Seharusnya Kita Malu

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

[رواه البخاري ]

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari)

Ajaran para nabi, sejak nabi pertama hingga nabi terakhir, ada yang sudah sirna dan ada yang tidak. Di antara ajaran yang tidak pernah sirna adalah rasa malu. Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama. Rasa malu selalu terpuji dan dipandang baik. Oleh karena itu harus mendapat perhatian yang mendalam.

Sabda Beliau Sholallahu’alaihi wasallam “Berbuatlah sekehendakmu” mengandung dua pengertian yaitu:

1. Ancaman dan peringatan keras, bukan sebagai perintah sebagaimana sabda beliau:

“Lakukanlah sesuka kamu”(HR. Bukhari No.2785).

Hadis ini berarti ancaman sebab kepada mereka (Para sahabat yang menerima hadis ini) sudah diajarkan apa yang harus dijalankan dan apa yang harus ditinggalkan. Demikian juga sabda Nabi Sholallahu’alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang menjual khamr maka hendaklah ia memotong-motong daging babi”(HR. Abu Daud No. 3027).

Ini tidak berarti bahwa beliau membenarkan hal semacam itu.

2. Berita agar melakukan apa saja yang kamu tidak malu melakukannya seperti halnya sabda Nabi Sholallahu’alaihi wasallam:

“Malu itu sebagian dari iman” (HR. Muslim No. 52).

Maksud malu di sini adalah malu yang dapat menjauhkan dirinya dari perbuatan keji dan mendorongnya berbuat kebajikan. Demikian juga bila malu dapat mendorong seseorang meninggalkan meninggalkan perbuatan keji dan kemudian melakukan perbuatan-perbuatan baik maka malu di sini sederajat dengan iman karena kesamaan pengaruhnya pada seseorang.

Dalam hadis lain yang datang dari Imran bin Husaini Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam bersabda:”Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan” (HR. Muslim No.53)

Maka, jika sesuatu itu bisa mendatangkan kebaikan pada seseorang maka keimanan seseorang tersebut akan meningkat, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu’alaihi wasallam dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:” Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman”. (HR. Muslim No.50)

Dengan merujuk kepada hadis-hadis di atas, jelaslah bagi kita bahwa sifat malu harus tertanam dalam diri kita sebagai seorang muslim yang tunduk dan taat dalam perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kepada Presiden saja yang masih manusia biasa kita malu ketika kita berbuat jahil di depannya, apalagi Allah yang menciptakan Presiden tersebut. Seharusnya kita malu kepada Allah yang selalu melihat, mendengar, mengetahui gerak gerik kita.

Mudah-mudahan sifat malu senantiasa tertanam dalam diri kita terutama malu kepada Allah ketika kita harus bermaksiat dan menentang syariat-Nya. Wallahu A’lam.

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kajian.Net
  • Kategori

  • rindusunnah.com
  • Calendar

    Juli 2010
    S S R K J S M
    « Jun   Agu »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
%d blogger menyukai ini: