“I’tikaf” Sunnah Ramadhan yang Teabaikan

Ramadhan semakin menjauh, Syawal semakin menjelang. Para perantau dan pendatang sibuk dengan tiket mudiknya. Para buruh dan karyawan masih sibuk mencari dana demi membeli baju lebaran anak dan istri. Para Istri sibuk dengan persiapan kue lebarannya. Para mahasiswa dan siswa sibuk memikirkan kapan libur dan kapan pulang kampung. Inilah Fenomena Ramadhan yang selalu berulang setiap tahunnya.

Ramadhan semakin menipis, padahal ia hanya ada sekali dalam setahun, padahal di sini pintu kebaikan terbuka lebar, di sini para Syetan dibelenggu, di sini puntu neraka tertutup rapat sebagaimana dalam hadits berikut:
إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة
“Apabila tiba awal bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintupun yang ditutup, lalu penyeru menyerukan, ‘Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Alloh juga mempunyai pembebas-pembebas dari neraka. Hal itu terjadi pada tiap malam” (HR Tirmidzi no. 682)

Ketika memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, shaf di mesjid-mesjid mulai mengalami kemajuan dengan kata lain jama’ahnya semakin berkurang. Padahal, di malam-malam terakhir inilah Suri Taudalan kita Rasul yang mulia Sholallahu’alaihi wa sallam meningkatkan ‘amal Ramadhannya dengan cara I’tikaf di Mesjid. Hal ini berdasarkan Hadits:
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Dari Aisyah Rodhiallahu’anha, istri Nabi, bahwa Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Alloh mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri belau melakukan I’tikaf sesudahnya (HR Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu’anha juga berkata,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا دخل العشر، أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر
“Jika tiba sepuluh hari yang terakhir, beliau Sholallahu’alaihi wa sallam menghidupkan malam (untuk beribadah), membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh (beribadah) serta mengencangkan kainnya” (HR. Muslim no. 1174)

Di malam ini Alloh subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hambanya satu malam yang apabila kita beribadah sungguh-sungguh pada malam itu lebih baik daripada 1000 bulan sebagaimana firman-Nya:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu lebih baik dari seribu bulan” (Q.S Al-Qadr: ayat 3)

Rasulullah memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mencari malam ini, berdasarkan hadits:

“إني اعتكفت العشر الأول. ألتمس هذه الليلة. ثم اعتكفت العشر الأوسط. ثم أتيت. فقيل لي: إنها في العشر الأواخر. فمن أحب منكم أن يعتكف فليعتكف”
“Sungguh aku telah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari Lailatul Qadar, kemudian aku beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahannya, kemudian aku didatangi oleh malaikat dan dikatakan padaku bahwa Lailatul Qadar ada pada sepuluh hari terakhir, maka siapa di antara kalian ingin beri’tikaf, beri’tikaflah” (HR Muslim no. 1167)

Bila kita beribadah di malam ini yang dirahasiakan Alloh diantara 10 malam terakhir, maka semua dosa kita akan diampuni oleh Alloh ‘Azza wa Jalla, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah:
من صام رمضان وقامه إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan menegakkan (ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosanya yang telah lampau. Barangsiapa menegakkan (ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau” (HR. Tirmidzi no.683)

Sesungguhnya kita tidak pernah diberitahu tentang kepastian kapan jatuhnya Malam Lailatul Qadar ini, karena memang Rasulullah tidak menyebutkannya, berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudry:

“يا أيها الناس ! إنها كانت أبينت لي ليلة القدر وإني خرجت لأخبركم بها. فجاء رجلان يحتقان معهما الشيطان. فنسيتها. فالتمسوها في العشر الأواخر من رمضان ….”
“Saudara-saudara! Sungguh telah dijelaskan kepadaku tentang Lailatul Qadar, dan aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang hal itu. Namun kemudian datang dua orang yang sama-sama mengaku benar sedangkan mereka ditemani oleh syetan. Sehingga Lailatul Qadar terlupakan olehku. Maka carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan….”(HR Muslim no. 1167)

Kesimpulannya, bagi kita yang masih diberikan kesempatan dan kemudahan dalam beribadah di bulan yang mulia ini. Maka gunakanlah 10 malam terkahir ini untuk bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan I’tikaf dalam rangka bertaqarrup kepada Alloh, bermanja-manja dengan Alloh ‘Azza wa Jalla, bertobat atas segala dosa yang telah kita lakukan dan senantiasa berdo’a untuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat khususnya.


اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌُّ كَرِيْمٌُ تٌحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
Ya Alloh, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah yang suka memberikan ampunan. Maka, ampunilah kami……

Wallahu’alam

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Agustus 2011
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
%d blogger menyukai ini: