Kelemahan Hadits Nifsu Sya’ban

حدثنا الحسن بن علي الخلال ثنا عبد الرزاق أنبأنا بن أبي سبرة عن إبراهيم بن محمد عن معاوية بن عبد الله بن جعفر عن أبيه عن علي بن أبي طالب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر لي فأغفر له ألا مسترزق فأرزقه ألا مبتلي فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر

“Al Hasan bin Ali Al Kholal memberitahu kami, dari Abdul Rozak, Ibnu Abi Sabrah mengabarkan kepada kami dari Ibrohim bin Muhammad dari Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far dari ayahnya dari Ali bin Abi Tholib ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika malam nisfu Sya’ban datang, maka sholatlah dimalam harinya dan puasalah pada siang harinya karena sesungguhnya Allah pada saat itu bersamaan dengan tenggelamnya matahari turun ke langit dunia seraya berkata: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku sehingga Aku ampuni, adakah orang yang meminta rizki kepada-Ku sehingga Aku beri kepadanya rizki, adakah orang yang sakit sehingga Aku sembuhkan, adakah orang yang begini dan begini hingga terbit fajar. ” (H R. Ibnu Majah No 1388)

Hadits ini, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1388), Ibnul Jauzy dalam “Al -‘Ilal” (2/561) dan Al-Baihaqy dalam “Fadhoilul Auqot” (24), dan “Syu’abul Iman” (no.3822). Tetapi dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abu Bakr bin Muhammad bin Abi Sabrah, dia adalah seorang rowi yang dho’if (lemah) menurut kesepakatan para Ulama. Ibnu Rajab berkata di dalam “Latho’iful Ma’arif” (1423): “Sanadnya dho’if”,

Hadits ini sanadnya maudhu (palsu). Didalamnya ada perawi yang bernama Ibnu Abi Sabrah ia dituduh pemalsu hadits sebagaimana diungkapkan oleh imam Ibnu Hajar AI Asqalani dalam Taqrib. (Lihat Silsilah Ahadits Dhaifah No 2132)

Imam al Haitsami menyebutnya sebagai matruk (haditsnya ditinggalkan/semi palsu) (Majma’ Az Zawaid, 1/213), dan kadzab (pendusta). (Ibid, 6/268)

Pentahqiq Tahdzibul Kamal, yakni Dr. Basyar ‘Awad Ma’ruf mengatakan bahwa Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in menyebut Ibnu Abi Sabrah sebagai pemalsu hadits.

Shalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal berkata: “Bapakku berkata kepadaku bahwa Ibnu Abi Sabrah adalah pemalsu hadits.” (Al Jarh wat Ta’dil, 7/ 306)

Imam Zainuddin Al ‘Iraqi mengatakan dalam Takhrijul Ihya’, bahwa hadits ini bathil dan sanadnya dha’if. (Takhrij Ahadits Al Ihya’ No. 630)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan dalam kitabnya Iqtidha’ Sirathil Mustaqim (2/138):

“Adapun mengkhususkan puasa pada hari nisfhu sya’ban, maka tidak ada dasarnya, bahkan harom. Demikian juga menjadikannya sebagai perayaan, dengan membuat makanan dan menampakkan perhiasan, semua ini merupakan perayaan-perayaan bid`ah yang tidak berdasar sama sekali. Termasuk pula berkumpul untuk melakukan shalat Al-fiyyah di masjid-masjid, karena meksanakan sholat sunnah pada waktu, jumlah rokaat, dan bacaannya tertentu, yang tidak disyariatkan maka hukumnya harom.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Wallohu A’lam

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Juli 2011
    S S R K J S M
    « Jun   Agu »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
%d blogger menyukai ini: