”Bahwasanya mayat akan disiksa sebab tangisan orang hidup- lalu Aisyah berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman, karena ia tidak berdusta, hanya saja ia lupa dan tidak sengaja melakukan kesalahan, sebenarnya Rasulullah pernah melewati mayit seorang wanita Yahudi yang sedang ditangisi, lalu beliau berkata, ‘Mereka itu menangisi mayitnya sesungguhnya mayat itu akan disiksa di kuburnya” (HR. Muslim, No. 932; HR. Malik dalam Muwatha’, Kitab Al-Jana’iz)

Hadits ke-55
حَدَّثَنِى عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَفَعَ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ فِى قَبْرِهِ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ » . فَقَالَتْ إِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّهُ لَيُعَذَّبُ بِخَطِيئَتِهِ وَذَنْبِهِ ، وَإِنَّ أَهْلَهُ لَيَبْكُونَ عَلَيْهِ الآنَ »
Dari Urwah ia berkata, ‘Telah disampaikan kepada Aisyah Radhiallahu’anha; Bahwa Ibnu Umar menyebutkan hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam, ‘Bahwa mayat akan disiksa di dalam kuburnya karena tangisan keluarganya’. Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Bahwa seorang yang telah meninggal dunia pasti disiksa karena kesalahan dan dosanya, dan keluarganya saat ini pasti tengah menangisinya’.” (HR. Bukhari, no. 3978)

Hadits ke-56
أخبرني الحسن بن حليم المروزي أنبأ أبو الموجه أنبأ عبدان أنبأ عبد الله أنبأ سفيان عن عاصم عن زر عن بن مسعود رضى الله تعالى عنه قال يؤتى الرجل في قبره فتؤتى رجلاه فتقول رجلاه ليس لكم على ما قبلي سبيل كان يقوم يقرأ بي سورة الملك ثم يؤتى من قبل صدره أو قال بطنه فيقول ليس لكم على ما قبلي سبيل كان يقرأ بي سورة الملك ثم يؤتى رأسه فيقول ليس لكم على ما قبلي سبيل كان يقرأ بي سورة الملك قال فهي المانعة تمنع من عذاب القبر وهي في التوراة سورة الملك ومن قرأها في ليلة فقد أكثر وأطنب
Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Akan dihadirkan seseorang di dalam kuburnya maka didatangkan kakinya maka kakinya berkata orang ini bukan untukmu (engkau tidak bisa menyiksa orang ini) karena dahulu ia bangun dan membaca bersamaku Surat Al-Mulk kemudian Dihadirkan bagian dadanya –atau beliau berkata- bagian perutnya lalu bagian itu berkata orang ini bukan untukmu karena dulu sebe dia membaca bersamaku Surat Al-Mulk kemudian dihadirkan bagian kepalanya maka kepala itu berkata orang ini bukan untukmu karena dulu dia membaca Surat Al-Mulk” Ibnu Mas’ud berkata “maka Surat Al-Mulk adalah pencegah yang akan menghalangi dari siksa kubur dan di dalam taurat dinamakan Surat Al-Mulk, dan siapa yang membacanya pada malam hari maka telah banyak berbuat kebaikan”. (HR. Hakim, no. 3839)

Hadits ke-57
حدثنا محمد بن المثنى العنـزي وأبو معن الرقاشي وإسحاق بن منصور. كلهم عن أبي عاصم. واللفظ لابن المثنى. حدثنا الضحاك (يعني أبا عاصم) قال: أخبرنا حيوة بن شريح. قال: حدثني يزيد بن أبي حبيب، عن ابن شماسة المهري، قال:
حضرنا عمرو بن العاص وهو في سياقة الموت. فبكى طويلا وحوله وجهه إلى الجدار. فجعل ابنه يقول: يا أبتاه أما بشرك رسول الله صلى الله عليه وسلم بكذا ؟ أما بشرك رسول الله صلى الله عليه وسلم بكذا ؟ قال فأقبل بوجهه فقال: إن أفضل ما نعد شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله. إني قد كنت على أطباق ثلاث. لقد رأيتني وما أحد أشد بغضا لرسول الله صلى الله عليه وسلم مني. ولا أحب إلي أن أكون قد استمكنت منه فقتلته. فلو مت على تلك الحال لكنت من أهل النار. فلما جعل الله الإسلام في قلبي أتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: ابسط يمينك فلأبايعك. فبسط يمينه. قال فقبضت يدي. قال “مالك يا عمرو؟” قال قلت: أردت أن أشترط. قال” تشترط بماذا؟” قلت: أن يغفر لي. قال” أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله؟ وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها؟ وأن الحج يهدم ما كان قبله؟” وما كان أحد أحب إلي من رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا أجل في عيني منه. وما كنت أطيق أن أملأ عيني منه إجلالا له. ولو سئلت أن أصفه ما أطقت. لأني لم أكن أملأ عيني منه. ولو مت على تلك الحال لرجوت أن أكون من أهل الجنة. ثم ولينا أشياء ما أدري ما حالي فيها. فإذا أنا مت، فلا تصبحني نائحة ولا نار. فإذا دفنتموني فشنوا علي التراب شنا. ثم أقيموا حول قبري قدر ما تنحر جزور. ويقسم لحمها. حتى أستأنس بكم. وأنظر ماذا أراجع به رسل ربي.
Dari Ibnu Syisamah Al Mahri, dia berkata: “Kami mendatangi Amru bin ‘Ash radhiyallahu sebelum menjelang kematiannya, tiba-tiba ia menangis sangat lama dan memalingkan wajahnya ke dinding sehingga putranya berkata, “Wahai ayah! Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan keadaanmu saat ini?” Kata Ibnu Syimasah, “Kemudian Amru bin Ash membalikkan wajahnya dan berkata, “Sesungguhnya yang paling utama menurut saya adalah persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sungguh saya dahulu berada pada tiga keadaan. Sesungguhnya saya menilai, bahwasanya tidak ada seorangpun yang melebihi kebencianku terhadap Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam dan tidak ada seorangpun yang lebih senang dari saya, kalau saya berhasil menangkap dan membunuhnya. Kalaulah saya mati seperti itu, maka pasti saya tergolong penghuni neraka. Namun tatkala Allah menanamkan Islam di hati saya, lalu saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya berkata, “Sodorkan tanganmu maka saya akan membaiatmu.” Nabipun menyodorkan tangan kanannya (sebagai tanda beliau menerimanya), lalu saya menggenggamkan tanganku. Beliau bertanya, “Ada apa wahai ‘Amru?” Ibnu Syimasah berkata, “Amru menjawab, ‘Saya ingin meminta syarat.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang kamu syaratkan? saya menjawab, ‘Hendaklah saya diampuni,’ Beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya Islam itu melebur dosa-dosa sebelumnya, bahwa hijrah (ke agama Islam) itu melebur dosa-dosa sebelumnya, dan bahwa ibadah haji itu melebur dosa-dosa sebelumnya?.’ (Sejak itu) Tidak ada seorangpun yang melebihi kecintaanku padanya dan tidak ada seorangpun yang lebih mulia menurut saya dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta saya tidak mampu memenuhi ruang mata saya dengan diri Rasulullah karena saya mengagungkannya. Seandainya saya dimintai untuk menyifatinya niscaya saya tidak akan mampu, karena saya tidak bisa memenuhi ruang mata saya dengan diri beliau. Kalaulah saya mati dalam keadaan seperti itu pasti saya berharap menjadi penghuni surga. Kemudian saya diberi beberapa hal yang tidak saya ketahui bagaimana keadaan saya di dalam hal tersebut. Kalau saya mati janganlah kamu iringi dengan ratapan dan api. Jika kamu mengubur saya uruklah dengan tanah, lalu berdoalah di sekitar kuburanku kira-kira selama hewan kurban disembelih dan dibagikan dagingnya, sehingga saya merasa tenang terhadap apa yang kamu lakukan dan saya bisa mengetahui untuk menjawab (pertanyaan) para utusan Tuhan.(HR. Muslim, no. 121)

Hadits ke-58
حَدَّثَنِى عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَ بْنِ سَعِيدٍِ أَنَّهُ قَالَ سَمِعتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ صَلَّيتُ وَرَائَ أَبِى هُرَيْرَةَ عَلَى صَبِىٍِّ لَمْ يَعْمَلْ خَطِيئَةًَ قَطُّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ
Yahya bin Sa’id memeberitahukanku, dia berkata ‘sesungguhnya aku telah mendengar Sa’id bin Musayyab berkata ‘Aku pernah Sholat di belakang Abu Hurairah Radhiallahu’anhu untuk anak kecil yang belum berbuat dosa dan aku mendengarnya berkata “Ya Allah, Lindungilah dia dari siksa kubur”(HR. Malik dalam Muwattha’; kitab Al-Jana’iz, hadits no. 533; Hishnul Muslim, no. 160)

Hadits ke-59
حدثنا العباس بن عبد العظيم ومحمد بن المثنى قالا ثنا عبد الملك بن عمرو عن عبد الجليل بن عطية عن جعفر بن ميمون قال حدثني عبد الرحمن بن أبي بكرة أنه قال لأبيه يا أبت إني أسمعك تدعو كل غداة اللهم عافني في بدني اللهم عافني في سمعي اللهم عافني في بصري لا إله إلا أنت تعيدها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي فقال إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعو بهن فأنا أحب أن أستن بسنته قال عباس فيه وتقول اللهم إني أعوذ بك من الكفر والفقر اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر لا إله إلا أنت تعيدها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي فتدعو بهن فأحب أن أستن بسنته قال وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم دعوات المكروب اللهم رحمتك أرجو فلا تكلني إلى نفسي طرفة عين وأصلح لي شأني كله لا إله إلا أنت
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah bahwa ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar kamu berdo’a setiap pagi, “Ya Allah Ya Tuhanku perbaikiliah aku dalam tubuhku Ya Allah Ya Tuhanku perbaikiliah aku dalam pendengaranku, Ya Allah Ya Tuhanku perbaikiliah aku dalam pandangan hatiku, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, kamu mengulanginya tiga kali ketika pagi dan tiga kali pada sore hari’. Kemudian ayahku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam membacanya oleh karena itu aku ingin senantiasa mengikuti sunnah beliau'” dan dalam tambahan riwayat, “Kamu membaca, Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kemiskinan, Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindungkepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan kecuali engkau’ kamu mengulanginya tiga kali ketika pagi dan tiga kali pada sore hari, kemudian kamu berdo’a dengannya, maka aku ingin mengikuti Sunnah beliau. Ia berkata, “Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Do’a-do’a orang yang terkena musibah, “Ya Allah ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau menyerahkan urusanku kepada diriku sendiri sekejap matapun, dan perbaikilah seluruh keadaanku, tidak ada tuhan kecuali Engkau”” (HR. Abu Dawud, no. 5090; Hishnul Muslim, no. 82)

Hadits ke-60
حدثنا محمد بن بشار حدثنا أبو عاصم حدثنا سفيان الشحام حدثني مسلم بن أبي بكرة قال سمعني أبي وأنا أقول اللهم إني أعوذ بك من الهم والكسل وعذاب القبر قال يا بني ممن سمعت هذا قلت سمعتك تقولهن قال الزمهن فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولهن
Muslim bin Abu Bakrah berkata, “Ayahku mendengar ketika aku mengatakan, ‘ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan, kemalasan, dan siksa kubur’. Ayahku berkata, ‘Duhai anakku, dari siapa engkau mendengar do’a ini?* Aku menjawab, ‘Aku mendengar darimu ketika engkau mengucapkannnya.’ Ayahku berkata, ‘Bacalah selalu do’a itu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam selalu membacanya”. (HR. Tirmidzi, no. 3503)

*** Wallahu A’lam ***

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    November 2011
    S S R K J S M
    « Sep   Des »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
%d blogger menyukai ini: